Seranjang dengan 3 Istri atau 3 Suami Berbeda Sifat? Neraka pun Kalah Panas? Viveka Solusinya!

buku yoga sutra patanjali Dasharatha_give_Payasa_to_his_wives

Dasaratha ayah Rama mempunyai 3 istri dan akhirnya mati sakit hati dengan ulah salah satu istri yang menyingkirkan Rama, putra mahkota kesayangannya. Gambar sumber Wikipedia.

Bayangkan Anda memiliki 3 orang pasangan—ya, 3 orang pasangan (analogi lain tidak cocok) untuk hidup bersama mereka. Dan, ketiganya pasangan yang sah, bukan “simpanan”. Anda hidup bersama mereka dalam satu rumah, di bawah satu atap—dan ini tidak kalah penting, tidur bersama di atas ranjang yang satu dan sama. Namanya juga pasangan! Nah dengan berpasangan 3 orang, sesungguhnya Anda sudah mengundang neraka. Suhu dalam rumah Anda sudah lebih tinggi, lebih panas daripada suhu di neraka. Percayalah! Seperti inilah keadaan kita semua……….

Silakan simak Penjelasan Yoga Sutra Patanjali berikut:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

parinama tapa samskara duhkhaih guna-vrtti-virodhacca

duhkham-eva sarvam vivekinah

“Mereka yang telah mengembangkan viveka atau kemampuan untuk memilah (antara kebahagiaan sejati yang berasal dari Kesadaran Jiwa dan kenikmatan indrawi yang diperoleh dari badan, gugusan pikiran serta perasaan) sadar sesadar-sadarnya bahwa samskara atau dampak, kesan, residu dari perbuatan dan segala pengalaman masa lalu pun hanya menimbulkan tapa atau rasa cemas; dan, duhkha atau penderitaan.” Yoga Sutra Patanjali II.15

 

Demikian pula dengan vrtti atau fluktuasi, perubahan-perubahan yang terjadi pada gugusan pikiran dan perasaan atau mind; dan guna atau sifat-sifat kebendaan yang saling bertentangan—semua menyebabkan penderitaan.

Terdengar sangat pesimis?

Sangat fatalistik—seolah hidup ini betul-betul hopelessly painful, tidak tertolong lagi?

 

DEMIKIAN KESIMPULAN KITA JIKA KITA HANYA MEMBACA sutra-sutra ini tanpa melakoni Yoga.

Dalam sutra-sutra ini, Patanjali bertemu dengan Siddharta Sang Buddha. Patanjali mengagungkan Jiwa atau Jati-Diri. Buddha menafikkan Atta atau Diri yang adalah dhatu, materi. Seolah mereka sedang menempuh dua jalan yang berbeda. Mungkin, boleh, well, tidak menjadi soal. Ujung-ujungnya toh bertemu juga!

Kembali pada sutra,

Gelap adalah menakutkan, menyeramkan—selama kita tidak tahu apa saja yang diselimuti kegelapan. Ketika Pelita Pencerahan menerangi kegelapan malam ketidaktahuan, kebodohan, maka rasa takut kita, rasa cemas kita lenyap seketika. Ternyata tidak ada sesuatu yang diselimuti kegelapan. Hanya gelap saja. Tidak ada setan, iblis, roh jahat, api neraka, dan sebaginya. Ternyata, tidak ada sesuatu di balik kegelapan itu. Ketika kita menyadari kegelapan sebagai kegelapan; ketika kita memahami sifat gelap yang memang gelap adanya—berakhirlah kecemasan kita, rasa takut kita.

 

PENDERITAAN ATAU KLESA PUN SAMA, ketika kita memahami sifat penderitaan dan apa yang menyebabkannya, berakhirlah penderitaan.

Sesungguhnya, adalah the unknown yang kita takuti, kita takut oleh sesuatu yang tidak kita ketahui, tidak kita kenali. Kita takut dengan segala sesuatu yang bersifat shadowy, remang-remang.

Bayangan, shadows membuat kita menganggap tali sebagai ular—dan timbul rasa takut. Pelita pengetahuan membuat tali tampak sebagai tali, dan seketika itu juga kita terbebaskan dari rasa takut, dari rasa cemas.

Dalam sutra ini, Patanjali menjelaskan apa saja yang menyebabkan rasa takut, cemas, duka-derita, dan siapa yang dapat mengatasi semua itu—bagaimana mengatasi semua itu.

 

PREREQUISITE ATAU SYARAT UTAMA ADALAH VIVEKA—kemampuan untuk memilah, untuk menentukan mana yang mulia dan baik bagi diri kita, bagi evolusi kita, bagi Jiwa—dan mana yang sekadar menyenangkan dan terasa nikmat bagi tubuh dan indra.

Viveka membuat kita sadar akan kebutuhan Jiwa, yaitu Kebahagiaan Sejati yang bersumber pada Kesadaran Jiwa itu sendiri. Patanjali tidak menolak kenyamanan tubuh, kenikmatan indra dalam takaran moderat, tidak berlebihan, tidak kekurangan. Silakan mengurusi badan dan indra, tetapi dalam kerangka besar kebutuhan Jiwa; dalam rangka mewujudkan misi Jiwa.

