Lahir Kembali dari Benih Duka-Derita Tumbuh Menjadi Pohon Berbuah Suka-Cita?

Female Bollywood dancers doing routine on set

Perhatikan film-film Bollywood, dalam keadaan suka-cita maupun duka-derita, mereka tetap menari dan menyanyi. Mereka adalah anak cucu Sang Bijak Patanjali? Yang tetap bisa menari dan menyanyi walau menderita?

Selama akar karma atau perbuatan, yakni klesa atau pengalaman duka-derita masih eksis, selama itu pula kelahiran-ulang tidak dapat dihindari. Benih bagi kelahiran ulang adalah klesa—duka-derita. Aha, jika memang demikian, harapan kita untuk mendapatkan pengalaman lain adalah ilusif. Harapan itu tidak mungkin terpenuhi. Sebab benihnya saja sudah klesa. Mau mengharapkan buah apel dari benih, biji buah asem? Bisa? Jelas tidak bisa. Keberadaan, Prakrti, Alam Kebendaan telah memasang ranjau, perangkap untuk kita—untuk Jiwa—supaya kita tetap bertahan di alam benda, supaya tetap terikat dengan kebendaan. Yoga Sutra Patanjali II.13

Benih bagi kelahiran kita adalah klesa atau duka derita, misalnya kekecewaan terhadap keluarga, jabatan, kekayaan, usaha dan lain-lainnya. Bila pada saat menjelang ajal kita merasa kecewa, atau masih terobsesi dengan keduniaan, maka kita akan lahir lagi. Walaupun demikian, walau lahir dari benih duka-derita, buah dari pohon yang berasal dari benih tersebut bisa juga menghasilkan suka cita. Bagaimana caranya?

Silakan simak penjelasan Patanjali pada Yoga Sutra Patanjali II.14 di bawah ini:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Te hlada paritapa-phalah, punya-apunya-hetutvat

“Hasil dari karma atau perbuatan (yang berakar pada klesa atau duka-derita) dapat dijalani, dilewati dengan penuh sukacita, penuh keceriaan, dan dengan berdukacita, dengan penuh kepedihan – dalam pengertian, hasil tersebut bisa membawa dampak sukacita, bisa juga berdampak dukacita, tergantungpada alasan perbuatannya, mulia atau tidak mulia.” Yoga Sutra Patanjali II.14

Setiap sutra Patanjali adalah rumusan, formula, cara untuk mengakhiri duka-derita, mengakhiri klesa beserta seluruh anak-pinaknya.

 

KENDATI KELAHIRAN SAJA SUDAH MERUPAKAN HASIL DARI KLESA ATAU DUKA-DERITA PADA MASA LALU; atau lebih tepatnya hasil dari perbuatan, dari karma masa lalu, yang berakar pada klesa, pada duka-derita—yet, cara kita melewati hidup ini bisa tanpa beraduh-aduh!

Ya, cara kita melewati hidup ini bisa dengan bernyanyi dan menari. Anda pernah nonton film Bollywood? Ada saja lagu untuk mengiringi setiap adegan. Dalam adegan sedih pun, tetap ada lagu pengiring. Bahkan, tak jarang ada tarian pula!

Jangan lupa, Bollywood adalah generasi ke sekian Patanjali. Hahaha! Silakan menonton dan menjadi penggemar film-film Bollywood. Tetapi untuk menjalani hidup, kiranya gaya Bollywood lebih tepat untuk ditiru, untuk dijadikan panutan.

 

SUDAH LAHIR, BERARTI BUAH KARMA BERAKAR PADA KLESA ATAU PENDERITAAN sudah di tangan—mesti dimakan. Manis, pahit, asam—apa pun—, kita sudah tidak bisa tidak memakannya. Sesungguhnya sejak kelahiran, kita sudah mulai memakannya.

Sekarang, pilihan di tangan kita.

Mau makan sambil menari dan menyanyi, atau sambil menggerutu, sambil beraduh-aduh? Pilihan di tangan kita. Pilihan di tangan kita? Tunggu sebentar, sepertinya tidak sepenuhnya juga.

Patanjali adalah seorang Saintis Jiwa.

la telah meneliti setiap keadaan, setiap kemungkinan, setiap pengalaman.

Kenapa ada orang yang bisa melewati hidup penuh duka dengan ringan, seolah ia tidak terbebani? Kenapa pula ada yang sebaliknya?

 

ADA YANG DAPAT MELEWATI HIDUPNYA SAMBIL MENARI DAN MENYANYI, kenapa pula ada yang tidak bisa? Patanjali memperhatikan fenomena ini, ia meneliti, dan menemukan alasannya.

Alasannya adalah “sebab” penderitaan, “sebab” klesa yang “menyebabkan” kelahiran kita. Tergantung pada apakah sebab penderitaan kita di masa lalu, yang menjadi alasan bagi kelahiran kita sekarang, adalah punya atau apunya—mulia atau tidak mulia.

 

PUNYA DAN APUNYA BUKANLAH BAIK DAN BURUK atau batil, jahat. Tidak. Punya berarti “mulia dan rnemuliakan”. Sedangkan apunya adalah kebalikannya.

