Berfilsafat Moksa atau Sunya Bentuk Pelarian? Perlu Sadhana Seumur Hidup Mewujudkannya!

buku dvipantara yoga sastra sunya dan moksa

Ilustrasi Persamaan Antara Moksa dan Sunya.

Tergila-gila, terobsesi, dan kecanduan terhadap gagasan tentang kehampaan, kecanduan berfilsafat tentang moksa bahkan seorang yang tercerahkan, seorang praktisi-ahli disiplin Yoga, bisa mengalami kejatuhan.

Inilah lanjutan dari Catatan “11 Obsesi yang Menjatuhkan Kesadaran” pada Tautan: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/05/26/11-obsesi-yang-menjatuhkan-kesadaran-termasuk-memelihara-hewan/

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

KECANDUAN TERHADAP GAGASAN TENTANG KEHAMPAAN — ini adalah peringatan kepada kita yang kecanduan berfilsafat tentang kehidupan.

Sunya atau Kehampaan, Nol — adalah cara lain untuk memandang salah satu tujuan hidup, e.e. Moksa atau Kebebasan Mutlak, Kebebasan Total.

Moksa adalah akhir atau ksaya dari moha — segala keterikatan, ketergila-gilaan, dan delusi.

Baik Sunya dan Moksa sesungguhnya merujuk pada pengalaman yang satu dan sama. Analogi berikut ini mungkin bisa menjadikan pemahaman kita lebih jelas……

 

UMPAMAKAN ANDA MEMILIKI SEGELAS AIR, DAN ANDA MENUANGKAN AIR TERSEBUT KE LAUT. Apa yang terjadi pada air dalam gelas? Airnya sudah tidak ada lagi, gelasnya kosong. Kosong, tidak ada apa-apa, Hampa — inilah Sunya. Jika kita melihat pada gelas yang kosong, kita akan menyimpulkan bahwa tidak ada sesuatu di dalamnya.

Nah, bila kita mengubah sudut pandang atau perspektif kita……

Kita melihatnya dari sudut pandang 200 ml air yang “sebelumnya” ada dalam gelas — ia terpenjara, katakan demikian, oleh gelas tersebut.

Ketika kita menuangkan air tersebut ke laut — air yang sama ini terbebaskan dari penjara tersebut. Air dalam gelas terbebaskan — ia menyatu dengan laut. Inilah Moksa — Kebebasan Mutlak.

 

SEBAGAI SALAH SATU DARI EMPAT TUJUAN KEHIDUPAN – tiga yang lain adalah Dharma atau Kebajikan, Kama atau Keinginan, dan Artha atau Harta — kita telah membahas hal ini dalam transkreasi kita tentang Sara-Samuccaya, kitab yang paling populer dan paling dihormati oleh masyarakat Bali – Sunya atau Moksa adalah sesuatu untuk diperjuangkan. Sesuatu untuk diupayakan.

Diperlukan Sadhana seumur hidup — laku spiritual seumur hidup — untuk mewujudkan tujuan khusus ini. Dibutuhkan upaya nyata. Dengan kata lain, ini bukan sekadar filosofi atau konsep untuk didiskusikan.

Peringatan yang diberikan dalam ayat ini adalah untuk kita yang telah mengerdilkan Sunya atau Moksa sebagai konsep. Peringatan ini adalah untuk mereka yang terlalu malas berupaya – malas menggerakkan fisik, mind, dan intelek untuk mewujudkan hal tersebut — dan memilih olahraga mental/intelektual belaka.

 

KITA SERING MENJUMPAI ORANG-ORANG YANG HIDUP DALAM DELUSI bahwa begitu mereka mengetahui tentang Sunya atau Moksa, mereka tidak berurusan lagi dengan dunia.

Jika sekadar pengetahuan tentang Sunya atau Moksa sudah cukup untuk membebaskan kita dari rantai dunia — maka seharusnya kita langsung mati setelah memperoleh pengetahuan tersebut.

