Pintu Siva 3 Cakra Terkait Perilaku Seksual dan Empati: Alat Kelamin, Hati Psikis dan Atas Kepala

buku dvipantara yoga chakra sumber internet

Ilustrasi Cakra dari internet

Pintu Siva — adalah kata yang sangat kuat, mencakup “pentingnya” ketiga cakra: Cakra ke-2 sekitar alat kelamin,Cakra ke-4 sekitar Hati Psikis, dan Cakra ke-7 di atas kepala. Semua 3 cakra ini dianggap sangat penting dalam tradisi dan laku Tantra untuk membantu Jiwa Individu memenuhi takdirnya dan mewujudkan Persatuan dengan Jiwa Agung.

Penjelasan Sloka ke 9 tentang Pintu Siva tersebut bersumber dari kitab Vrati Sasana yang mengandung Pedoman Perilaku, Pedoman Disiplin Diri untuk para pencari spiritual, salah satu risalah asli yang digubah oleh Genius Asli Dvipantara – Kepulauan Nusantara – dalam bahasa Sanskrit.

Silakan simak penjelasan Pintu Siva pada kutipan di bawah ini:

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

|| Vrati Sasana 9 ||

śikhā-jihvā-śivadvāraṁ strīsūtaiḥ śūdrabālakaiḥ

śavakavyaṁ na bhakṣyaṁ ca śavasaṁsparśanaṁ bhavet

 

Seseorang yang berupaya hidup teratur hendaknya tidak membiarkan apa pun, yang bisa mencemari tangan, lidah (mulut), dan Sivadvara atau Pintu Siva (Alat Kelamin, Hati Psikis, dan/atau Cakra atau Pusat Energi ke-7 di atas kepala). Hendaknya, ia juga tidak mengharapkan apa pun dari seorang perempuan yang sedang menstruasi; dan tidak menerima hadiah dari mereka yang kurang berkecukupan — dari Sudra atau kelas pekerja yang sudah harus bekerja keras untuk hidup layak.

Ia juga harus menjauhi tindakan mengeksploitasi mereka yang sudah wafat (memanipulasi dokumen hukum, surat gadai, dan sejenisnya — karena beranggapan bahwa mendiang tidak akan mungkin bersaksi), atau mengharapkan apa pun dari mereka yang sedang berduka. Vrati Sasana (9)

 

AYAT INI BERBICARA TENTANG BERPIKIR TEPAT, BERBICARA TEPAT, DAN BERPERASAAN TEPAT. Semuanya akan menuntun kita pada tindakan yang tepat, cara hidup yang tepat.

Sivadvara atau Pintu Siva adalah kata yang unik, tidak ditemukan dalam literatur lain. Simbol dari Siva adalah Linga Kreativitas. Sivadvara bisa juga berarti alat kelamin, organ seks pada pria maupun wanita, sehingga Sivadvara bisa diartikan sebagai Perilaku Seksual yang tepat, atau Perilaku yang Tepat dalam semua aspek kehidupan.

Interpretasi ini akan sesuai, cocok dengan anjuran berikutnya — Tidak Mengharapkan Apa pun dari seorang Perempuan yang sedang Menstruasi. Ini adalah anjuran untuk menghormati keperempuananan. Ini adalah anjuran untuk menjadi penuh pertimbangan dan berempati. Ditujukan khusus kepada kaum pria, ini adalah anjuran untuk menahan diri dari tindakan seksual apa pun selama masa mentruasi tersebut.

Atau Sivadvara juga berarti Cakra ke-7 atau yang disebut Cakra Mahkota dalam Ilmu Kundalini Yoga; atau Cakra ke-4 yang terkait dengan Hati Psikis — singgasana jiwa dalam semua makhluk hidup.

Dalam pengertian manapun, kata Sivadvara – Pintu Siva — adalah kata yang sangat kuat, mencakup “pentingnya” ketiga cakra yang dijelaskan di atas: Cakra ke-2 sekitar alat kelamin,Cakra ke-4 sekitar Hati Psikis, dan Cakra ke-7 di atas kepala. Semua 3 cakra ini dianggap sangat penting dalam tradisi dan laku Tantra untuk membantu Jiwa Individu memenuhi takdirnya dan mewujudkan Persatuan dengan Jiwa Agung.

 

BERIKUTNYA ADALAH TENTANG TIDAK MENERIMA APA PUN DARI KAUM SUDRA — bukan karena mereka adalah kaum terbuang, tetapi karena mereka adalah kaum yang berkekurangan. Mereka sudah bekerja sangat keras untuk memenuhi kebutuhan hidup; dan sistem kita membebani mereka dengan pajak, biaya pendidikan dan pengobatan. Hal ini tidakah bijak.

Kita harus selalu berupaya untuk menolong mereka yang kekurangan, bukannya menambah beban mereka. Dalam konteks ini, adalah sangat penting memaknai kembali arti kata Sudra.

