Tanpa Memunculkan Kemanusiaan Dalam Diri Anak Pendidikan Hanya Mencipta Monster

Memunculkan Yang Terbaik Yang Ada Dalam Diri Anak

buku bringing the best gandhi king mandela

Jika kita ingin mengejar uang saja, mau menjadi kaya-raya saja; atau birokrat dan pejabat yang biasanya “go by the book” – mengikuti peraturan tanpa memikirkan bila peraturan dibuat untuk memfasilitasi manusia dan bukan sebaliknya – maka kita tidak perlu memiliki Neo-Cortex sebesar yang kita miliki saat ini. Seperempatnya saja sudah cukup.

Neo-Cortex ibarat alat baru yang dipasang untuk kita. Saya sedang membaca sebuah jurnal medis yang menjelaskan jika bagian tersebut mengalami gangguan, benturan, dan sebagainya – maka manusia tidak bisa mengolah segala data yang dimilikinya dengan baik. ia akan bertindak semena-mena. Ia tidak memiliki akal-budi. Ia tetap hidup – makan, minum, tidur, berhubungan seks, mencari nafkah, bahkan menjadi kaya-raya, dan beranak-pinak – hanyalah satu hal yang tidak dimilikinya, yaitu ‘kemanusiaan’.

Perkembangan Neo-Cortex adalah pengembangan kemanusiaan di dalam diri kita. Kemudian, kemanusiaan itulah yang berempati, membuat kita menjadi bijak, dan membedakan kita dengan hewan. Penjelasan Bhagavad Gita 8:2, dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Kutipan berikut akan menjelaskan perlunya pendidikan yang dapat memunculkan Yang Terbaik Dalam Diri anak  yaitu kemanusiaan mereka.

 

Cover Buku Bringing the Best in the Child

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Pendidikan yang tertinggi adalah, bukan yang memberi informasi belaka namun yang membuat hidup kita selaras dengan semua makhluk.” Rabindranath Tagore

Tragedi terbesar saat ini adalah, pendidikan telah menjadi komoditas. Layaknya barang atau komoditas perdagangan — pendidikan pun diperjualbelikan. Dan, kalau sudah menyangkut jual-beli, maka kita tidak bisa tidak bersaing dengan penjual lain yang menawarkan produk serupa. Kompetisi tidak sehat ini telah melahirkan sejumlah sekolah. Ada sekolah yang “dibangun” secara eksklusif bagi si kaya, ada pula sekolah yang dibangun bagi si miskin, dan yang jumlahnya paling besar, bagi mereka yang ada di tengah-tengah, sekolah untuk yang biasa-biasa saja.

 

SETELAH MEMPELAJARI SISTEM EDUKASI DAN SEKOLAH YANG ADA SEKARANG saya merasa sangat, sangat sedih bahwa tujuan pendidikan — “untuk apa” mendidik – telah hilang, benar-benar terlupakan.

Pendidikan, seperti yang kita semua tahu, dimaksudkan untuk “memunculkan yang terbaik yang ada dalam diri anak.” Tapi, apa yang terbaik yang ada dalam diri anak itu? Ya, yang ada “dalam diri” anak, bukan “dari seorang” anak. Yang terbaik dari “dalam diri” anak tidak ada kaitannya dengan potensi bawaan seorang anak. Hal terbaik dalam diri anak sama halnya seperti……

 

YANG TERBAIK YANG ADA DALAM DIRI MANUSIA ini tidaklah sama seperti “potensi tersembunyi” dalam diri anak yang kelak membuatnya menj adi dokter yang baik, insinyur yang masyhur; penulis produktif, politisi yang waras, atau seorang profesional sukses di bidang tertentu. Profesi dan kesuksesan semacam itu hanya membuatnya layak disebut anggota masyarakat dan memastikan hidup mereka berkecukupan. Kesuksesan materi dan pencapaian semacam itu bukanlah “yang terbaik” yang bisa dicapai oleh manusia dan dari diri manusia.

Coba renungkan…..

Apa hal terbaik yang Anda lihat dari Gandhi? Apa hal terbaik yang Anda lihat dari Martin Luther King, Jr.? Apa hal terbaik yang Anda Iihat dari Nelson Mandela?