Kenyataan bahwa walaupun “berpengetahuan” kita masih hidup, membuktikan bahwa pengetahuan semata tidak cukup. Jadi, kecanduan pengetahuan tentang Sunya atau Moksa, kecanduan pada imajinasi, halusinasi, dan delusi bahwa kita bebas — tidak membantu diri kita. Sesungguhnya, kita mencelakakan diri kita sendiri.

 

SESUNGGUHNYA ADALAH ORANG-ORANG MALAS, para pemalas, yang berusaha menyembunyikan kemalasan mereka di balik omong besar tentang Sunya dan Moksa, “Apa gunanya dunia ini, apa gunanya kenyamanan duniawi, semuanya hampa, Sunya. Apa tubuh, apa pula mind – semuanya Sunya!

Ucapan yang bagus.

Jadi berikutnya apa? Lepaskan tubuh. Itu tidak ada gunanya, kan? Kita melihat orang-orang yang berceramah tentang hal ini kecanduan makanan — mereka makan berlebihan. Kita melihat mereka kecanduan tidur — mereka tidur berlebihan. Kita melihat mereka terlalu malas bangun pagi untuk bekerja dan membenarkan kemalasan mereka dengan berkata, “Apa pula waktu? Semuanya Sunya. Pada siang hari, ketika energi di sekitarku begitu tercemar oleh kehadiran orang-orang yang tersesat dengan hal duniawi — aku merasa terbakar. Aku tidak bisa bekerja. Jadi, aku tidur. Saaat malam, setelah jam 10 malam, ketika kebanyakan orang-orang duniawi telah tidur – aku merasakan kedamaian dalam diri. Jadi aku bisa bekerja selama beberapa jam.”

 

NASIHAT SANG RESI UNTUK ORANG-ORANG TERSEBUT ADALAH, “Jadilah petugas jaga malam, atau bergabunglah dengan saudara-saudaramu, burung hantu dan kelelawar.”

PESTA, TERMASUK PERAYAAN YANG TERKAIT DENGAN SISTEM KEPERCAYAAN KITA — kebanyakan perayaan tersebut hanya memiliki sedikit atau tanpa nilai spiritual apa pun. Kita “kecanduan” perayaan-perayaan tersebut, karena bersifat perayaan.

Begadang semalaman dianggap tindakan yang religius semata-mata karena tradisi belaka. Selama begadang tersebut, kita sering terlibat perjudian, minum minuman beralkohol, menonton film atau pertunjukan tanpa nilai-nilai spiritual, dan lain-lain.

Agama sering diciutkan menj adi sebuah “alasan”, sebuah pembenaran untuk pesta pora.

 

TIDUR – ADA ORANG-ORANG YANG TIDUR lebih dari 10-12 jam setiap hari. Saya memiliki pengalaman pribadi dengan orang-orang yang bangun tidur setelah pukul 11 pagi.

Dan tahukah Anda bahwa tidak semua dari mereka adalah anak-anak orang kaya raya yang mampu menyediakan kemewahan bodoh seperti itu. Banyak dari mereka adalah anak dari orangtua yang berjuang. Mereka tidak peduli bahwa ayah mereka bangun jam 5 pagi dan mulai bekerja pagi-pagi. Mereka juga tidak peduli bahwa ibu mereka masih harus banting tulang dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kecanduan pada kemalasan hewani, mereka melakoni kehidupan “tidak manusiawi” tanpa tanggung jawab.

 

DAERAH PEGUNUNGAN — pemikiran seperti, “Saya hanya bisa meditasi ketika lingkungannya sangat tenang, permai, dan penuh keindahan…..”  Ini bukanlah meditasi.

Meditasi hendaknya membebaskan kita dari segala kecanduan dan kondisi. Jika harus memiliki kondisi “eksternal” tertentu sebelum bisa meditasi — maka, kita telah menyalahpahami konsep dasar meditasi.

