Kisah Masnawi: Istri yang Tergoda dan Suami yang Bodoh

buku masnawi 4

Cover Buku Masnawi Empat

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Kisah ini tentang seonmg wanita yang sudah nikah, tetapi menjalin hubungan gelap dengan pria lain. Pada awalnya, mungkin masih main ”gelap-gelapan”. Lama-lama, wanita itu semakin berani. Kebetulan suaminya memang bodoh, mudah dikelabui……..

 

Pada suatu hari seorang wanita sedang jalan bersama suaminya. Eh, dia bertemu pacar dalam perjalanan, maka timbullah keinginan untuk memeluk dia, untuk mencium dia. Dia bisa berpikir cepat dan membohongi suaminya: “Sayang, aku ingin memanjat pohon pir untuk mengambil buahnya.” Saat itu, mereka memang berada di bawah pohon pir.

Setelah berada di atas pohon, dia meneriaki  suaminya: “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Tidak apa-apa.”—jawab si suami.

“Jangan membohongi aku. Kamu sedang bercumbuan dengan seorang wanita.”—kata istri “asusila” itu.

“Bercumbuan? Tidak, tidak ada siapa-siapa di sini. Mau bercumbuan dengan siapa?”‘

“Ya sudah, aku akan turun dan melihatnya sendiri.”

“Turun saja. Kamu koq kacau banget….. “

Turun dari pohon, dia minta agar suaminya memanjat pohon untuk mengambil buah pir yang tidak jadi diambilnya. Begitu sang suami berada di atas pohon, wanita itu mulai bercumbuan dengan pacarnya. Memeluknya, menciumnya. Sang suami pun berang, “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Tidak apa-apa.”—jawab istri dia.

“Jangan membohongi aku. Kamu sedang bercumbuan dengan seorang pria.”—si suami tidak sadar bahwa dirinya sudah menjadi korban “siasat” istrinya.

“Bercumbuan? Tidak, tidak ada siapa-siapa di sini. Mau bercumbuan dengan siapa? Sepertinya berada di atas pohon itu kita mulai melihat yang bukan-bukan. Tadi, aku pun demikian. Melihat kamu bercumbuan dengan seorang wanita, padahal kamu tidak melakukan apa-apa.”

“Iya, ya?!!”

Kisah konyol ini mengandung pelajaran. Dengarkan dengan baik. Selamilah kandungannya. Ada mutiara hikmah di dalamnya. Bila engkau seorang bijak, mutiara itu akan menjadi milikmu.

 

Sang istri dalam kisah ini mewakili dunia benda yang bersifat sementara, temporal, berubah terus. Pindah tangan terus. Seperti harta dan takhta, hari ini menjadi milik kita. Besok menjadi milik orang. Hari ini dalam pelukan saya, besok dalam pelukan anda. Ya, persis seperti wanita “asusila”, wanita yang tidak setia.

Keterikatan pada dunia benda membuat kita menjadi bodoh. Persis seperti sosok suami di dalam kisah ini.

Dan pohon pir adalah ego kita, keangkuhan kita. Sudah terikat dengan dunia benda, sudah bodoh masih mau memanjat pohon ego. Ya, begitulah jadinya …… Siapa pun bisa menipu kita, bisa membohongi kita. “Asusila” tampak ”susila”. Yang benar terasa tidak benar. Yang tidak benar terasa benar. Yang baik kita anggap jahat. Yang jahat kita anggap baik. Kacau sudah penglihatan, pikiran, dan perasaan kita.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Masnawi: Istri yang Tergoda dan Suami yang Bodoh

  1. Reblogged this on Ni Made Adnyani and commented:
    Saya merasa kadang kadang sulit memiliki pikiran yang jernih, sesuatu yang benar terasa tidak benar dan sesuatu yang tidak benar terasa benar. Disinilah viveka dibutuhkan. viveka bisa digunakan kalau sudah tumbuh. bagaimana menumbuhkan Viveka. melakukan sadhana, olah spiritual. sadhana saja tidak cukup, kita tetap memerlukan berkah, berkah seorang GURU

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s