Reinkarnasi Berulang Kali Tidak Cukup! Pengaruh Tatanan Dunia Masa Kini?

buku soul awareness bernuansa kemanusiaan atau bisnis

Pelayanan Kesehatan atau Usaha Dalam Bidang Kesehatan?

Setiap aksi selalu menimbulkan reaksi, siapa yang menanam benih, pada suatu saat akan memetik buah akibat penanaman benihnya. Benih padi akan panen setelah 4 bulan. Benih buah mangga akan panen setelah 6 tahun. Benih pohon jati akan panen setelah 25-50 tahun. Ada aksi yang reaksinya kembali dengan cepat dan ada aksi yang reaksinya menunggu matang dan dalam waktu lama baru reaksinya kembali. Bila dalam satu kehidupan belum datang akibat, bisa jadi akan datang pada kehidupan berikutnya. Setiap ucapan dan tindakan kita adalah benih yang telah kita tanam, hanya kita tidak tahu kapan hasil panen dari penanaman benih tersebut.

Sehingga bila saat ini kehidupan kita sejak lahir relatif baik, maka benih-benih yang kita tanam di kehidupan masa lalu juga baik. Tetapi kita sama-sama mengalami, walau relatif kondisi baik, apakah dalam hidup ini kita tidak akan menerima godaan untuk berbuat sesuatu yang menurunkan kesadaran? Katakanlah Anda tampan/cantik, kaya, berpendidikan, apakah Anda dijamin tidak mengalami godaan yang dapat menurunkan tingkat kesadaran lagi? Atau apakah godaan justru akan semakin besar?

Berikut penjelasan Soul Awareness tentang godaan duniawi yang semakin besar setelah tahun 70-an…….

buku soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Saya Tidak Berkepentingan dengan Kepercayaan mana pun, pokoknya berbuat baik, itu saja tujuan hidup saya. Untuk apa mempelajari reinkarnasi segala?” kata seorang pengusaha yang saat itu sedang naik daun.

Memang betul, berbuat baik adalah laku tertinggi. Itu yang dibutuhkan. Tetapi, selama masih ada “aku” berbuat baik, selama masih ada keangkuhan, perbuatan baik sebaik apa pun akan ternoda olehnya.

Mereka yang betul-betuI berbuat baik, berbuat tanpa upaya, tanpa menyadari bila kebaikan sedang terjadi lewat mereka. Ada orang yang menyumbang 100 juta, dan mengeluarkan 20 juta untuk media supaya perbuatan baiknya diberitakan. Perbuatan baik? Atau, sekadar memberikan angin kepada ego?

Setiap kali terjadi kebaikan lewat Anda, dan terlintas, “Aku sedang berbuat baik,” maka dengarlah nasihat para resi, idam na mama—semua ini terjadi bukan karenaku, bukan karenaku, semua adalah berkah-Mu, berkah-Mu, berkah-Mu.

 

Mohandas Karamchand Gandhi, Sang Mahatma, memopulerkan istilah Daridra Narayana. Baginya, Wajah Tuhan ada di mana-mana, di Utara dan Selatan, di Barat, dan di Timur; dan Wujud Gusti, Wujud Narayana meliputi seantero alam. Ya, namun di dalam diri seorang hina, dina, dan papa, dalam diri para miskin, para daridra, kehadiran-Nya paling terasa.

Sang Mahatma melayani sesama, melayani mereka yang terlupakan oleh masyarakat, bukan dengan semangat membantu, berdana punia atau beramal saleh.Tetapi dengan semangat menyembah Tuhan, Sang Narayana, Hyang berada di dalam diri mereka.

Semangat pelayanan seperti itulah yang dibutuhkan untuk mengakhiri siklus kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. Dalam semangat seperti ini, tiada lagi perbedaan, tiada Iagi perpisahan antara yang melayani dan yang dilayani.Yang ada hanyalah kemurnian, ketulusan, kemuliaan pelayanan.

 

Paman Saya Seorang Dokter, saya pernah bercerita tentang dirinya dalam salah satu jilid trilogi Cakrawala Sufi. Ia menjalankan profesinya dengan semangat pelayanan. Sayang, tidak semua dokter memiliki semangat yang sama.

Apalagi sekarang!

Rumah sakit sudah menjadi tempat usaha. Para dokter menjadi pegawai yang dibayar gaji plus komisi. Kacau. Sekarang semangatnya: Makin banyak orang sakit, makin menguntungkan. Makin banyak peralatan terpakai, makin baik bagi usaha.

Lain sekarang, lain dulu.

Dulu, anak-anak yang lahir dan menjadi dokter adalah mereka yang sejak masa kehidupan sebelumnya sudah memiliki niat yang kuat, keinginan yang kuat untuk melayani sesama. Mungkin terdorong oleh pengalaman pribadi, oleh seorang anggota keluarga yang meninggal karena tidak mendapatkan bantuan medis yang memadai. Atau, mungkin diri mereka sendiri meninggal karena penyakit yang belum ada obatnya. Jadi, mcreka “lahir kembali” untuk tujuan yang jelas.

 

Sayang, Tidak Demikian Lagi SejakTahun 1970-an. Mayoritas anak-anak yang lahir dan menjadi dokter tidak memiliki semangat pelayanan. Keinginan mereka untuk menjadi dokter supaya “bisa beli mobil besar seperti…..” Supaya bisa punya rumah besar, supaya bisa punya uang banyak. Semangatnya adalah semangat perdagangan, semangat dagang.

Keadaan itu kian hari kian parah, sebab makin banyak dokter yang memang menjalankan “usaha kedokteran”. Tidak lagi melayani para pasien sebagai pelayan kesehatan dan penyembuhan.

Ada pula dokter-dokter turun-temurun, “Habis bagaimana? Orangtua dokter, mertua dokter, saudara dokter, kakak ipar dokter……”

Tidak ada yang salah jika seorang anak mengikuti jejak orangtuanya dan menjadi dokter; atau anak pengacara menjadi pengacara; anak seniman menjadi seniman; anak pengusaha menjadi pengusaha, selama alasannya bukanlah, “habis bagaimana?” Alasannya mestilah dorongan dari dalam diri sendiri. Bukan terpicu oleh materi di luar.

 

Keadaan Seperti Itu Telah Mengacaukan Tatanan Dunia. Reinkarnasi berulang kali pun tidak cukup untuk menyelesaikan satu perkara.

Dunia kita—masyarakat planet bumi ini—masih memiliki banyak perkara pending. Masih banyak kasus yang belum selesai. Masih banyak pertikaian yang berlanjut sejak berabad-abad lalu. Ditambah lagi dengan persoalan-persoalan baru.

Alhasil,kemajuan teknologi dan perkembangan di bidang sains pun belum mampu membahagiakan manusia. Teknologi dan sains malah digunakan untuk saling mencelakakan, bahkan saling membunuh.

Adakah harapan bagi kita?

Adakah harapan bagi dunia kita? Jawabannya: Ada. Hukum Alam terkait dengan Reinkarnasi adalah bukti bila keberadaan masih memercayai kita, masih berharap bila tiap-tiap di antara kita. akan bertindak sebagai wali planet. Setiap kali gagal, kita masih juga mendapatkan kesempatan baru.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s