Alam Setelah Kematian Pandangan Leluhur? Neraka adalah Rumah Sakit?

buku dvipantara dharma sastra heaven_or_hell___by_jimmasterpieces-d41sbli

Gambaran Neraka dan Surga

Antara kematian dan kelahiran kembali – ada alam-alam yang dijelajahi oleh Jiwa, tergantung pada apa yang menjadi pikiran, perasaan, dan obsesinya selama mengalami kehidupan di dunia ini. Alam-alam inilah yang disebut Neraka, Surga dan lain sebagainya. Krsna mengatakan bahwa alam-alam tersebut tidak bersifat abadi. Setelah menikmatinya, Jiwa mesti kembali mengalami kelahiran di alam manusia lagi, di Planet Bumi ini – untuk menyelesaikan “pertunjukannya”. Surga dan Neraka hanyalah bersifat intermezzo, interval, intermission.

Jiwa yang telah “bertindak secara bijak” dengan mengupayakan pencapaian kesempurnaan dalam Yoga, ia akan menikmati “kenikmatan alam-alam surgawi”. Jiwa yang tidak atau belum berupaya untuk mencapai kesempurnaan dalam Yoga. Ia pun mengalami intermezzo, bukan di surga, tapi di neraka – alam penyesalan dan pemurnian – di mana ia menyadari kebodohannya sepanjang usia. Ia telah menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk  mengalami sesuatu yang tinggi dan mulia. Maka, ia pun bertekad untuk “kembali lagi” dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Penjelasan Bhagavad Gita 6:41 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut ini pandangan leluhur kita dalam buku Sevaka Dharma tentang alam-alam setelah kematian:

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sevaka Dharma 171

Kembali ke wilayah Gunung Kedan Medang dan Menir, tempat tinggal Jiwa para leluhur yang telah mendahuluinya (dan belum lahir kembali ataupun melanjutkan perjalanannya).

(Para leluhur yang masih berada “di sekitar” kita juga sama terikatnya terhadap keberadaan duniawi. Karena alasan-alasan tertentu, mereka tidak dapat bereinkarnasi sehingga rnasih berada dalam kebingungan — melayang-layang di sekitar orang yang masih hidup; berupaya keras untuk bisa berkomunikasi, tapi jarang berhasil.

(Ini bukanlah alam yang menyenangkan. Jiwa-jiwa yang “terikat” seperti itu sangat frustasi, namun karena keterikatan pada keluarga, tempat tinggal, objek-objek duniawi, kesenangan indrawi, dan lain sebagainya — maka mereka tidak dapat mendaki atau berjalan naik maupun berjalan turun dan bereinkarnasi langsung.

(Agar reinkarnasi “terjadi” — Jiwa Individu atau Atma sering menunggu pasangan tertentu untuk menjadi orang tuanya. Lagi-lagi karena keterikatan yang kuat dengan orang-orang tertentu, mereka bisa menunggu cukup lama hingga saatnya orang-orang itu telah bereinkarnasi juga.

(Alasan “penundaan” reinkarnasi lainnya adalah ketidaksadaran tentang “Jalan”, tentang “Perjalanan” Jiwa. Setelah meninggalkan badan, Gabungan-Mind masih begitu terikat dengan badan sehingga belum dapat memutus talinya sampai jasad terdekomposisi, membusuk secara menyeluruh, di mana, lagi-lagi, rnemerlukan waktu yang sangat panjang, kecuali jasad dikremasi, kemudian Jiwa bisa langsung tersadarkan, “sudah saatnya melanjutkan peljalanan!”)

Sevaka Dharma 172

(Beberapa ayat berikut menjelaskan alam-alam yang lebih tinggi, seandainya Atma atau Jiwa Individu memutuskan untuk rnendaki terus dan tidak turun ke bawah, ke alam dunia.)

Wilayah Bagian Timur dijaga oleh Batara Isora atau Isvara, yaitu alam yang dapat dicapai oleh mereka yang melakoni tapa atau disiplin-diri.

 

Sevaka Dharma 173

Wilayah Bagian Utara dijaga oleh Batara Wisnu atau Visnu — alam mereka yang melakukan perbuatan mulia selama perjalanan hidupnya.

 

Sevaka Dharma 174

Wilayah Bagian Barat milik Batara Siwah atau Siva — alam para pemberani, yang tidak takut akan kematian fisik.

