Asyik dalam Bordil Dunia atau Kembali ke Rumah Bapa, 2 Hakikat Pilihan Manusia

buku bhagavad gita bordil

Bordil Dunia yang memabokkan

Ia yang bijak, melewati kehidupan ini, sambil menikmati perjalanannya. Akan tetapi tidak lupa akan jati dirinya. la tidak terikat pada apa pun juga. la yang bijak tidak akan meninggalkan dunia. la tidak akan masuk hutan dan menjadi seorang pertapa. Atau hidup sangat ketat dalam lingkungan ashram, pesantren atau biara. Hidup di tengah keramaian dunia, menikmati segala pemberian alam semesta, tetapi tidak terikat pada apa pun juga. la tidak akan pernah lupa jati dirinya. la tidak akan pernah lupa bahwa ia hanyalah seorang musafir yang sedang melewati kehidupannya. Dengan sendirinya, ia tidak akan menghimpun harta kekayaan dan menambah bebannya. Perjalanannya masih panjang, ia akan menikmati segalanya, tanpa berkeinginan untuk memilikinya…….. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tetapi kita secara tidak sadar telah keasyikan di bordil dunia. Kita bangga dipuja keperkasaan kita oleh para penjaja dunia profesional yang menipu kita. Dan, kita telah menjadi pelanggan bordil dunia, menjadi budak dunia sampai nyawa tercerabut dari tubuh kita. Silakan simak penjelasan tentang Bordil Dunia dalam penjelasan Bhagavad Gita 8:22 ini:

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), Sang Hyang Purusa Abadi yang Tak-Terungkap, namun meliputi segalanya — segala-galanya ada di dalani-Nya, hanyalah dapat dicapai lewatpanembahan yang tak bercabang.” Bhagavad Gita 8:22

Isa mengatakan bahwa kita tidak bisa melayani dua majikan. Pasti terjadi dualitas. Pasti ada yang lebih, atau kurang diperhatikan. Majikan di depan mata adalah dunia-benda dengan segala isinya. Sementara itu, majikan sesungguhnya adalah Sang Jiwa Agung — tak terlihat, tak terungkap, tapi merupakan hakikat diri kita sendiri.

PILIHAN SEPENUHNYA DI TANGAN KITA – mau percaya pada dunia yang sedang berubah-ubah; mau percaya pada pelacur yang melacurkan diri demi materi; atau kembali ke rumah, kembali ke pasangan sendiri — kernbali ke Jiwa.

Dunia benda berubah terus. Persis seperti bordil. Setiap saat didandani. Para penghuninya, entah perempuan, lelaki, atau di antaranya — dipastikan adalah mereka-mereka yang masih muda, penuh gairah, dan antusias untuk melayani kita.

Kenikmatan buatan, palsu, yang kita peroleh membuat kita memiliki kesan “berhasil”. Padahal, semuanya adalah palsu. Kita sudah terkutuk untuk berada di tengah bordil dunia ini. Tetapi kita tidak terkutuk untuk menjadi langganan tetap bordil ini.

Kita boleh tidak berhenti, dan “melewati” bordil ini. Selain bordil dan medan pelacuran  yang telah menyusup hampir semua bidang, masih ada keindahan alam di sekitarnya. Kita tidak perlu menjadi bagian dari bordil. Kita bisa memilih untuk memahami sifat bordil dan memutuskan untuk menikmati terbitnya matahari, mekarnya bunga-bunga di taman, suara air terjun, sabda alam…….

 

TIDAK ADA KEHARUSAN BAGI KITA untuk memasuki dan menjadi bagian dari bordil, kita bisa melewatinya! Celakanya, mayoritas di antara kita telah menjadi budak bordil. Calo, mucikari, pelanggan, penjual, pengedar, pemakai, penceria — banyak profesi di sini.

Pejabat yang telah melacurkan diri, berkata, “Aku berbakti pada Tanah Air.” Padahal, ia sendiri menjual tanah dan air, dijual semurah mungkin, apalagi jelang masa-masa tertentu! Sesama anak bangsa pun dijadikannya komoditas dan ditawarkannya di, apa yang disebut, “pasar bebas!”

Ekonom, Ahli Hukum, Pendidik, Industrialis, Ilmuwan, Pengusaha, dan para Profesional di bidang apa saja — termasuk seni dan sebagainya — “hampir semua” telah menjadi bagian dari bisnis pelacuran! Tidak ada yang menyuruh atau memaksa mereka. Mereka memasuki Rumah Bordil Dunia ini atas kemauan mereka sendiri.

Krsna mengingatkan kita bahwa Kebahagiaan Sejati tidak dapat diperoleh dari bordil dunia ini. Para pelacur profesional hanyalah memberi kesan seolah kita “berhasil”. Kita dibuatnya membayar dan setelah itu dijadikannya budak mereka. Walau sudah membayar, kita tetap ingin memuaskan si profesional itu. Kita menilai “keberhasilan” diri kita ketika pelacur profesional itu “berpura-pura” dan memberi kesan seolah tidak ada orang lain sehebat kita, “Kau luar biasa”. Dan, kita senang luar biasa!

Kita senang dibohongi. Lama-lama, kita menyukai kebohongan. Dan, kesukaan itu membuat kita menjadi bagian, bagian tetap dari bordil dunia ini. Inilah kesuksesan materi, kesuksesan palsu.

 

LEWATI BORDIL INI, nikmati keindahan di Iuar bordil, dan lanjutkan perjalanan. lngat kebenaran hakiki di balik semua ini. Dan, kebenaran itu adalah kita, diri kita sendiri. Jiwa. Jiwa yang adalah percikan Sang Jiwa Agung.

Keberadaan kita di dunia ini hanyalah untuk sesaat saja. Persinggahan sernentara, sesaat. Kita tidak perlu menjadi bagian dari bordil. Tidak perlu melacurkan diri.

Caranya, dengan selalu mengingat, menyadari, menginsafi jati diri, “Aku sedang bertamasya di sini, sedang berkunjung. Ini bukan tempatku.” Berbaktilah bukan pada bordil, tapi pada Jati Diri, Jiwa Abadi, Sang Jiwa Agung, Tuhan!

Tidak percaya pada bordil, tapi pada diri sendiri, pada Jiwa, Jiwa Agung, Tuhan. Tidak menjadi budak dunia, tapi mengabdi pada Hyang Hakiki.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s