Reinkarnasi Mekanisme Proses Daur Ulang Alami

buku soul awareness rumi

Rumi: Every door is another passage, another boundary we have to go beyond. Setiap pintu adalah lintasan lain, batas lain dimana kita harus melampauinya.

Aku mati sebagai mineral dan menjelma sebagai tumbuhan, aku mati sebagai tumbuhan dan lahir kembali sebagai binatang. Aku mati sebagai binatang dan kini manusia. Kenapa aku harus takut ? Maut  tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.

Sekali lagi, Aku masih harus mati sebagai manusia. Dan lahir di alam para malaikat. Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat, Aku masih harus mati lagi, Karena, kecuali Tuhan, Tidak ada sesuatu yang kekal abadi. Setelah kelahiranku sebagai malaikat, Aku masih akan menjelma lagi dalam bentuk yang tak kupahami. Ah, biarkan diriku lenyap, Memasuki kekosongan, kasunyataan. Karena hanya dalam kasunyatan itu  terdengar nyanyian mulai;

“Kepada Nya, kita semua akan kembali” (Jalaluddin Rumi)

Terjemahan Puisi Jalaluddin Rumi tersebut menjelaskan tentang reinkarnasi dalam buku (Krishna, Anand. (2002). Kematian, Panduan Untuk Menghadapinya Dengan Senyuman. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan reinkarnasi dalam buku Soul Awareness:

…………….

buku soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

 

Kelahiran dan kematian hanyalah kejadian-kejadian di dalam hidup. Kehidupan tak berakhir dengan kematian……

Kau telah lahir dan mati berulang kali. Kelahiranmu sekarang adalah bukti bahwa kau pernah mati sebelumnya, dan sekarang telah lahir kembali…….

Demikian Roda Sang Kala berputar terus, hingga suatu ketika kau melampaui permainan ini……..

Dan, menyatu kembali dengan Hyang Tunggal!

Baba Tolaram, Ayahku

 

Aku pernah mati, dan sekarang lahir kernbali…. Rupanya ada mekanisme alam yang sedang bekerja. Ada Mekanisme Proses Daur Ulang Alami yang sedang bekerja.

Ya, Daur Ulang…Kenapa Tidak? Manusia saja sudah mulai memikirkan proses daur ulang. Apakah alam begitu tumpul sehingga tidak terpikirkan proses serupa olehnya?‘

Air laut menguap menjadi awan, awan berubah menjadi air hujan, hujan turun mengguyur bumi lagi. Secara ilmiah pun sudah terbukti bahwa tidak ada sesuatu yang dapat musnah. Segala sesuatu di alam ini hanya berubah bentuk, itu saja.

Ya, energi memang tidak pemah punah, tidak pernah musnah. Apa yang disebut materi pun sesungguhnya hanyalah bentuk padat dari energi yang sama.

 

Kita Pernah Menertawakan Galileo, kita pernah menganggapnya gila, tidak waras, namun tetap menghukumnya. Masa orang gila, tidak waras dihukum? Nah, siapa yang gila? Kita atau dia?

Buktinya, sekarang kita setuju dengan penemuannya bahwa bumi kita ini bulat, tidak datar. Hari ini, kita boleh saja menertawakan para mistik, para bijak yang rnenyampaikan hal ihwal tentang sesuatu yang tidak masuk akal bagi kita.

Dalam ketumpulan akal kita, boleh saja kita menggunakan segala macam dalil dan pembelaan untuk membuktikan bahwa para mistik, para bijak yang berbicara tentang jiwa, yang membawa pesan rohani, adalah salah. Besok, kita akan menerima mereka. Besok, ketika otak kita yang berkarat mulai tebersihkan oleh waktu, kita akan memahami apa yang mereka katakan hari ini.

Seorang buta mengingkari keberadaan matahari, kebenaran matahari. Apa yang dapat kita buat? Membahas dengan mereka? Berupaya meyakinkan mereka? Yang buta tidak dapat melihat sehingga apa pun penjelasan kita tidak akan bermanfaat.