Kenyamanan tubuh dan kenikmatan indra tidak boleh berdiri sendiri. Semua itu mesti demi terwujudnya Kesadaran Jiwa dan tercapainya Kebahagiaan Sejati.

 

SEGALA PERSOALAN YANG KITA HADAPI SAAT INI disebabkan oleh perpisahan badan dan indra dari Jiwa. Sedemikian sibuknya kita melayani badan dan indra sehingga Jiwa terlupakan. Inilah tragedi masa kini.

Kisah Hola tentang Viveka, silakan baca sendiri pada buku Yoga Sutra Patanjali, karena akan membuat penggalan ini terlalu panjang. Penggalan tersebut penting tetapi silakan baca sendiri…..

DENGAN BERKEMBANGNYA VIVEKA, kita baru tersadarkan bahwa duka-derita adalah kenyataan hidup. Memori dari pengalaman-pengalaman pada masa lalu, kenangan, dan apa yang biasa disebut nostalgia, cukup untuk membuat kita gila. Nostalgila!!!

Belum lagi pikiran yang tidak terkendali, dan masih terus berfluktuasi. Ditambah dengan guna atau sifat-sifat dasar yang saling berkonfiik, bertentangan.

Sifat Sattva mengejar ketenangan; sementara itu, Rajas tidak bisa duduk tenang, ingin aktif sepanjang hari, bahkan kalau bisa sepanjang malam; belum lagi Tamas yang cuek dan malas!

Bayangkan Anda memiliki 3 orang pasangan—ya, 3 orang pasangan. Analogi lain tidak cocok. Pasangan, berarti Anda sudah damned (kalau tidak mengerti silakan membuka kamus) untuk hidup bersama mereka. Dan, ketiganya pasangan yang sah, bukan “simpanan”. Anda hidup bersama mereka dalam satu rumah, di bawah satu atap—dan ini tidak kalah penting, tidur bersama di atas ranjang yang satu dan sama. Namanya juga pasangan!

 

NAH DENGAN BERPASANGAN 3 ORANG, sesungguhnya Anda sudah mengundang neraka. Suhu dalam rumah Anda sudah lebih tinggi, lebih panas daripada suhu di neraka. Percayalah!

Apalagi setiap orang itu memliki guna, sifat yang khas! Sati tenang, Raji agresif, Tami malas. Jika tidak slbuk saling cakar-mencakar, ya, Andalah yang menjadi sasarannya.

Seperti itulah keadaan kita!

Seperti inilah keadaan kita semua. Duka derita yang disebabkan oleh sifat-sifat yang bertentangan—pikiran sama Sati, hati sama Raji, badan sama Tami; dan, indra yang sudah lepas kendali. Bisakah kita menghindari kecelakaan? Bisakah kita terselamatkan dari marabahaya, bencana?

Patanjali menjawab: Bisa.

Dengan mengembangkan viveka; dengan mengubah manah, mind, atau gugusan pikiran serta perasaan menjadi buddhi, intelegensi. Kemudian, kita tidak terganggu lagi oleh sifat-sifat yang saling bertentangan itu. Sebab kekuasaan mereka adalah terhadap badan, indra, dan—paling banter—gugusan pikiran dan perasaan.

 

SIFAT-SIFAT TERSEBUT TERKAIT DENGAN MATERI, dengan alam-benda, dengan prakrti. Mereka tidak bisa menguasai buddhi atau intelegensi yang berurusan dengan Jiwa.

Sifat-sifat tersebut bagaikan lumpur di dalam kolam, tidak bisa mengotori bunga teratai. Walaupun bunga itu tumbuh darinya.

Kembali pada analogi Sati, Raji, dan, Tami—kegaduhan terjadi karena Anda “merasa” tergantung pada mereka. Tinggalkan “ranjang ketergantungan”, dan saat itu pula Anda terbebaskan dari segala  cekcok. Biarlah mereka tetap berada di atas ranjang. Mau saling jambak-jambakan; janggut-janggutan, mau apa saja, biarlah. Itu urusan mereka. Begitu Anda lepas dari ranjang ketergantungan, Anda tidak lagi terpengaruh oleh apa pun yang mereka lakukan.

Viveka adalah kesadaran yang membuat Anda meninggalkan ranjang ketergantungan. Ranjang tetap ada. Sati, Raji, dan Tami pun ada. Dan, mereka semua berada di dalam rumah Anda. Tapi, Anda tidak terpengaruh oleh mereka.

Apa bisa?

Bisa. Bayangkan, jika Anda terpengaruh oleh setiap kecoa, setiap tikus, setiap cicak, apalagi setiap kutu dan kuman, nyamuk dan lalat yang “tinggal” bersama Anda, di rumah Anda—Anda pasti tidak bisa hidup.

Kenyataannya, Anda masih tetap hidup.

Serangga-serangga dan hewan-hewan tersebut pun tetap hidup, Anda tidak terganggu. Masa iya, terganggu oleh tikus?! Nah, Tikus atau Tahi atau Toto—sama saja. Jagalah kebersihan rumah; dari waktu ke waktu gunakan semprotan pembasmi nyamuk dan serangga supaya kesehatan Anda tidak terganggu—itu saja. Tidak perlu “merasa” terganggu sedemikian rupa hingga hidup menjadi beban. Kembangkan, gunakan, manfaatkan Viveka!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s