Sebab Musabab Karma

buku bhagavad gita karma domino

Ilustrasi Karma

“Perhatikan pikiran-pikiranmu, karena akan menjadi kata-kata. Perhatikan kata-katamu, karena akan menjadi tindakan-tindakan. Perhatikan tindakan-tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaan-kebiasaan. Perhatikan kebiasaan-kebiasaanmu, karena akan menjadi sifat. Perhatikan sifatmu, karena akan menentukan masa depanmu.” Diterjemahkan dari kutipan buku (Krishna, Anand. (2012). The Wisdom of Sundaland. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita apa yang melandasi pikiran untuk bertindak.

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Adalah Tiga hal yang memicu terjadinya suatu karma atau perbuatan yaitu; Pengetahuan, Tujuan Mengetahui, dan Ia yang (ingin) Tahu. Pun demikian, adalah Tiga hal yang melandasi setiap karma atau perbuatan; Alat atau Anggota Badan yang bertindak, Tindakan itu sendiri, dan Yang Menyebabkan Terjadinya Tindakan atau Pelaku.” Bhagavad Gita 18:18

 

Ayat yang tampak sederhana dan mudah dipahami ini mengandung makna yang sangat dalam. Ayat ini menjelaskan asal-usul, sebab-musabab suatu tindakan. Ayat ini membedah karma.

 

APA YANG TERJADI SEBELUM KITA BERTINDAK. Ini penting untuk dipahami, karena tindakan kita bukanlah tanpa sebab.

Dan, sebabnya adalah “pengetahuan”.

Pengetahuan tentang sesuatu, yang kemudian memicu kita untuk bertindak. Kita tidak pernah bertindak tanpa “pengetahuan”.

Kita ingin nikah — kenapa?

Karena ada pengetahuan tentang nikah. Jika saya bertanya apakah Anda ingin sadi? Barangkali Anda bertanya kembali, “Apa itu sadi?” Tapi orang yang tahu makna sadi akan langsung menjawab, “ya” atau “tidak”. Tergantung pada kemauannya.

Sadi adalah “nikah” dalam bahasa Hindi, Sindhi, dan Urdu. Walau berarti sama, kata tersebut tidak memiliki arti bagi orang yang tidak mengetahui maknanya.

Jadi, sebelum adanya tindakan, ada pengetahuan. Pengetahuan inilah yang memotivasi kita untuk bertindak. Sebab itu, pengetahuan dapat dipahami sebagai pemicu pertama bagi suatu perbuatan.

Sehingga, asal-usul pengetahuan menjadi sangat penting.

 

PENGETAHUAN APA, TENTANG APA? Jika kita dibesarkan dalam lingkungan di mana kekerasan adalah sesuatu yang lumrah, maka itulah yang akan menjadi pengetahuan dasar kita. Kita akan melakukan kekerasan dan membenarkannya. Kita tidak akan berpikir dua kali sebelum menggerakkan kaki untuk menendang; mengangkat tangan untuk menampar; atau melakukan kekerasan dengan cara lain.

Kita tidak akan merasa bersalah saat menyumpahi dan menyerapahi orang lain. Kita akan membenarkan pikiran-pikiran untuk balas dendam, dan sebagainya.

Sebaliknya, jlka klta dibesarkan dalam lingkungan yang beradab, maka kita tak akan pemah membenarkan kekerasan, kecuali memang tidak ada Jalan lain untuk membela diri dan kehormatan mereka yang lemah dan tak berdaya.

 

SEORANG PENGAGUM BERAT MAHATMA GANDHI yang hanya membaca dan menilai salah satu sisi Sang Mahatma, tumbuh menjadi pembela Ahimsa paham tanpa kekerasan tanpa memahami implikasinya.

Membela paham Ahimsa, yang adalah mulia, tapi dengan bekal pengetahuan dan pemahaman yang tidak utuh; berarti “percaya-buta” yang jelas tidak tepat.