 

Ada Kisah dari Tradisi Mistik. Seorang siswa menyampaikan keluhannya kepada Sang Master, “Suhu, Guru, teman seperguruanku yang satu itu, sungguh sangat bodoh. Masa ia masih tidak yakin bahwa jiwa itu ada, bahwa kematian tidak mengakhiri kehidupan.

“Lalu, apa yang kau Iakukan?” tanya Sang Guru.

“Apa lagi Suhu, jika bukan berdebat…….” jawab Si Murid.

“Dan kau berhasil meyakinkannya?”

“Tidak, memang dasar tumpul tak tertolong.”

Pikir Murid yang merasa dirinya pintar, Guru akan memanggil, menegur, bahkan memarahi Si Tumpul.

Tetapi, pikiran tinggal pikiran. Guru tidak melakukan hal itu, malah Si “Pintar”yang dimarahinya, “Kenapa kamu ikut menjadi tumpul? Sudah tahu tumpul, kenapa masih berdebat dengan seorang tumpul? Tindakanmu itu membuat dirimu sama-sama tumpul seperti dirinya.”

 

Tidak Perlu Berdebat dengan Mereka yang telah menutup diri. Tidak ada gunanya. Sampai kapan pun mereka tidak akan paham, sebab, ya itu, mereka telah menutup diri mereka.

Ya, kalau ada yang dirinya terbuka, kalau ada yang mau mendengar, maka adalah kewajiban kita untuk menyampaikan berita baik ini. Berita bahwa, “Wahai Jiwa Abadi…….”

“Arjuna, kau dan Aku telah melewati banyak masa kehidupan. Aku mengingat semuanya—sementara kau tidak mengingatnya, Arjuna.” Bhagavad Gita Percakapan IV, Ayat 5 (Gramedia Pustaka Utarna, 2015)

Dari medan Perang Kurukshetra, masih terdengar jelas suar a Sri Krishna.

“Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama, seseorang memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” Bhagawad Gita Percakapan II, Ayat 22 (Gramedia Pustaka Utama. 2015)

 

Saya, Sebagajmana Anda, Pernah Berada di Sini. Ini bukan kunjungan saya yang pertama. Dunia ini tidak asing lagi bagi saya. Saya masih ingat kata-kata Sang Buddha, yang meninggalkan istananya untuk mencari Kebenaran.

“Ia yang Bijak, mengetahui segala sesuatu tentang kelahiran-kelahiran sebelumnya. Ia memahami rahasia surga dan neraka. Bagi dia, kelahiran ini merupakan yang terakbir kalinya, karena Ia telah mencapai Kesadaran yang Tertinggi; Ia telah mencapai Kesempurnaan.” Dhammapada, Ayat 423

 

Di Antara para Bijak yang Telah Mencapai Kesempurnaan,

teringat pula oleh saya Ia yang datang untuk Menyebarkan Kasih Ilahi—Yesus, Sang Kristus. Teringat nama Yohanes, Sang Pembaptis yang datang untuk membuka jalan bagi Kristus. Saya masih ingat kata-kata Yesus.

“Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kebendak mereka.” Injil Matius, 17: 11/12

 

Injil Menjelaskan Lebih Lanjut: “Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa In berbicara tentang Yohanes Pembaptis.” (Matius 17: 13)

Apa maksudnya?

Ada yang mengatakan bahwa para bijak sadar akan kebenaran mekanisme alam ini. Bahwasanya, kematian tidak dapat mengakhiri kehidupan. Kehidupan berjalan terus. Namun, ada juga yang tidak memiliki pemahaman seperti itu.

Guru saya selalu mengingatkan, “Kebenaran memiliki banyak sisi dan setiap sisi justru menambah keindahannya.” Anda memandang dari satu sisi, yang Iain memandang dari sisi yang lain. Kemudian, kalian bertengkar—untuk apa, untuk mempertahankan kebenaran? Kebenaran sebagaimana Anda pahami? Untuk membela kebenaran sebagaimana Anda memersepsikannya?

 

Saya Memiliki Segudang Pengalaman Pribadi, pengalaman-pengalaman yang adalah benar bagi saya. Namun, saya juga sadar betul bahwa setelah mendengarkan pengalaman saya, banyak di antara Anda yang tidak akan setuju dengan saya.

