Sesungguhnya Bagaimanakah Melakoni Kehidupan yang Benar? Ikuti Arus atau Melawan Arus ?

buku soul awareness Pusat Rehabilitasi

Ilustrasi Berbagai Program pada Pusat Rehabilitasi. Dunia ini pun adalah Pusat Rehabilitasi Jiwa?

“Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa. Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita. Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri, karena itu, mencari kesalahan dan menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian yang menimpa diri kita adalah dosa. Silahkan berupaya untuk keluar dari masalah, untuk menyelesaikan perkara, tetapi bukan dengan mencari kambing hitam, bukan dengan cara menyalahkan orang lain.” Demikian kutipan dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita telah mulai berupaya melakukan Yoga Sadhana secara rutin: disamping mencari nafkah dan membina rumah tangga, maka kegiatan meditasi, japa (zikir), latihan yoga, membaca buku, berbagi berkah dan tindakan-tindakan lain kita lakoni sebagai bagian dari gaya hidup kita sehari-hari. Selanjutnya dari kutipan di atas kita paham bahwa dunia ini adalah Pusat Rehabilitasi Jiwa kita. Setelah itu semua……..

Bagaimana cara melakoni Kehidupan yang Benar?

Ikuti Arus Kehidupan; Jangan Menghakimi; Jangan bertindak sembrono (pilihlah tindakan yang tepat, mulia jangan memilih tindakan tidak tepat hanya menyenangkan indra/tubuh belaka); baru setelah itu melampauinya?????

Silakan ikuti penjelasan cara melakoni kehidupan seperti kutipan dari buku Soul Awareness di bawah ini……

buku soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Tanpa pertentangan, alam semesta ini tidak akan bertahan. Panas dan dingin, siang dan malam, suka dan duka, hitam dan putih, baik dan buruk, kelahiran dan kematian……. Pertentangan-pertentangan itu yang menyebabkan adanya alam. Kamu harus menyadarinya dan melampauinya.”

Melampaui pertentangan-pertentangan itu?

“Ya.”

Jadi, tidak selamanya kita harus mengikuti arus, harus mengalir bersama sungai kehidupan sebagaimana kamu jelaskan sebelumnya?

“Ya dan tidak. Ya karena memang kamu harus mulai dengan tidak melawan arus. Tidak melawan arus untuk melampaui arus itu sendiri.”

Bagaimana dapat kulakukan itu?

“Jangan, jangan Menghakimi. Semua itu terjadi karena memang harus terjadi demikian. Tetapi pada saat yang sama, jangan pula bertindak sembrono tanpa memilah mana yang tepat untuk dilakukan, dan  mana yang tidak. Sekuntum bunga adalah bunga karena ia memang bunga. Tetapi bunga mawar adalah mawar, dan melati adalah melati. Demikian pula bunga bunga lain. Semua sama-sama indah, tidak perlu dihakimi mana yang lebih indah. Pilihlah sesuai dengan apa yang kamu anggap, apa yang dalam persepsimu adalah yang paling indah, dan paling kamu sukai.”

Aku bingung.

“Tentu, karena kita masih berada dalam alam yang penuh dengan pertentangan.”

Bagaimana melampauinya? Apa ciri khas orang yang melampauinya?

“Pelampauan tidak dapat dijelaskan, tidak dapat diuraikan, tetapi dapat dirasakan. Ia yang telah melampaui semua akan menganggap hidup sebagai permainan. Ia akan merayakan kehidupan, akan menikmatinya. Cara melampauinya? Dengan mengenal jati diri sebagai percikan Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya tidak pernah terpisahkan dari-Nya.”

 

Menikmati kehidupan bukan berarti menjadi kaya raya, mengendarai mobil mewah, memiliki rumah yang besar. Tidak. Anda dapat menikmati kehidupan dengan atau tanpa benda-benda yang dapat Anda peroleh dari dunia ini.

 

Saya Mengatakan “Dengan atau Tanpa” karena memang demikian adanya. Kenikmatan yang saya maksudkan itu berasal dari diri Anda sendiri. Namun, penjelasan saya pun tidak akan banyak membantu Anda. Anda harus mengalaminya.

First thing first: Mulailah dengan langkah pertama. Ikutilah arus kehidupan, tanpa menghakimi. Namun bukan tanpa memilah mana yang tepat, mana yang mulia, dan mana yang tidak tepat, mana yang tidak mulia.

Untuk itu, terimalah kehidupan ini sepenuhnya, apa adanya. Di sini ada kebaikan, kebajikan, positivisme, ada kejahatan, kebatilan, negativisme. Dengan mengenal sifat keberadaan yang penuh pertentangan, kita baru dapat memilah mana yang tepat bagi kita, kemudian melampauinya. Bagaimana melampaui arus kehidupan, kalau belum melewatinya?

Kelahiran dan kematian merupakan titik-titik pemisah yang membedakan satu masa kehidupan dan masa kehidupan yang Iain. Apabila kita sudah dapat menyadari hal itu, kita tidak akan gelisah lagi menghadapi kematian.

 

Kemudian, Lenyapnya Kegelisahan membuktikan bahwa diri kita sedang mengalami evolusi. Begitu tidak takut mati lagi, kita akan berhenti mencari obat-obat anti-penuaan dan sebagainya.

Oh ya, seseorang yang telah menyadari dirinya sebagai Jiwa, akan mengurusi badannya, akan merawat indra-indranya, bak merawat kendaraan. Namun tidak akan menyemir, mengecat rambut lagi. Ia akan menerima penuaan serta bertambahnya usia dengan bangga. Seorang lanjut usia pun tetap anggun! Kenapa tidak?

Bagi orang seperti itu, kematian tidak lagi menakutkan. Jika maut, jika kematian sudah tidak menakutkan, kita pun terbebas dari cengkeraman maut. Kita terbebas dari rasa takut yang tak beralasan. Karena sesungguhnya hanyalah badan yang mengalami perubahan, Jiwa abadi adanya. Saat itu, kita terbebas dari segala kepalsuan. Kita mencapai Kebenaran, atau, lebih tepatnya, menyadari Kebenaran Diri, Kesadaran Diri.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s