Keterikatan, Keinginan, Obsesi, Penyebab Utama Reinkarnasi

buku soul awareness sapi merasa ditipu, dikasih makan agar gemuk disembelih

Ilustrasi apa yang terpikir saat ajal tiba. “Awalnya dikasih makan, digemukin, akhirnya disembelih. Kejam.” Sang Babi mati dengan seluruh kesadarannya terpusat pada “kekejaman orang-orang bule” yang menyembelihnya. Saat Iahir kembali ia menjadi teroris dan membunuh bule-bule yang dianggapnya musuh? (hanya lelucon?)

 

Apa yang terpikir sepanjang hidup, itu pula yang terpikir saat ajal tiba, karena kematian adalah perpanjangan atau kelangsungan dari kehidupan. Kemudian ia melingkar dan bertemu kembali dengan titik kelahiran. Kejahatan sepanjang usia tidak dapat dipisahkan dari saat ajal tiba. Saat ajal tiba tidak dapat dipisahkan dari saat kelahiran. Tanggal kelahiran dan tanggal kematian mungkin adalah dua tangga yang berbeda, namun kedua tanggal itu dipertemuan oleh hidup saat ini. Kelahiran adalah kepastian yang sudah berlalu. Kematian adalah kepastian yang akan datang. Diantara kedua kepastian itu adalah kehidupan kita.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Keterikatan, keinginan, obsesi, semua itu yang terpikir sepanjang hidup, dan itu pula yang terpikir saaat ajal tiba. Dan, itulah adalah sebab utama reinkarnasi.

“Sesungguhnya adalah gabungan gugusan pikiran dan perasaan (mind) serta indra-indra persepsi yang ‘mengalami’ kelahiran atau kejadian kembali. Gabungan dari fakultas-fakultas inilah yang biasa disebut roh. Kita sengaja menghindari pemakaian istilah roh supaya tidak disalahkaitkan dengan Jiwa Individu, Jivatma atau Individual Soul. Jivatma yang menonton, hanya berperan sebagai kurir. Sehingga, cerita yang belum selesai, dapat dilanjutkan dalam episode berikutnya. Jika cerita masa lalu beraroma tidak sedap, maka aroma tidak sedap itu pula yang diantar kurir Jiwa ke episode berikut. Jika aromanya sedap, maka kesedapan yang diantarnya.” Penjelasan Bhagavad Gita 15:8

Kedua inti penjelasan tersebut dilengkapi dengan beberapa contoh kejadian dalam buku Soul Awareness di bawah ini:

buku soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Keterikatan, keinginan, obsesi, semua itu adalah sebab utama reinkarnasi. Sebentar lagi, kita akan berlatih bersama. Untuk apa? Bukan untuk menambah keterikatan, keinginan, atau obsesi. Bukan, bukan itu maksudnya. Tujuannya adalah justru untuk mengatasi semua itu, untuk menyelesaikan semuanya dengan meningkatkan kesadaran diri.

 

Kadang dalam Alam Mimpi, keran memori kita terbuka, dan mengalirlah berbagai gambar dari masa lalu. Hal tersebut lebih sering terjadi ketika kita mulai berlatih dalam alam jaga. Saat itu, jika tercipta keterikatan-keterikatan baru dengan gambar-gambar dari masa lalu,berarti tujuan kita berlatih dan membebaskan diri dari memori masa lalu malah tidak tercapai.

Keterikatan kita, ketertarikan kita pada suatu keadaan di masa lalu, bisa menjadi sebab penderitaan baru.

Saya pernah membaca kisah kurang ajar. Seekor babi yang lahir di Eropa merasa dirinya tertipu oleh orang-orang bule. “Awalnya dikasih makan, digemukin, akhirnya disembelih. Kejam.”

Ia mati dengan seluruh kesadarannya terpusat pada “kekejaman orang-orang bule” yang menyembelihnya. Saat Iahir kembali ia menjadi teroris dan membunuh bule-bule yang dianggapnya musuh.

 

Dalam Kisah Lain, seekor babi yang mendambakan kehidupan di surga—tentu surga hasil proyeksinya sendiri, yakni surga tempat “babi-babi tidak disembelih”—lahir kembali di tengah masyarakat yang memang tidak suka makan daging babi. Surga?!?

Para mistik Timur percaya bahwa keinginan kita yang terakhir—sebelum meninggalkan badan fana—menjadi benih bagi kelahiran berikutnya. Betul, tetapi keinginan terakhir tidak muncul begitu saja. Keinginan terakhir adalah hasil akumulasi, hasil keinginan-keinginan lain sepanjang hidup kita.

 

Hola Merasa Sangat Terganggu oleh Oknum-Oknum yang digaji untuk mencegah tindakan kriminal, tetapi nyatanya malah menjebak orang untuk berbuat salah supaya bisa ditangkap dan diperas.

“Tidak mau lagi hidup di kota ini, di negeri ini. Lebih baik jadi hewan daripada jadi manusia. Di mana-mana pemerasan. Bawa mobil juga nggak tenang, ada saja oknum yang bersembunyi di balik pohon untuk mencari kesalahan. Lampu sinyal tidak nyala atau salah nyala tidak diurusi, tapi kita lewat garis sedikit, sudah di……”

Demikianlah yang terpikir oleh Hola, yang sedang dipikirkan oleh Hola ketika Malaikat Maut datang menjemputnya.

Lahir lagi, Hola jadi sapi betina di India. Bisa berkeliaran bebas, tidak peduli sinyal segala. Bahkan, oknum-oknum pun sekarang takut kepada dirinya. Mereka yang justru meminggir.

Intinya, berhati-hatiIah terhadap apa yang terpikir oleh Anda ketika tiba saatnya nanti…. Jangan terlalu serius, Bung, Bli, Mas, Kang, Gek, Mbak. Ingat, kita sedang intermeso….

 

Umumnya, Tidak Ada Devolusi, yang ada hanyalah evolusi. Manusia tidak akan lahir kernbali sebagai binatang. Tetapi, ya, ada saja pengecualian. Dalam keadaan tertentu, seseorang yang telah mencapai kesadaran cukup tinggi bisa memilih untuk lahir kembali sebagai binatang—hanya demi mempelajari suatu mata pelajaran tertentu.

Barangkali mata pelajaran tentang compassion, tentang bagaimana rnenyayangi sesama, bagaimana merendahkan diri dan tidak angkuh, dengan memilih wujud hewan. Sebab, sebagai hewan ia bisa belajar dalam waktu singkat. Ia tidak perlu menghabiskan waktu panjang. Sebagai hewan, cukup bila ia hidup 6—7 tahun, sebagai manusia bisa 70-80 tahun.

Sekali lagi, ini merupakan pengecualian. Justru terjadi, bisa terjadi pada 0rang-orang yang sudah berkesadaran.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s