Lantas, apa yang harus saya lakukan? Memaksa Anda? Tidak. Saya harus menghormati hak Anda unruk tidak setuju dengan saya. Pada saat yang sama, saya pun boleh berharap bahwa Anda akan menghormati hak saya untuk berpendapat menurut keyakinan saya.

Jika kita cekal-mencekal, cakar-mencakar, sesat-menyesatkan karena perbedaan pendapat dan persepsi, sungguh sempit sekali wawasan kita.

Mereka yang terlibat dalam upaya-upaya bodoh sesat-menyesatkan hanya membuktikan bahwa selama ini mereka memang tidak percaya pada “Persatuan”. Mereka hanya menginginkan penyeragaman.

Siapa pun boleh menggunakan kata-kata muluk, seperti Persatuan, Hak-Hak Asasi Manusia,Toleransi, dan sebagainya. Namun, tidak setiap orang yang menggunakan kata-kata tersebut memahami, apalagi meyakini, arti kata-kata tersebut.

 

Kita Tidak Dapat Memaksa Orang Lain untuk melihat kebenaran dari sisi pandang kita. Kita tidak dapat memaksa orang lain untuk menerima persepsi kita tentang hukum-hukum keberadaan.

Ada kisah sufi yang manis sekali. Dikutip oleh Rumi, kisah ini, sebagaimana diakui pula oleh Sang Sufi, berasal dari wilayah peradaban Hindia.

Tujuh orang buta ingin mengenal gajah. Mereka banyak mendengar tentang binatang yang disebut gajah, tetapi belum pernah mehhatnya. Bagaimana bisa melihatnya? Mereka buta sejak lahir.

Seorang teman yang tidak buta, mengajak mereka ke kebun binatang. Para buta dipersilakan untuk meraba-raba seekor gajah. Seorang di antara mereka meraba kakinya, dan mengatakan bahwa gajah itu seperti tiang.

Yang rnemegang kupingnya, mengatakan bahwa gajah itu seperti kipas. Yang menyentuh belalainya, mengatakan bahwa gajah itu seperti tali yang panjang dan tebal. Setiap orang di antara mereka memiliki pandangan yang berbeda-beda. Mereka tidak bisa melihat gajah dalam keutuhannya. Kebutaan mereka membuat pandangan mereka sangat terbatas.

Ada yang melihat Kebenaran dari sudut pandang kepercayaannya, dan menyatakan bahwa apa yang terlihat olehnya itulah Kebenaran. Ada yang melihat dari sudut pandang yang lain, dari sudut pandang kepercayaan A, B, C, D…X, Y, Z. Setiap di antara mereka menyatakan bahwa pandangannya saja yang benar. Kita semua yang masih sering melakukan klaim seperti itu ibarat orang-orang buta yang diceritakan di depan.

 

Sungguh Sangat Menggelikan Ketika Kita Mendengar seseorang berkata, “Ah, itu kan konsep monoisme, konsep yang kita anut adalah konsep monoteisme. “Ah, itu kan politeisme; ah, itu kan ini-isme; ah, itu kan itu-isme.”

Membingung. Kebutaan kita sudah sangat parah, bahkan sudah menular ke mana-mana. Mereka yang kita tempatkan pada posisi tinggi dengan harapan dapat membimbing orang-orang kecil di bawah pun ketularan penyakit kebutaan ini.

Nah, penyakit kebutaan inilah yang mesti diobati. Kita harus melek. Kita harus sadar. Kita harus terbangun dari tidur panjang kita untuk melihat bahwa Kebenaran memiliki begitu banyak sisi.

Kita harus bisa melihat gajah dalam keutuhannya. Kebenaran tidak dapat dipenggal-penggal dengan pernyataan-pernyataan berwawasan sempit yang hanya membuktikan kekabutan pandangan kita.

Mari kita terima undangan para bijak untuk menerima setiap sisi Kebenaran. Semoga kita sadar bahwa setiap sisi itu benar adanya, dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Kebenaran yang satu dan sama. Kebenaran yang itu-itu juga. Sekali lagi, apakah kita siap menerimanya?

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s