 

TERJEMAHAN PALING TEPAT UNTUK KATA SUDRA ADALAH KELAS PEKERJA, yaitu mereka yang dipekerjakan, dan tidak menggaji dirinya sendiri.

Keseluruhan kelas pekerja dapat digolongkan sebagai Sudra. Tetapi, tentu saja tidak semuanya hidup berkekurangan.

Jadi, pertama-tama, jika seseorang masih saja memilih untuk memahami “ke-Sudra-an berdasarkan keturunan” – maka pemahaman seperti itu sungguh tidak bermakna dan tidak relevan.

Ada orang-orang yang terlahir dalam keluarga Brahmana, keluarga para pendeta, cendekiawan, pendidik — tetapi bekerja sebagai Ksatriya, mungkin sebagai tentara, sebagai politisi, sebagai wakil rakyat, sebagai menteri, atau bahkan kepala negara.

Lalu, ada pula mereka yang terlahir sebagai Sudra, tetapi menjadi ahli di bidang sains dan teknologi, atau menjadi pengusaha sukses.

 

VYASA, RESI AGUNG SEKALIGUS EDITOR VEDA adalah anak dari apa yang biasa disebut “hubungan luar nikah” antara Resi Parasara dan Satyavati, seorang wanita nelayan. Namun, ia dihormati sebagai Jagadguru – Guru se-Jagad, Guru Dunia, karena karyanya, dan bukan karena keluarganya.

Jadi, terlahir di keluarga Sudra haruslah diartikan sebagai terlahir dalam keluarga kelas-menengah, kelas pekerja. Dan, tidak ada peraturan, tidak ada keharusan bahwa seseorang yang terlahir dalam keluarga kelas menengah, kelas pekerja, harus tetap berada dalam kelas tersebut seumur hidupnya.

Seorang Sudra, bahkan jika kata Sudra disalahtafsirkan sebagai seorang yang terlahir dalam sebuah keluarga kelas bawah, atau dalam kasta rendahan — masih dapat bekerja keras untuk mewujudkan impiannya.

 

TIDAK MENERIMA HADIAH DARI KAUM SUDRA, sekali lagi adalah untuk dipahami sebagai tidak menerima apa pun dari mereka yang berkekurangan. Kita harus cukup bijak untuk membedakan kelas pekerja sebagai kelas pekerja, dan yang berkekurangan di antara mereka sebagai yang berkekurangan.

Mereka yang berkekurangan haruslah dilayani.

Adalah keberuntungan kita untuk melayani mereka, membantu mereka dengan cara yang kita bisa. Mengharapkan mereka untuk melayani kita, atau mengeksploitasi mereka hanya karena mereka sedang membutuhkan — bukanlah sifat yang bijak.

 

TERAKHIR, ADALAH TENTANG MENGHORMATI MEREKA YANG TELAH WAFAT… Di masa lampau bahkan hingga hari ini, dalam beberapa komunitas, hutang yang belum terbayar dari mereka yang telah wafat dianggap lunas. Para pemberi-hutang menganggap tindakan tersebut sebagai bagian dari risiko bisnis. Terlepas dari segala kekurangannya, tradisi ini memang masuk akal.

Apa yang tidak masuk akal sama sekali adalah mengeksploitasi mendiang demi keuntungan kita, “Ayahmu meminjam sejumlah uang yang tidak pernah ia kembalikan — lihat, aku masih memegang surat hutang yang ia tulis.” Padahal mungkin saja mendiang telah menyelesaikan hutangnya dan lupa menarik kembali surat utang tersebut, atau bahkan surat hutang tersebut palsu. Ini adalah kejahatan serius, eksploitasi dan manipulasi serius.

 

SESEORANG JUGA HENDAKNYA TIDAK MEMBUAT KLAIM SEPERTI, “Aku telah melayani mendiang selama ini, dan cukup adil bila aku mendapat bagian dari propertinya, asetnya.”

Bahkan jika namanya tertera dalam wasiat dari mendiang, ia harus senantiasa berupaya untuk mencari penerima yang lebih baik dan lebih layak untuk warisan tersebut.

Anjuran untuk “bahkan jangan menyentuh hadiah dan pemberian dari mendiang” berarti, gunakanlah untuk kepentingan amal atas nama sang mendiang.

Ketika anak mewarisi properti, aset, dan bisnis dari orang tuanya yang telah wafat atau pensiun – mereka haruslah menganggap diri sebagai wali, sebagai yang diberi amanat. Mereka tidak hanya bekerja keras untuk mempertahankan aset tersebut, tetapi juga menumbuhkan, mengembangkan, dan memajukannya – serta tidak lupa pula untuk berbagi berkah terutama kepada mereka yang membutuhkan.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s