Amnesia Jatidiri Bangsa karena Olah Mental Belaka? Asana dan Pranayama Solusinya?

buku dvipantara jnana sastra borobudur prambanan

Kita telah melupakan jatidiri kita. Kita tidak lagi ingat bahwa kita adalah bagian dari sebuah peradaban kuno yang membentang dari Iran sampai Filipina.

 

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Siapapun yang ingin memprediksi masa depan, harus memeriksa/mempelajari masa silam;

sebab semua kejadian manusia senantiasa mirip dengan apa yang telah terjadi.

Ini muncul dari kenyataan bahwa semua kejadian itu dihasilkan oleh manusia

yang telah senantiasa, dan akan senantiasa, digerakkan oleh nafsu yang sama,

sebab itu, hasilnya pun akan selalu sama.”

Machiavelli (1469-1527) Bapak Ilmu Politik Modern/Barat

 

Ini adalah volume terakhir dari Trilogi Dvipantara Sastra, yang dua volume sebelumnya adalah Dvipantara Dharma Sastra dan Dvipantara Yoga Sastra.

 

INI TERDIRI DARI GANAPATI TATTVA DAN VRHASPATI TATTVA yang utamanya adalah buku tentang kebijaksanaan tentang jnana, tentang filosofi. Atau, tepatnya, filosofi Yoga.

Dalam penerjemahan ulang kedua naskah suci nan penting ini, sekah lagi saya tldak akan lupa mengungkapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Raghu Vira dan timnya atas jasa mereka kepada masyaraakat dunia dan terutama orang-orang Nusantara, Kepulauan Indonesia, untuk menyadarkan mereka akan wansan kuno milik mereka. Silakan merujuk pada sekapur sirih saya di dua volume sebelumnya dari trllogl ini untuk mengapresiasi kontribusi mereka.

Dua naskah ini pertama kali diterjemahkan, dikomentari, dan dievaluasl secara krits pada tahun 1950an oleh Dr Sudarshana Devi Singhal— seorang anggota penting dari tlm Prof Dr Raghu Vira. Terjemahan ulang yang saat ini berada di tangan Anda, sama sekali tldak bisa dlbandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh beliau dan timnya. Upaya sederhana saya di sini hanyalah semata-mata untuk mempersembahkan naskah-naskah ini dalam bahasa popular, itu saja.

 

MEMBACA NASKAH-NASKAH SEPERTI INI, selalu membuat saya bertanya-tanya mengapa dan bagaimana kita, para ahli wariss kebijaksanaan dan filosofi luhur tersebut, hampir sepenuhnya melupakan warisan kuno kita, sejarah kita, akar budaya kita. Apa yang salah?

Ketika kita melihat kemegahan arsitektur seperti Mandala Borobudur, sebuah Bangunan Suci dengan Keakuratan Geometri, yang merupakan satu kompleks Stupa par excellence; atau Prambanan (Parabrahman, sebuah Kuil yang didedikasikan untuk berbagai wujud dan atribut Hyang Agung) — keduanya terletak di Jawa Tengah — kita tidak bisa tidak bertanya-tanya apa yang sesungguhnya terjadi pada kita en masse, secara massal sampai kita, para masyarakat Kepulauan Indonesia, mengalami amnesia hingga saat ini.

SUNGGUH AMNESIA YANG HEBAT!

Kita telah melupakan jatidiri kita. Kita tidak lagi ingat bahwa kita adalah bagian dari sebuah peradaban kuno yang membentang dari Iran sampai Filipina.

Kita tidak lagi ingat bahwa jika kita telah beradab dan melakukan perencanaan permukiman kota-kota besar di kala Mesopotamia dan Mesir — dua dari peradaban kuno yang paling sering dibicarakan — baru mulai belajar membangun.

Kita tidak peduli bahwa buku-buku teks sejarah kita harus ditulis ulang, agar setidaknya anak cucu kita tidak menderita penyakit lupa yang sama seperti yang kita derita.

Apa yang membuat kita begitu sakit?

Apa alasan di balik penyakit kita? Mengapa kita bisa mengapresiasi kebesaran rumah orang lain sementara membiarkan istana kita tenggelam dalam lupa?

buku dvipantara jnana sastra

Cover buku Dvipantara Jnana Sastra

KJTA HARUS MENGHORMATI, KITA HARUS MENGHARGAI semua sistem nilai, semua kebudayaan dan sistem kepercayaan, selama mereka manusiawi, menjunjung tinggi kemanusiaan. Ada sebuah nasihat indah dari Veda:

a no bhadrah kratavo ksyantu visvato adabdhaso aparitasa udbhidah

deva no yatha sadamid vrdhe asanaprayuvo raksitaro dive-dive

Rg Veda 1.89.1

Semoga semua yang mulia datang dari segala penjuru,

semua yang tidak membahayakan, dan tidak memecah-belah;

Semoga Hyang Ilahi membantu kita selalu tumbuh

dalam kejayaan dan kemuliaan, dan

dengan penuh kasih melindungi kita senantiasa dari hari ke hari.

( Transkreasi oleh penulis)

 

KATA BHADRAH ATAU MULIA didefinisikan sebagai sesuatu yang:

  1. Adabdhaso (adabdha) — Tanpa tipu muslihat, dan/atau sesuatu yang tidak menciptakan konflik atau perselisihan yang berujung pada perpecahan atau perpisahan;
  2. Aparitasa (aparita) tidak mengganggu atau tidak membahayakan; dan,
  3. Udbhidah – bertunas, menyebar, atau menyebabkan.

