Keabadian Aksara, Kata-Kata yang Terucap/Tertulis dan Kesadaran Diri

buku dvipantara jnana aksara kuno di Indonesia

Aksara Kuno di Nusantara

Bagi rakyat Nusantara, kata-kata adalah aksara – berasal dari Sansakerta akshara, yang berarti “yang selalu bergetar”. Kata-kata adalah energi, dan energi tidak hilang. Energi dapat berubah bentuk, tetapi tidak hilang. Kata-kata bukan untuk main-mainan. Kata-kata tidak untuk digunakan secara sembarangan. Orang harus mengekspresikannya dengan hati-hati, karena setiap kata yang diujarkan bergetar untuk selamanya. Mereka mewujud dalam panjang gelombang dan frekuensi yang sama selama waktu ada. Diterjemahkan dari kutipan buku (Krishna, Anand. (2012). The Wisdom of Sundaland. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Akan tetapi keabadian dari kata-kata, permainan Aksara Abadi ini, masih kalah mulia dibandingkan dengan Kesadaran Diri, menjadi sadar akan sifat sejati seseorang; menjadi sadar akan sifat Linga Internal — Svalinga, Linga Diri, Atmalinga.

Silakan ikuti penjelasan tentang hal tersebut pada kutipan berikut:

buku dvipantara jnana sastra

Cover Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

||Ganapati Tatva 14 ||

svarnaliṅga-sahastrāṇi śivaliṅgan na tatsamam

akṣiliṅga-sahastrāṇi ātmaliṅgan na tatsamam

 

“Konon, kilauan dari sebuah Sivaliṅga setara dengan

Sahastra, ribuan, atau bahkan, tak terhingga Liṅga berhias permata.

Demikian pula, kemuliaan dari Svaliṅga, Ātmaliṅga, atau Liṅga Internal

setara dengan Sahastra atau tak terhingga Akṣi Liṅga, Akṣara Liṅga, atau Liṅga Abadi.”

 

LAGI-LAGI, INI JUGA ADALAH PENGULANGAN dari ayat 24 dari Tattva San Hyang Mahajnana. Maka, kami tampilkan kembali bersama ini:

 

SLOKA INI BERSIFAT SANGAT TEKNIS – Linga bertabur permata merujuk pada kekayaan materi. Kilauan mereka masih bersifat tidak langgeng.

Sesungguhnya, segala sesuatu di sekitar kita, termasuk tubuh fisik kita, adalah carbon-based, berbasis karbon. Intan pun carbon-based sebagaimana tubuh fisik kita dan segala sesuatu yang kita miliki.

Sementara itu, Sivalinga di bagian pertama Sloka ini merujuk pada pengetahuan spiritual yang kilauannya setara dengan tak terhingga Linga yang bertabur permata.

Penggunaan kata “Sahastra” dalam Sloka ini — sering diterjemahkan sebagai ratusan atau ribuan—sesungguhnya merujuk pada tak terhingga.

Kita boleh saja memiliki segala kekayaan, boleh saja memiliki tak terhingga objek kenyamanan duniawi — ibarat berbagai Linga yang bertabur permata — tetapi, tanpa pengetahuan spiritual, kita terikat untuk tetap berada dalam komidi putar suka dan duka, panas dan dingin, air mata dan tawa, kelahiran dan kematian.

 

BAGIAN BERIKUT SLOKA INI merujuk pada Kesadaran Diri sebagai Svalinga, Atmalinga, atau Linga Internal. Ini tidak sama dengan Pengetahuan Spiritual. Pengetahuan hanya sekadar pengetahuan; sedangkan kesadaran adalah internalisasi dari pengetahuan yang berdasarkan pengalaman, atau lebih tepatnya knowingness berdasarkan pengalaman.

Kesadaran tersebut, kemuliaan dari Kesadaran Diri tersebut dikatakan setara dengan kemuliaan tak terhingga Aksara Linga, atau Linga-Linga Abadi.