Saya sengaja memilih ketiganya, sebab ketiganya sama-sama belajar ilmu hukum, ketiganya juga adalah para pengacara. Tapi, apakah kita mengingat mereka karena profesi itu? Tidak ada masalah dengan profesi tersebut, tidak sama sekali. Tapi, apakah profesi itu yang membuat mereka terkenal? Pertanyaan yang sama dapat juga ditujukan kepada Vivekananda, Krishnamurti, Baba, Soekarno, Nehru—atau, para pemimpin terbaik lainnya — sebagian dari mereka bahkan tidak tamat SMA, contohnya Baba dan Krishnamurti. Vivekananda, yang menjadi sumber inspirasi bagi Bapak Bangsa kita, Bung Karno, dan para Pendiri Republik lainnya, adalah seorang mahasiswa yang drop-out. Namun, kita mengenang mereka dengan penuh penghormatan, kenapa?

 

YANG TERBAIK DALAM DIRI MEREKA ADALAH KEMANUSIAAN MEREKA. Ya, kita harus senantiasa ingat bahwa yang terbaik dalam diri anak, yang terbaik dari seorang anak manusia – dari dalam diri setiap orang — adalah kemanusiaan kita. Apakah kita menghargainya, apakah kita menaruh sikap hormat pada baju manusia yang kita pakai; atau kenyataannya justru meremehkan dan melecehkannya?

Jangan salah paham, saya tidak mengatakan mendidik seorang anak, seorang siswa di bidang sains dan seni tidaklah penting, tidak sama sekali. Kemampuan di bidang itu juga dibutuhkan, tapi jangan sampai kita lupa, bahwa jika seorang anak tumbuh menjadi seorang dokter, pengacara, insinyur, politisi, sebagai anggota parlemen — apa pun itu — tanpa kemanusiaan, tanpa rasa yang mendalam, rasa hormat mendalam bagi nilai-nilai kemanusiaan, bagi hak, dan bagi martabat kemanusiaan — maka ia hanya akan menjadi seorang monster, yang meneror lingkungannya untuk kepentingannya sendiri. Tidak lebih.

Kiranya, jangan sampai kita salah memahami “yang terbaik” yang ada dalam diri anak hanya sebatas keahlian tertentu atau sekedar potensi saja. Yang terbaik dari dalam diri anak adalah sisi manusiawi dalam dirinya, kemanusiaan. Ini sangat, sangatlah penting — untuk diingat.

Kita butuh sekolah, institusi pendidikan, perguruan tinggi dan universitas yang dapat memberikan kita dokter yang manusiawi, pengacara yang manusiawi, politisi yang manusiawi, pebisnis manusiawi, industrialis manusiawi, dan yang terpenting dari semua itu adalah, kita butuh guru yang manusiawi, yang membantu memekarkan……

 

YANG TERBAIK YANG ADA DALAM DIRI SEORANG ANAK, YAITU KEMANUSIAAN MEREKA! Kemanusiaan harus dipahami sebagai aroma dasarnya, keharuman yang mendasari semuanya. Segala macam jenis keahlian, kebolehan di bidang sains, dan seni semata-mata dipelajari hanya untuk menambah kemanusiaan yang memang sudah ada dalam diri anak, dan tidak ada komprominya dengan keahlian yang ia kuasai. Dengan kata lain, profesi, status sosial, dan seterusnya haruslah manusiawi.

Ingat, pendidikan bukanlah tujuan. Mentor saya selalu mengingatkan kita, bahwa “tujuan akhir Pendidikan adalah Karakter”. Akhir dari atau tujuan pendidikan bukanlah mencetak para pengemis peminta-minta pekerjaan. Pendidikan juga bukan hanya untuk mencari sesuap nasi, tapi mengarahkan kita untuk hidup sesuai dengan kodrat kemanusiaan kita, untuk hidup sebagai manusia bermartabat. Ya, Pendidikan adalah untuk Kehidupan — untuk bisa hidup sepenuhnya dan memuliakan segala bentuk kehidupan!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Bringing the Best in the Child, Memunculkan yang Terbaik dalam Diri Anak, Kuta: Anand Krishna Global Cooperation)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s