Urusan Ritual Jangan Membebani Niat Lebih Penting?

buku dvipantara yoga sastra canang sari

Persembahan Sesajen Sederhana

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.”

Ritus-ritus, tradisi-tradisi yang mengharuskan kita menghaturkan persembahan ini dan persembahan itu – adalah proyeksi dari pikiran yang kacau. Seolah Tuhan dapat dibeli dengan cara itu.

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan. Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah. Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi. Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, ‘Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku’. Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan ‘diri’ kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung.

Krsna bukan dan tidak pernah anti-ritus. Ia anti tradisi-tradisi ‘picisan’ yang memberatkan. Silakan mengikuti, memilih, bahkan menciptakan ritus sendiri, sesuai dengan kata hati. Bukan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang. Dikutip dari Bhagavad Gita 9:26, (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan perhatikan pandangan Kitab Vrati Sasana, Pedoman Perilaku, Pedoman Disiplin Diri untuk para pencari spiritual, salah satu risalah asli yang digubah oleh Genius Asli Dvipantara – Kepulauan Nusantara – dalam bahasa Sanskrit.

Silakan simak penjelasan tentang Kesederhanaan Ritual, yang mudah dilaksanakan pada kutipan di bawah ini:

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

|| Vrati Sasana 28 ||

avahyamupākaraṇaṁ kleśaṁ purīṣmeva ca

bhasma surāṁ ca bhakṣyaṁ ca tat kṛtvā yāti pātakam

 

Jangalah sekali-kali engkau berduka karena pikiran seperti, “Apakah aku sudah melakukan ritual ini dengan benar atau tidak” dan semacamnya. Adalah niatmu yang penting.

Pada saat yang sama, waspadalah senantiasa dan jangan melupakan bhasma, realitas-abu dari segala sesuatu, sifat ketidaklanggengan dari segala keberadaan.

Hindarilah segala sesuatu yang memabukkan, termasuk kesombongan, yang sangat destruktif. (Vrati Sasana 28)

 

ADA IDIOM-IDIOM DALAM SEMUA BAHASA yang harus dipahami dengan tepat. Ketika kita menerjemahkan sebuah idiom secara “harfiah” — idiom tersebut bisa kehilangan baik makna maupun signifikansinya.

“Jangan membawa bhasma atau abu ke bar karena ia bisa tercemar” — bila diterjemahkan secara harfiah, idiom ini kehilangan maknanya.

“Jangan membawa bhasma ke bar” adalah peringatan jelas kepada semua yang mungkin telah memiliki sedikit-banyak kesadaran tentang sifat ketidaklanggengan dari keberadaan. “Walaupun memiliki kesadaran tersebut, senantiasalah waspada! Jangan termabukkan oleh kebanggaan dan kesombongan sehingga engkau melupakan kesadaranmu.”

 

TERKAIT DENGAN UPAKARANA yang bisa diterjemahkan sebagai ritual dan juga lencana dan simbol.

“Janganlah sekali-kali berduka, atau klesa karena urusan upakarana — karena urusan ritual, simbol dan lencana!” Anjuran ini jelas-jelas mengindikasikan bahwa segala bentuk luaran dari ibadah hendaknya tidak membebani kita.

Kata “Sahaja” atau gampang, tanpa upaya – selalu diasosiasikan dengan ritual, dengan bentuk luaran dari ibadah. Ritual-ritual yang rumit tidak hanya memakan waktu, biaya, dan tenaga, tetapi juga bisa kehilangan makna sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran seseorang.

Banyak pendukung dari ritual-ritual rumit menganggap ritual-ritual tersebut sebagai tujuan. Mereka lupa memandang ritual sebagai sarana. Ritual menggosok gigi setiap pagi dan/atau malam bermaksud untuk menjaga kesehatan kita. Bahkan bukan sekadar kesehatan gigi dan gusi semata, tapi kesehatan keseluruhan tubuh kita.

Dengan demikian, menggosok gigi bukanlah segala-galanya. Jika kita sadar akan maksudnya – yaitu untuk menjaga kesehatan – maka kita juga harus makan yang tepat, berolahraga, dan sebagainya.

 

RlTUAL—RITUAL DAN BENTUK-BENTUK LUARAN DARI IBADAH bisa diibaratkan sebagai kegiatan menggosok gigi. Mulia, tetapi seseorang tetap harus practical juga. Kita tidak bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggosok gigi.

Di samping itu, sebagaimana telah dibahas sebelumnya — menggosok gigi saja, ritual luaran saja tidak cukup. Oleh karena itu, risalah ini membahas tentang panduan-panduan yama, niyama, dan dharma yang harus dipatuhi.

Risalah ini menjadi tidak berguna, jika ritual saja sudah cukup. Semua anjuran dari sang resi akan kehilangan maknanya jika kita bisa hidup damai dan memperoleh kesadaran diri dengan melakukan ritual saja.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s