Seseorang yang “terpaksa” membela diri dengan menuntut balik orang yang tidak henti-hentinya memperkarakan dirinya sejak bertahun-tahun — diceramahi juga, “Mereka berbuat apa saja, kau tetaplah tenang. Jangan melawan.”

Namun, jika sang pembela Ahimsa itu sendiri melihat istrinya diganggu, atau anaknya dianiaya, ibunya diperkosa, apa yang akan dilakukannya? Apakah ia berdiam diri membisu, atau menceramahi para pelaku yang biadab, “Tolonglah, jangan melakukan hal tercela itu! Tenang, damai ……..”

TIDAK, SAAT IBU KITA HENDAK DIPERKOSA; istri atau anak disakiti, dizalimi, disiksa — maka jika kita masih normal, masih memiliki darah yang bisa rnendidih dan tidak beku, kita akan bergegas untuk membela. Kita akan melawan. Saat itu, tidak ada keraguan lagi apakah tindakan kita mengandung unsur kekerasan atau tidak!

Sebaliknya, jika pendidikan awal yang kita peroleh membenarkan penzaliman dan penganiayaan, maka seperti seorang ayah bejat yang bisa berkali-kali meniduri putrinya sendiri—kita pun akan bertindak secara tidak waras.

 

SEPERTI APAKAH LANDASAN PENGETAHUAN KITA? Untuk membenarkan kebutuhan syahwat kita, kelemahan diri kita, apakah kita membenarkan poligami? “Daripada memikirkan seks melulu, atau berzina, lebih baik kawin lagi!” Hmm, bagaimana dengan istri kita? Tidak kawin lagilah, biarkan dia berpacaran saja — boleh?

Pengetahuan adalah inspirator, motivator, pemicu yang sesungguhnya. Pengetahuan “jelek” menghasilkan perbuatan “jelek” dan tercela. Pengetahuan baik menghasilkan perbuatan baik dan terpuji.

 

SEKARANG, TENTANG TUJUAN PENGETAHUAN DAN PERBUATAN – Seseorang mendorong kita untuk berbuat sesuatu, kita terinspirasi, termotivasi. Tapi, apakah perbuatan itu selaras dengan potensi kita, dengan sifat kita, dengan keyakinan kita, dengan apa yang sungguh-sungguh ingin kita lakukan?

Seorang penceramah unggul yang memang berprofesi sebagai pembicara bisa meyakinkan kita bila apa yang dikatakannya itu benar. Ia bisa membuat kita memercayai sesuatu yang tidak selaras dengan keyakinan kita.

Seorang tenaga kerja wanita yang bekerja di luar negeri terpengaruh oleh “janji-janji” muluk seorang penjual kapling di surga — maka ia membelinya. Ia meninggalkan kepercayaannya, dan memeluk kepercayaan penjual kapling. Setelah pulang ke kampung halamannya, ia baru sadar, “Betapa bodohnya aku!”

Namun, saat itu ia sudah telanjur menaruh hati pada seorang pria yang sama-sama adalah korban bualan sang penceramah unggul tersebut. Maka, “demi cinta” — ia melanjutkan kepercayaannya pada janji kosong tentang kapling di surga.

Baru-baru ini, setelah orang yang dicintainya “mengambil”istri lain dengan alasan kaplingnya di surga cukup besar, “Cukup untuk kalian berdua hidup bersama secara harmonis. Lagi pula libido saya tinggi, cukup untuk memuaskan kalian berdua” – maka mantan TKW itu baru tersadarkan, terjaga dari mimpi buruknya!

Membeli kapling tanpa pengetahuan tentang “syarat dan kondisi yang berlaku” — terinspirasi atau termotivasi oleh orang-orang yang membenarkan segala syarat dan kondisi demi syahwat dan libido — ini adalah kebodohan yang sungguh tak terjelaskan.

Sebelum bertindak, hendaknya kita merenungkan apa yang menjadi motivasi kita; renungkan apa yang kita tahu tentang apa yang hendak kita lakukan; renungkan kemampuan dan potensi diri kita; renungkan apa betul itu yang ingin kita lakukan — kemudian, baru bertindak.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s