Pusing karena Pikiran dan Perasaan Tidak Selaras? Yoga Asana Solusinya!

buku yoga sutra patanjali konflik pikiran dan perasaan

Kepala sakit dan pusing karena pikiran dan perasaan tidak selaras

“Perhatikan pikiran anda; perhatikan pola kerja mind anda. Mind yang selama ini terasa begitu liar, sesungguhnya memiliki pola kerja yang sangat sederhana. Ibarat perseneling mobil. Mind hanya memiliki tiga gigi. Tidak lebih dari itu. Suka, tidak suka dan cuwek, itulah gigi-gigi mind. Tidak ada gigi keempat, kelima dan seterusnya. Hanya tiga gigi. Selama ini yang dilakukan oleh mind hanyalah tiga pekerjaan itu; Yang ia sukai, ia kejar, yang tidak disukai, ia tinggalkan, dan antara mengejar dan meninggalkan, kadang-kadang ia juga bisa bersikap cuwek terhadap sesuatu.”  Demikian penjelasan dalam buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Oleh karena itu bila kita akan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan mind akan timbul konflik. Saat akan menerapkan pengetahuan baru, ingin merasakan pengalaman baru, selalu muncul konflik. Bahkan bila apa yang kita pikir dan apa yang kita rasakan berbeda, hal yang demikian selalu menimbulkan konflik. Pada saat konflik kepala sering sakit dan merasa pusing.

Bagaimana cara menangani konflik antara pikiran dan perasaan? Silakan simak solusi dari Patanjali pada penjelasan Yoga Sutra patanjali II.48 berikut:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

tato dvandvanabhighatah

“Demikian, tiada Iagi serangan atau konflik yang disebabkan oleh pasangan-pasangan yang berlawanan, bertentangan; dan dualitas.” Yoga Sutra Patanjali II.48

 

Manah, Mind atau Gugusan Pikiran dan Perasaan hanya bertahan “hidup” selama ada bahan bakar dualitas. Renungkan arti “Gugusan Pikiran dan Perasaan”.

 

APAKAH PIKIRAN DAN PERASAAN KITA SELALU SELARAS? Jelas tidak. Malah lebih sering tidak selaras. Padahal pikiran dan perasaan membutuhkan otak untuk berekspresi.

Jadi, kalau kepala sering sakit, sering pusing-pusing, ya wajar. Kasihan Mas Otak, Kang Otak, Bung Otak, Bli Otak karena seperti seorang pelayan yang mesti melayani dua majikan yang sama-sama kuat.

Bayangkan seorang pelayan yang sedang menghadapi pertengkaran antara bos-suami dan bos-istri. Sudah pasti pusing tujuh keliling.

Jika pikiran ibarat suami, maka perasaan ibarat istri. Celakanya, mind memang hidup karena adanya dualitas tersebut. Adalah otak yang jadi korban, otak yang sakit, otak yang pusing.

Menarik sekali bagi kita untuk memahami proses transformasi mind, manah atau gugusan pikiran serta perasaan menjadi buddhi atau inteligensi.

 

DALAM KEADAAN RELAKS—dalam hal ini berkat Yoga-Asana—ketika fisik mengalami relaksasi, maka otak yang juga bagian dari fisik ikut mengalami relaksasi.

Bayangkan pelayan di rumah sedang relaks, tidur, sementara Anda—suami-istri—sedang berantem. Adakah pelayan terganggu oleh keributan yang terjadi? Tidak.

Demikian, saat itu mind yang sedang bertengkar, tiba-tiba blank! Sebab, tanpa bantuan otak, ia tidak dapat berekspresi. Pertengkaran “terputus” secara abruptly, tiba-tiba. Inilah keadaan yang dimaksudkan oleh Patanjali untuk secara perlahan, tapi pasti, mengubah mind menjadi buddhi atau inteligensi.

Dualitas pikiran dan perasaan mind bisa diubah menjadi daya buddhi atau inteligensi untuk memilah antara sreya dan preya, sesuatu yang mulia dan menunjang agenda Jiwa dan sesuatu yang sekadar nikmat bagi indra.

Proses ini terjadi secara alami ketika kita mengalami relaksasi “hasil” Yoga-Asana, dan setelah mengikuti tahapan-tahapan sesuai dengan petunjuk Patanjali.

Tidak percaya?

Jawabannya sederhana: Silakan mencobanya dulu!

Adapun untuk selalu diingat, relaksasi hasil Yoga-Asana bukan hasil tidur biasa—apalagi relaksasi buatan hasil obat-obatan dan sebagainya.

 

DEMIKIAN, DENGAN BERKEMBANGNYA BUDDHI, tidak ada lagi serangan yang disebabkan oleh pengalaman suka-duka, panas-dingin dan sebagainya.

Segala pengalaman yang saling bertentangan akan melewati kita sebagai awan yang sedang berlalu. Langit-kesadaran kita tidak terganggu oleh awan dualitas.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s