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan daerah pegunungan. Tidak ada yang salah dengan memiliki atau mengunjungi asram di pegunungan. Namun, jelas salah jika kita hanya bisa meditasi di pegunungan.

Kata “gunung” di sini hendaknya diterjemahkan sebagai “kondisi tertentu”. Ada orang-orang yang hanya bisa meditasi, ketika “musiknya tepat”, atau “aroma dupanya tepat”. Semua kondisi tersebut adalah ketergantungan, sehingga tidak dibutuhkan, atau malah sesungguhnya tidak membantu.

 

TERIKAT DENGAN RUMAH DAN KENYAMANAN RUMAH ADALAH JENIS KECANDUAN YANG LAIN. Beberapa dari kita begitu terikatnya dengan rumah dan kenyamanan rumah, sehingga mengganggu diri kita ketika berkunjung ke kota lain, negara lain, bahkan untuk sesaat saja.

Mari kita pahami kecanduan ini.

Mari kita pahami sifat sejati dan dampak dari kecanduan ini.

Ada orang-orang yang telah tinggal di luar negeri kelahiran mereka selama bertahun-tahun tetapi mereka tetap begitu terikat dengan negeri asal mereka sehingga tidak berupaya sama sekali untuk memahami kebudayaan orang-orang di negeri tempat mereka tinggal. Mereka tidak bicara bahasa negeri tersebut. Mereka tidak makan makanan negeri tersebut dan tetap makan makanan negeri asal mereka. Semua ini menunjukkan keterikatan, kecanduan.

 

KEMUDIAN, ADA ORANG-ORANG YANG BEGITU TERIKAT DENGAN KELUARGA MEREKA, sehingga mereka akan rnelakukan apa pun, termasuk mencelakakan dan menyakiti orang lain demi orang-orang mereka “sendiri”.

“Benar atau salah, bagaimanapun juga ia adalah anakku. Aku harus melindunginya.” Ini adalah pemikiran yang keliru. Ini adalah kecanduan. Ini bahkan tidak membantu anak yang mau kita lindungi. Seberapa lama kita bisa melindungi anak kita? Tidakkah mereka harus mandiri dan melindungi diri mereka sendiri? Dengan melindungi mereka secara berlebihan, kita tidak mendidik, malah memanjakan mereka.

 

KETERIKATAN PADA RUMAH DAN KECANDUAN PADA KENYAMANAN RUMAH bisa berupa berbagai bentuk dan rupa.

Saya sering menjumpai orang-orang yang begitu terikat dengan “kerapian dan kebersihan” ruang keluarga mereka, sampai-sampai tidak pernah digunakan. Ruang keluarga mereka menjadi barang pameran — dekorasi. Jangan disentuh — barang pecah belah! Gunakan ruang keluarga sebagai ruang keluarga, itu bukanlah lemari pamer.

Satu hal lagi agar kita tidak salah paham……

 

TIDAK KECANDUAN DENGAN RUMAH DAN KENYAMANAN RUMAH TIDAK BERARTI bahwa kita tidak peduli dengan rumah kita, dengan kenyamanan rumah, dan mereka yang tinggal bersama kita — anggota keluarga kita.

Sesungguhnya, hanyalah ketika kita menyingkirkan keterikatan dan kecanduan barulah kita bisa “sungguh” peduli dengan mereka. Keterikatan dan kecanduan menjadikan kita buta, pandangan kita kabur. Kita gagal melihat apa yang baik bagi keluarga kita sendiri. Kita menyalahartikan “keterikatan berbahaya” yang memanjakan anak-anak kita sebagai perhatian dan cinta.

Jadi nasihat sang resi adalah: Singkirkan segala kecanduan dan keterikatan untuk menjadi attentive, penuh perhatian, mencintai, dan sungguh peduli.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s