Apakah Linga-Linga Abadi ini?

Ini adalah kesadaran, knowingness berdasarkan pengalaman tentang sifat sejati dan segala alat-alat penting yang digunakan oleh Diri, oleh Jiwa Individu atau Jivatma selama petualangan-Nya di bumi.

Alat-alat penting ini adalah indra-indra persepsi yang digunakan oleh Jiwa Individu untuk mengalami eksperimen-eksperimen yang melibatkan pancaindra.

 

INDRA-INDRA PERSEPSI terbuat dari materi terhalus. Indra-indra ini bekerja pada tataran molekul, tataran partikel atom dan sub-atom, maka dikatakan bersifat langgeng.

Para ilmuwan akan menyetujui bahwa atom sesungguhnya memang abadi, dalam pengertian bahwa, pada saat kematian tubuh fisik, atom-atom dengan mudah “melanjutkan perjalanan” katakan demikian, untuk berintegrasi kembali dan membentuk tubuh lain.

Demikian pula, apa yang kita anggap sebagai fakultas mental/emosional, dan inteligensia juga bersifat langgeng. Mereka terus berevolusi. Ide yang dikembangkan melalui tulisan ini telah menjadi langgeng. Seseorang mungkin mengambil sebuah gagasan dan mengembangkannya lebih Ianjut. Yang lain mungkin mengambil gagasan lain, membedahnya dan mengembangkannya lebih lanjut — sehingga gagasan-gagasan ini hidup melampaui usia buku ini, melampaui usia penulisnya, dan melampaui usia para pembaca saat ini, melampaui usia Anda sebagai pembaca buku ini.

 

ANGGAPLAH RESI PENGGUBAH KARYA INI — walaupun kita tidak mengenal namanya, ia tetap hidup. Setelah ratusan tahun, ia tetap hidup melalui karya ini, dan kita boleh berasumsi bahwa ia akan hidup sampai berabad-abad kemudian.

Mungkin saja karya ini akan hilang “seiring berjalannya waktu”. Pembahasan ini mungkin juga hilang — tetapi gagasan-gagasan yang berkembang di sini telah menjadi abadi, menjadi langgeng.

 

KATA-KATA YANG TERTULIS DISEBUT AKSARA — LANGGENG, ABADI. Sekali sebuah gagasan dituliskan, diberikan energi — tubuh berupa kata-kata tertulis, ia menjadi langgeng, abadi.

Renungkan ini,

Semua gagasan yang sedang saya bagikan dengan Anda saat ini menghubungkan Anda secara langsung dengan resi penggubah karya ini yang hidup beberapa abad silam. Tetapi, tunggu—bukan saja hubungan itu. Dengan membaca ini, Anda juga dikaitkan dengan semua pemandu dan guru spiritual saya yang telah membantu, telah berkontribusi pada pembuatan, pembentukan diri saya.

Pertemuan antara kita ini — perjumpaan ini melalui halaman-halaman buku di tangan Anda— tidak hanya menghubungkan Anda dengan segala yang baik dan mulia di masa lalu, tetapi juga dengan segala yang baik dan mulia di masa depan, ketika gagasan-gagasan yang disampaikan melalui buku ini dikembangkan lebih lanjut.

Disadari atau tidak — kita telah menjadi bagian dari permainan Keabadian ini — permainan Aksara ini!

 

KENDATI DEMIKlAN, PERMAINAN KEABADIAN INI, permainan Aksara Abadi ini, masih kalah mulia dibandingkan dengan kemuliaan Linga Internal — Svalinga, Linga Diri, Atmalinga.

Menjadi sadar akan sifat sejati seseorang; menjadi sadar akan sifat Svalinga, Linga Internal yang Swa-Kilau – jauh lebih mulia daripada pengetahuan kita, perjumpaan dan eksperimen kita dengan tak terhingga Aksara Linga seperti telah dibahas sebelumnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s