Benih Duka-Derita Penyebab Kelahiran, Panjang Pendek Usia dan Beragam Pengalaman Kehidupan

buku yoga sutra patanjali duka derita

Ilustrasi Duka Derita

Sadar atau tidak, kita semua sedang mengejar ananda—kebahagiaan kekal, abadi, langgeng. Setiap penderitaan, setiap pengalaman duka membuat kita makin ngebet dalam pencarian kita. Setiap pengalaman duka membuat kita berharap, “Next time better.” Terucap atau tidak, kita semua—tanpa kecuali—selalu berharap bahwa di ujung terowongan-duka yang sedang kita lewati, pasti ada harapan baru. Kita selalu mengejar setitik cahaya harapan di ujung terowongan. Harapan inilah yang menyebabkan terjadinya kelahiran ulang. Harapan ini pula yang menyebabkan kita berbuat “lebih baik” supaya hidup kita selanjutnya bebas dari duka. Demikian penjelasan dalam Yoga Sutra Patanjali II.12

Bila yang menyebabkan kita mati adalah kekecewaan dan yang menyebabkan lahir kembali adalah harapan untuk next time better, maka sebenarnya yang menyebabkan kita mati adalah duka derita.

Kalau benih kelahiran ulang kita akibat duka derita bisakah di kehidupan kita ini lepas dari benih tersebut? Silakan simak penjelasan Yoga Sutra Patanjali kelanjutannya:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Selama sumber atau akar karma atau perbuatan masih ada, masih eksis—daIam arti kata, selama klesa atau duka-derita masih ada dan tersisa—, maka berbuahnya perbuatan dan karma adalah suatu keniscayaan. Pembuahan itulah yang menyebabkan kelahiran, panjang atau pendek usia, dan beragam pengalaman kehidupan lainnya.” Yoga Sutra Patanjali II.13

 

Sutra ini mesti dibaca berulang kali sebelum kita melakukan penyelaman lebih dalam. Silakan. Sudah? Kita lanjutkan,

“SELAMA AKAR KARMA ATAU PERBUATAN, YAKNI KLESA ATAU PENGALAMAN DUKA-DERITA Masih Eksis, selama itu pula kelahiran-ulang tidak dapar dihindari.” Terlebih dahulu kita perlu memahami, menyelami penggalan awal ini.

Berarti, benih bagi kelahiran ulang adalah klesa—duka-derita. Aha, jika memang demikian, harapan kita untuk mendapatkan pengalaman lain adalah ilusif. Harapan itu tidak mungkin terpenuhi. Sebab benihnya saja sudah klesa. Mau mengharapkan buah apel dari benih, biji buah asem? Bisa? Jelas tidak bisa.

Keberadaan, Prakrti, Alam Kebendaan telah memasang ranjau, perangkap untuk kita—untuk Jiwa—supaya kita tetap bertahan di alam benda, supaya tetap terikat dengan kebendaan.

Keadaan kita tidaklah lebih baik daripada keadaan seorang penjudi. “Hari ini kalah, tapi apa iya setiap hari kalah? Besok pasti menang.” Kemudian, terdorong oleh harapan ilusif itu si penjudi berjudi lagi.

Harapan tinggal harapan.

Kegiatan judi itu sendiri mengandung benih-benih klesa atau duka-derita. Tidak ada, tidak pernah ada seorang penjudi yang selalu menang. Tidak ada seorang penjudi yang meraih kebahagiaan sejati karena judi. Tidak ada.

 

KELAHIRAN KITA SEMUA, tanpa kecuali, disebabkan oleh benih klesa, penderitaan. Maka, buahnya sudah pasti klesa juga.

Hasil akhir dari kehidupan adalah duka-derita, klesa lagi—yang kemudian menjadi benih bagi kehidupan berikutnya. Demikian secara terus-menerus. Inilah samsara yang berlanjut, tak pemah berakhir.

Kemudian, bersama dengan kelahiran ulang, akar karma berupa klesa dan duka-derita juga menentukan ayu atau panjang pendeknya masa kehidupan. Termasuk juga kualitas hidup—sakit-sakitan atau relatif sehat. Ya, relatif sehat. Karena tidak ada istilah “selalu sehat, tidak pemah sakit”. Seseorang boleh  mengatakan, “Aku tidak pemah ke dokter.” Namun, tidak pernah ke dokter tidak berarti tidak pernah sakit.

 

DAMPAK DARI BENIH KLESA—Entah penyakit fisik, gangguan mental dan emosional, atau apa saja. Tidak seorang pun bisa menghindari penyakit.

Proses menua juga termasuk penyakit, yang disebabkan oleh kerusakan sel-sel di dalam tubuh. Taruhlah ada orang yang seumur hidup tidak pernah sakit—masuk angin atau pilek pun tidak pernah—,tapi, ia tetap saja menua. Akhirnya tetap mati juga. Tidak ada cara untuk menghindarinya.

Kita bisa memperbaiki kualitas hidup, bisa juga memperpanjang usia. Tapi, bisakah kita menghindari kematian fisik? Tidak bisa.

Mau menggunakan anti-oksidan sehebat apa pun, penuaan tetap tidak dapat dihentikan. Paling banter diperlamban. Alasannya, ya itu, karena benih kehidupan adalah karma yang berakar pada klesa, duka-derita. Dan, penyakit adalah salah satu ungkapan duka-derita.

Penyakit yang “terlihat” adalah ungkapan klesa yang nyata. Penyakit yang “tidak terlihat”—seperti proses penuaan yang terjadi setiap detik, namun hanya terdeteksi setelah sekian bulan atau sekian tahun—adalah ungkapan klesa yang tidak nyata.

Nyata atau tidak nyata, klesa tetaplah klesa. Benih duka-derita tidak bisa menghasilkan sesuatu yang lain di luar duka-derita.

 

KARMA YANG BERAKAR PADA KLESA atau duka-derita juga menentukan pengalaman-pengelaman hidup, atau apa yang dalam sutra ini disebut bhoga—sesuatu yang dialami.

Benih-benih penderitaan tidak bisa-tidak menghasilkan buah penderitaan. Tinggal tingkat penderitaannya yang berbeda dari satu pengalaman ke pengalaman lainnya. Panjang pendek usia terkait dengan masa penderitaan. Secara umum, lebih panjang usia seseorang, Iebih lama pula penderitaannya. Jadi, usia panjang belum tentu meruupakan berkah. Usia panjang juga bisa berarti pengalaman duka yang sama panjangnya. Dan, usia pendek adalah sebaliknya.

Lalu, apakah kita mesti bunuh diri untuk mengakhiri duka-derita? Apakah kita mesti memperpendek usia untuk mengurangi masa-derita? Tidak bisa juga. Sebab, yang terbunuh hanyalah fisik. Sementara itu, keranjang karma yang berakar pada klesa ada ada pada lapisan mental dan emosional. Bisa-bisa aksi bunuh diri justru menambah beban isi dalam keranjang itu. Ceplok, digoreng lagi, lahir lagi!”

Terdengar sangat pesimiskah?

Seolah hidup ini tidak ada nikmatnya sama sekali. Seolah kita tidak bisa menjalani hasil klesa dari masa Ialu dengan tidak menambah beban pada rnasa kini? Apa bisa? Patanjali menjelaskan dalam Sutra berikut.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

2 thoughts on “Benih Duka-Derita Penyebab Kelahiran, Panjang Pendek Usia dan Beragam Pengalaman Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s