Jangan Mencuri! Potong Akar Penyebab Keserakahan Diri?

buku telaga pencerahan musa jangan mencuri

Ilustrasi 10 Perintah Tuhan kepada Musa

Kita sudah gagal dalam upaya kita. Cara kita mendidik, cara kita mengajar, semuanya tidak membawakan hasil apa pun. Kita hanya berhasil menciptakan maling-maling yang semakin pintar, dan semakin licik. Mereka yang tertangkap, kita hukum; yang tidak, kita puji sebagai orang yang berhasil. Yang menghukum, yang dihukum, semuanya berada dalam perahu yang sama. Perahu ini akan segera tenggelam, karena sudah bocor sejak lama!

Jangan lagi membuang waktu untuk berdiskusi, berloka-karya, berargumentasi. Sadarlah akan kekayaan diri Anda, dan Anda tidak akan terlibat lagi dalam pencurian, Anda akan menjadi baik dengan sendirinya. Tidak perlu lagi membuat undang-undang untuk membuat Anda jadi baik. Demikian kutipan penjelasan Bhagavad Gita 2:59

Kutipan berikut berisi penjelasan “Jangan Mencuri” pada Kitab Perjanjian Lama……

buku telaga pencerahan

Cover Buku Telaga Pencerahan

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Bukan hanya menjarah, merampok dan merampas hak orang—bukan hanya itu saja yang dapat disebut pencurian. Menimbun harta-benda secara berlebihan dan mengharapkan imbalan yang jauh melebihi hak kita—itu pun pencurian. Secara tidak sengaja, kita merampas hak orang.

Seorang majikan yang mampu, tetapi tidak peduli terhadap kesejahteraan dan kebutuhan para pekerjanya adalah seorang pencuri.

Seorang anak kehilangan ibunya sewaktu masih kecil dan dibesarkan oleh ayahnya. Sang ayah ini seorang pemabuk, tidak begitu memperhatikan anaknya dan lebih banyak berada di luar rumah. Jelas tidak ada yang membimbing anak itu. Pada suatu hari ia kehilangan pensil. Takut dimarahi oleh ayahnya, ia mencuri pensil seorang teman. Hari itu ia mencuri untuk pertama kalinya.

Beberapa hari kemudian, ia mencuri sesuatu yang lain. Kali ini bukan karena ia butuh, tetapi karena ia sudah terbiasa. Ia mulai membawa pulang barang-barang curian ke rumah. Sang ayah sempat juga menegur dia, “Dari mana saja kau memperoleh semua ini?”

“Diberi oleh teman”—demikian jawaban anak itu. Si ayah bisa merasakan, teman mana yang akan memberikan begitu banyak barang, itu pun hampir setiap hari. Tetapi ia diam saja. Dalam hati ia berpikir, “Biarkan saja—setidaknya dia tidak minta sesuatu apa pun dari saya. Saya bisa gunakan uang saya untuk beli minuman keras.”

Anak kecil yang tadinya hanya melakukan pencurian kecil, akhirnya menjadi perampok besar. Sudah menjadi profesi—ya pembunuhan pun ia lakukan. Pada. suatu hari ia tertangkap basah dan setelah diadili, diberi hukuman mati.

Sebelum digantung, ia ditanyai keinginannya yang terakhir. Ia ingin bertemu dengan ayahnya. Sang ayah pun dipanggil ke penjara. “Lihat ayah, semuanya ini terjadi karena pencurian-pencurian kecil yang saya lakukan waktu masih kecil dan ayah tidak pernah menegur saya. Seandainya saat itu ayah menegur saya, menampar saya, mungkin saya tidak jadi perampok, mungkin saya tidak akan mati di tiang gantungan”—demikian kata-kata terakhir dia sebelum menerima hukumannya.

Mungkin dia benar, mungkin juga tidak. Banyak di antara kita yang melakukan pencurian-pencurian kecil sewaktu masih duduk di bangku SD. Tidak berarti setiap anak yang melakukan pencurian-pencurian kecil semacam itu akhirnya menjadi perampok atau penjarah.

Mereka yang berprofesi sebagai “pencuri” tertarik pada profesi itu karena keserakahan mereka sendiri. Kalau tidak serakah, mereka bisa saja ganti profesi. Mereka sudah terbiasa mencari nafkah dengan cara yang gampang.

Saya kenal seorang dokter yang sangat konsisten dengan ucapannya. Siapa pun pasiennya, apa pun penyakitnya, setelah memeriksanya, ia selalu mengatakan, “Wah untung cepat-cepat ke sini. Penyakitnya sih sudah gawat, tetapi… ya masih bisa diatasi. Cuma memang obatnya agak mahal dan Anda harus kembali lagi minggu depan.” Dokter seperti ini adalah seorang pencuri.

Seorang politisi, seorang pejabat atau seorang wakil rakyat, yang menggadaikan jabatannya dan menjual kepercayaan rakyat yang memilihnya demi beberapa kepingan mas adalah seorang pencuri.

Ayah Mulla Nasruddin ingin menguji akhlak anaknya yang baru saja pulang dari luar negeri, setelah menyelesaikan pendidikannya. Kamar tidurnya didandani, perabotnya diganti dan terakhir sang ayah menaruh sesuatu di atas meja tulis Mulla. Ibu Mulla bertanya, “Papi, apa lagi yang Papi taruh di situ?” .

Sang ayah menjawab, “Oh, itu untuk menguji akhlak anak kita. Lihat di situ saya taruh dompet uang, kitab suci, satu botol anggur dan senjata api.”

“Tetapi semuanya itu untuk apa, Pap?” tanya Ibu Mulla agak bingung.

“Begini, kalau anak kita memperhatikan dompet dan mengambilnya, ia akan menjadi seorang pedagang. Seorang pengusaha memang harus memikirkan uang, memikirkan keuntungan. Nah, kalau ia mengambil kitab suci, ia akan menjadi seorang ulama, seorang pendeta, seorang ahli agama, pakar agama. Ia tidak akan memperhatikan benda-benda lain yang ada di atas meja itu. Kalau ia mengambil botol anggur, berarti ia akan menjadi seorang pemabuk. Ia akan menghamburkan harta kita. Apalagi kalau ia mengambil senjata api, ia akan menjadi seorang perampok, pembunuh berdarah dingin, penjarah, pencuri, penyelundup”—clemikian penjelasan ayah Nasruddin.

Lantas mereka berdua sembunyi di balik tirai, sambil menunggu Mulla memasuki kamarnya. Apa yang mereka lihat, tidak pernah terpikirkan oleh sang ayah sebelumnya: Dengan gayanya yang khas, Mulla memasuki kamar itu. Ia melihat dompet berisi uang, kitab suci, anggur dan senjata api di atas meja. Ia memperhatikan empat-empatnya, Tanpa berpikir panjang, pertama-tama ia membuka botol anggur dan langsung meminumnya. Setelah itu, ia mengantongi dompet uang. Lantas ia mengambil senjata api dan menyembunyikannya di balik jaket. Terakhir, ia memungut kitab suci, membukanya dan sambil membaca ayat-ayat suci ia meninggalkan kamar itu.

“Wah, celaka Mam, anak kita akan menjadi seorang pejabat, seorang politisi”—demikian kesimpulan ayah Nasruddin.

Kemunafikan sama dengan perzinahan. Kemunafikan kita dapat mencelakakan orang lain, dapat merugikan orang lain. Senjata api di balik baju dan kitab suci di tangan kita—siapa yang ingin kita tipu? Sebenarnya kita menipu diri kita sendiri.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s