 

Demikianlah, peringatan yang diberikan oleh para Rsi Veda sangat jelas, bahwa tidak semua pemikiran, tidak semua gagasan, tidak semua filosofi, tidak semua sistem kepercayaan dapat disebut mulia atau baik. Sesuatu yang mulia atau baik, sesuatu yang terpuji semestinya menciptakan persatuan, bukan perpecahan; semestinya tidak membahayakan; dan, semestinya membantu kita tumbuh dalam kejayaan sejati, dalam cinta dan kasih — bukan sebaliknya. Singkatnya, nilai apa pun dari tradisi mana pun haruslah manusiawi, haruslah memanusiakan.

Dan, seorang manusia adalah seseorang yang berpegang teguh pada aturan emas yang dimuliakan dalam semua kitab suci; Perlakukan pada orang lain sebagaimana engkau ingin orang lain memperlakukan dirimu.

Tasmad dharma-pradhanena bhavitavyam yatatmana

tatha cha sarva-bhuteshu vartitavyam yathatmani

Mahabharata Shanti-Parva 167:9

Demikian, dengan melakoni pengendalian diri dan

fokus pada dharma (kebajikan), perlakukan semua makhluk

(kata bhuta yang digunakan di sini mencakup alam dan semua elemen alami)

sebagaimana engkau memperlakukan dirimu sendiri.

(Transkreasi oleh penulis)

 

SAYANGNYA, KITA BAHKAN TELAH MELUPAKAN ATURAN YANG PALING SEDERHANA INI. Kita asyik memuja diri dan merendahkan orang lain. Dalam kebodohan, kita bahkan tidak sadar bahwa “diri” yang kita anggap sebagai diri kita dan kita puja-puji bukanlah Diri Sejati kita. Itu adalah diri palsu.

Keadaan yang menyedihkan dan memprihatinkan ini, sebagaimana rnenurut studi dan riset yang saya lakukan, disebabkan oleh dua faktor utama. Yang pertama dan terutama adalah keasyikan kita melakukan mental-gymnastics, olah-mental, mendiskusikan filosofi tanpa melakoninya. Kita tahu segala sesuatu, atau setidaknya kita pikir demikian; tanpa menyadari apa pun.

Yang kedua, dan ini terkait erat dengan yang pertama, adalah kesalahpahaman kita tentang aspek ritual dari sistem kepercayaan kita sebagai tujuan, dan bukan sebagai sarana untuk menyadari kesatuan jiwa.

Ringkasnya: Kita pikir kita tahu segalanya; namun sesungguhnya kita tidak tahu apa-apa. Kepala kita dan mungkin ukuran otak kita telah tumbuh juga, namun sayangnya itu digunakan untuk menyimpan segala jenis informasi, konsep, dan persepsi yang tidak membantu kita…. yang membuat kita berhalusinasi kita tahu segalanya. Kita tidak memiliki ruang tersisa untuk memroses apa pun yang bernilai.

 

SITUASI INI HARUS BERUBAH!

Dan, saya percaya dengan keampuhan asana, pranayama, dan sebagainya untuk membantu kita berubah; untuk membantu kita membuang segala informasi, konsep, dan persepsi tidak penting yang telah menghabiskan kapasitas mind (gugusan pikiran dan perasaan) kita untuk memroses.

Ini lucu!

Ketika kebanyakan praktisi yoga — terutama di Barat — mendefinisikan yoga sebagai asana belaka, dan tidak mau berurusan dengan filosofinya, apalagi melakoni hidup mereka sesuai yoga; kita di Timur, terutama di Kepulauan Indonesia malah sibuk dengan filosofi atau ritual, atau keduanya.

Kita telah melupakan asana dan pranayama — kita telah melupakan aspek praktis dari Yoga sebagai Gaya Hidup, Laku Hidup.

Inilah sebabnya saya telah menambahkan beberapa laku; beberapa asana dan pranayama sederhana sebagai kompensasi atas keasyikan kita dalam olah-mental dan ritual.

 

SAYA PERCAYA SEPENUHNYA bahwa inilah cara untuk menyembuhkan amnesia kita. Inilah cara untuk kembali waras. Inilah cara untuk menemukan kembali Diri Sejati kita. Inilah cara untuk menyadari jati diri palsu kita dan membuangnya, melepasnya tanpa menunda sedikit pun, tanpa penyesalan sedikit pun.

Saya tidak berharap Anda akan memercayai keyakinan saya begitu saja. Tetapi, saya benar-benar berharap Anda akan mencoba dan bereksperimen dengan apa yang saya sarankan. Saya berdoa untuk itu, karena saya tahu bahwa apa yang saya sarankan adalah bersifat empiris. Apa yang berhasil untuk saya, dengan saya, juga bisa berhasil untuk siapa saja, dengan siapa saja.

Cobalah.

Namaste, Aku bersembah sujud pada Keilahian, Kemuliaan dalam dirimu.

 

Tasmad yogi bhavarjuna

“…. Sebab itu, Arjuna, jadilah seorang Yogi!”

Bhagavad Gita 6:45-7

 

Sekapur Sirih dari Penulis Anand Krishna

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s