 

Sevaka Dharma 175

Wilayah Bagian Selatan adalah tempat tinggal Batara Brahma. Setelah berada di Wilayah ini, alam ini, seseorang harus lahir kembali di dunia, di alam benda untuk mengalami berbagai macam penderitaan.

 

Sevaka Dharma 176

Ada pula yang rnesti kembali ke Sanghiang Kawah, Alam Kehidupan yang lebih rendah, Alam Penyucian, di mana para makhluk tersiksa karena mengingat dan menyesali segala perbuatan jahat mereka di masa lalu.

 

Sevaka Dharma 177

Mereka yang pemah melakukan kejahatan harus menghadapi kejahatan-kejahatan mereka sendiri sebagai konsekuensi perbuatannya; dan juga, karena kesadaran mereka sendiri serta memori mereka tentang tindakan kejahatan yang pemah mereka lakukan.

(Beberapa ayat ini menggarnbarkan Neraka atau tepatnya, Sanghiang Kawah, Alam Kehidupan yang lebih rendah, yang sangat penting untuk disimak karena Neraka disebut sebagai Sanghiang Kawah, yang sejauh ini kita transkreasi secara bebas sebagai Alam Keberadaan lebih rendah.

(Namun makna harfiah dari kata ini adalah Yang Mulia, Layak Dipuja, Yang Ilahi – ya, itulah arti Sang Hiang atau San Hyan – dan, kawah berarti, Lembah atau Alam Keberadaan yang Lebih Rendah.

(Jika kita membaca kembali dengan seksama, jelas sekali bahwa apa yang disebut Neraka, dan biasanya dianggap “menakutkan” diakui sebagai Yang Ilahi; bukan sebagai Keberadaan atau alam iblis. Sebab neraka pun memiliki tujuan tertentu. Neraka bukanlah keberadaan di mana api neraka membakar untuk keabadian, dan makhluk-makhluk pun dibakar untuk selamanya. Tidak, Neraka adalah sebuah fasilitas, Fasilitas Ilahi — sejenis rumah sakit – di mana mereka yang “jatuh” akan diobati dari se gala penyakit seperti ketamakan, keinginan tak terbendung, kemarahan, dan sebagainya.

(Kita diadili berdasarkan tindakan atau perbuatan-perbuatan buruk kita. Penderitaan kita di alam Penyucian ini — di Sang Hiang Kawah ini – bukanlah disebabkan oleh orang lain, tapi oleh kita sendiri. Tidak ada hakim yang akan memberi putusan akan perbuatan kita selain hati nurani kita sendiri. Kita menderita atau menyesal akibat perbuatan buruk kita. Ini adalah Hukum Konsekuensi, Hukum Sebab dan Akibat yang umumnya disebut Hukum Karma. Singkatnya, kita adalah pencipta neraka dan surga kita sendiri.)

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Bagi para pembaca yang ingin merasakan manfaat langsung yoga dan meditasi meditasi silakan ikuti:

YOGA & MEDITASI EXPO Saptu 4 Juni 2016 pk 08.00-13.00 WIB di @AnandKrishnaCentre Joglosemar Jakal Km 8.5 – Jl. Damai Perum Dayu Permai P-18.

Info dan pendaftaran Rahma 0813-2926-1634 dan Mira 0818-0584-4014

 

Bagi para pembaca yang ingin bertemu muka dengan Sang Penulis Buku, Bapak Anand Krishna, silakan ikuti Program berikut:

Acara Retret direncanakan pada bulan Juli 2016 di Anand Krishna Information Centre Solo pada hari Jumat Sore, Saptu dan Minggu. Retret merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mempersiapkan diri dengan cara setiap hari melakukan kegiatan spiritual mulai dari chanting, agnihotra dan yoga dan mengkonsumsi makanan vegetarian.

Buku yang akan dibahas mengenai kaitan antara Bahasa Jawa Kuno, Sunda dan Kebudayaan Sindhi. Mengapa orang Nusantara suka ngambek? Mengalah di luarnya, tetapi setiap beberapa dasawarsa meledak dan berdarah-darah? Direncanakan ada tour bersama ke Sangiran melihat perkembangan manusia dari zaman dahulu sampai sekarang.

Kontak sementara Triwidodo: 081326127289 Inbox FB: Triwidodo Djokorahardjo atau email t9djokorahardjo@gmail.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s