Di Bali, misalnya, hingga hari ini kata yang digunakan untuk “amal-saleh” adalah “dana-punia”. “Dana” berasal dari kata dana atau “sumbangan”. “Punia” adalah punya—mulia, suci. Berarti, sumbangan yang suci, mulia. Maksudnya, sumbangan atau hadiah yang diberikan dengan niat yang suci, niat yang mulia. Sumbangan yang diberikan tanpa mengharapkan imbalan—dengan niat yang tulus. Bukan untuk mencari nama, bukan untuk disebut namanya lewat running text di televisi. Dana juga bisa dikaitkan dengan dhana atau dana, uang, harta. Ketika kita menggunakan uang hasil jerih payah kita untuk sesuatu yang mulia, berarti dana itu, uang itu tersucikan, teberkati.  Demikian pula dengan si pemberi, ikut termuliakan, teberkati. Walaupun si pemberi tidak mengharapkan apa-apa; walau ia memberi tanpa pamrih.

Dengan pemahaman demikian, kita rnemaknai sutra ini.

 

JIKA SEBAB KELAHIRAN KITA ADALAH KLESA atau Penderitaan yang kita alami karena suatu perbuatan yang mulia—punya karma—maka sambil melewati hidup ini, kita bisa menari, menyanyi, bersukacita, tetap ceria dan berbagi keceriaan.

Hola sudah berusia 32 tahun, namun masih menganggur. Alasannya, “Patanjali. Bukankah dia menyarankan hidup ceria dan berbagi keceriaan? Saya lagi sibuk dengan keceriaan saya dan dengan berbagi keceriaan. Mana ada waktu untuk bekerja?

Itu alasan “kurang ajar”.

Tunggu sampai kepala Hola diketok Patanjali Si Naga, “Punya waktu untuk makan? Untuk buang air besar‘? Punya waktu untuk membebani orangtua dengan segala kebutuhan? Kalau tidak punya waktu untuk bekerja dan mencari uang; kalau sedemikian sibuk dengan urusan ceria dan berbagi keceriaan, maka jangan lagi buang waktu untuk makan, minum, tidur, buang air besar, bahkan untuk pacaran. Useless, tidak berguna. Makan ceria, minum ceria, buang air ceria, pacari keceriaan. Bisa?”

Berhadapan dengan seorang Patanjali, hendaknya kita tidak bersikap kurang ajar. Banyak di antara kita yang baru “tahu sedikit saja”. sudah sok tahu. Patanjali pun dipelintir untuk membenarkan kemalasan dan kekurangajaran mereka.

 

KEMBALI PADA PUNYA KARMA atau “Perbuatan yang Mulia”. Apa iya perbuatan mulia pun bisa menyebabkan klesa atau “duka-derita”, yang kemudian menjadi benih bagi kelahiran ulang? Bisa.

Pelajari kembali riwayat para suci, mereka yang hidup dalam kemuliaan dengan berbagi kemuliaan. Dan tokoh-tokoh historis yang sudah menjadi bagian dari legenda, seperti Rama, Krsna, Siddhartha, Isa, Muhammad, hingga tokoh-tokoh kontemporer seperti Gandhi, Soekarno, dan yang lain. Hidup mereka semua penuh tantangan, penuh gejolak, penuh duka-derita. Namun duka-derita mereka “berkualitas”. Penderitaan mereka disebabkan oleh urusan-urusan pribadi. Penderitaan mereka disebabkan oleh komitmen mereka pada manusia dan kemanusiaan.

Mereka rela berkorban, rela menderita demi kebaikan kita semua. Ditembak pun, Gandhi masih menyebut asma-Nya. Disiksa di atas salib pun, Isa masih bisa memaafkan mereka yang menzaliminya. Demikian pula dengan Siddhartha, Sang Buddha, ia memaafkan orang yang meracuninya. Muhammad memberikan amnesti kepada mereka semua yang pernah menciptakan keadaan sehingga ia mesti meninggalkan kota kelahirannya, dan berhijrah ke Madinah.

Menderita, memikul salib penderitaan demi kebaikan umum; mengorbankan segala kenyamanan hidup supaya dapat melayani sesama, inilah Punya Karma—Perbuatan yang Mulia. Kemudian dalam upaya itu, segala penderitaan, segala macam klesa menjadi benih bagi kelahiran ulang penuh perayaan, penuh keceriaan.

 

HOLA MENGARTIKAN HIDUP  PERAYAAN DAN KECERIAAN sebagai hidup tanpa tanggung jawab, hidup tanpa kepedulian terhadap apa dan siapa pun juga. Tidak, bukan itu maksud Patanjali.

Hidup penuh keceriaan, perayaan, nyanyian, dan tarian bukanlah hidup tanpa tantangan. Hidup penuh keceriaan, perayaan, nyanyian, dan tarian adalah hidup penuh tantangan—bahkan, penuh dengan tantangan-tantangan berat, dahsyat. Ketika seseorang dapat menghadapi semua tantangan itu dengan hati yang ceria, sanubari penuh lagu dan tari, maka ia disebut Yogi. Ialah yang hidupnya sekarang merupakan hasil dari Punya Karma—Perbuatan Mulia—sebelumnya. Ialah yang hidupnya menjadi berkah bagi semesta.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Tautan terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/04/29/benih-duka-derita-penyebab-kelahiran-panjang-pendek-usia-dan-beragam-pengalaman-kehidupan/

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s