Tetap Bersih di Sarang Pencuri, Pengendalian Diri untuk Tidak Mencuri Sudah Langka

buku dvipantara yoga sastra anak smp menyontek

Anak SMP menyontek

Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana hukum yang berlaku adalah fight or flight, melawan untuk keluar sebagai pemenang, atau melarikan diri dari medan laga. Berbasiskan konsep dasar itu ia menyusun Seni Perang, untuk memberi kita kemenangan, dan orang modern dengan antusias menerapkannya dalam bisnis. Bagi Sun Tzu, rakus itu baik. Agar termotivasi, pasukan harus melihat adanya keuntungan jika berhasil mengalahkan musuh. Bagilah hasil rampasan dengan rekan sejawat dan anak buah. Berikan bagian dari daerah jajahan kepada mereka. Keyakinan Sun Tzu adalah Warfares are based on deception, landasan perang bagi dia adalah tipu muslihat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bagi sebagian masyarakat kita, hasil yang tampak, jauh lebih penting daripada bagaimana proses memperolehnya. Para guru pun biasanya hanya melihat lembar jawaban tanpa melihat bagaimana proses seorang murid memperoleh jawaban tersebut. Tanpa disadari cara penilaian tersebut membuat kebiasaan murid untuk menyontek berkembang. Seorang murid yang berhasil menyontek dan memperoleh nilai bagus akan mulai membiasakan diri menyontek. Tanpa sadar sebagian dari masyarakat sudah menjadi pengikut Sun Tzu yang membenarkan strategi menjalankan tipu muslihat asal tujuan tercapai. Sebagai seorang pengikut Sun Tzu, mereka tidak boleh memarahi anaknya yang suka menyontek saat ujian. Itu adalah kemahiran dia. Marahi dia jika tertangkap, karena hal itu menunjukkan kelalaiannya.

Dalam ilmu medis, kita ketahui bahwa pembentukan paling aktif “sarung saraf ” atau mielin sheet terjadi pada usia 0-5 tahun. Setelah itu kreativitasnya berangsur-angsur berkurang, namun berjalan terus sampai usia 20 tahun bahkan 40 tahun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). MedEri MedisMeditasi Persepsi Baru Bagi Manusia Baru. One Earth Media)

Kebiasaan menyontek anak SD atau SMP tersebut membuat synap-synap syaraf otak menjadi permanen sehingga kebiasaan menyontek tersebut terbawa sampai dewasa, dan berbahaya bila mereka nantinya memegang posisi yang penting di masyarakat yang berkaitan dengan anggaran. Menyontek ataupun menyalahgunakan anggaran (korupsi) termasuk dalam tindakan yang bukan Asteya (Tidak Mencuri).

Berikut ini penjelasan Yama, Pengendalian diri kelima Asteya.

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

YAMA KELIMA ADALAH ASTEYA ATAU TIDAK-MENCURI. Nah, kita tidak perlu menjadi maling untuk mencuri hak-hak orang lain, atau bahkan menjadi penghalang bagi hak-hak mereka.

Asteya juga harus dipahami sebagai “Tidak merampas hak ” yang tidak saja berarti kekayaan, properti, atau sejenisnya – tetapi juga waktu, energi, kesempatan yang sama, dan sebagainya.

Seorang penguasa yang tidak cukup peka dengan keadaan dan hak-hak kelompok minoritas, telah melanggar prinsip Asteya. Sesungguhnya ia adalah maling.

Para raja media yang mengatur alur berita dan hanya mengizinkan berita-berita tertentu untuk ditonjolkan, yang menguntungkan mereka, kroni-kroni mereka atau para tuan mereka, politisi tertentu, dan penguasa — adalah maling. Mereka tidak melakoni Asteya.

 

KITA JUGA BISA GAGAL MEMPRAKTEKKAN ASTEYA karena niat buruk kita, Walaupun belum dilakukan.

Melayani niat-niat buruk terhadap seseorang atau sekelompok orang yang tidak kita suka dan membuat catatan di benak kita tentang apa yang pantas dan tidak pantas bagi mereka berdasarkan ketidaksukaan kita; membuatkan bubur mental atau menggoreng nasi untuk mereka yang kita sukai — semua ini menggagalkan kita menjadi praktisi Asteya.

 

PENCURIAN TIDAK HANYA DILAKUKAN SECARA FISIK; tetapijuga secara mental, emosional, dan intelektual.

Ada orang-orang yang terbiasa membuat tulisan, gubahan, dan lain-lain secara cut-and-paste. Mereka adalah maling. Plagiasi adalah pencurian.

Banyak di antara kita yang terbiasa menguping pembicaraan orang lain, entah percakapan tersebut terkait dengan kita atau tidak. Jika mereka yang sedang bercakap-cakap tidak ingin melibatkan kita, maka kita harus cukup bijak untuk keluar, duduk di tempat lain, dan membiarkan mereka bercakap-cakap bebas tanpa gangguan dari kita.

Lalu, ada pula beberapa di antara kita yang selalu ingin tahu sesuatu tentang orang lain — jenis yang usil. Bukan Asteya pula. Ada juga yang suka membaca catatan orang lain, membaca catatan pribadi dan surat-surat orang lain — bukan Asteya pula.

Anda melihat pecahan 100 dollar di tanah, tidak ada yang melihat, Anda mengambil dan diam-diam memasukkannya ke kantong — itu pencurian juga Jika Anda sungguh tidak menemukan pemilik dari uang tersebut, maka tindakan yang tepat adalah menggunakan uang tersebut sebagai sumbangan bagi yang membutuhkan. Dan selama melakukan tindakan amal-saleh tersebut, berterimakasihlah kepada orang yang kehilangan uang tersebut, berterimakasihlah padanya karena ia telah memberi kesempatan pada Anda untuk menjadi sarana bagi amal.

Adalah gagasan yang baik jika Anda menyebutkan hal ini pada penerima amal, “Uang untuk amal ini berasal dari orang yang tidak dikenal yang telah menjatuhkan uang ini. Marilah kita berdoa untuknya.”

 

ADA MURID TERTENTU YANG MEMILIKI KEBIASAAN MELIHAT CATATAN MURID LAIN – coba bayangkan, seseorang sedang menulis, Anda sedang menulis, dan orang ini mengintip, mencoba membaca apa yang Anda tulis.

Sungguh seperti pertunjukan Mr. Bean, bahkan lebih parah, karena Mr. Bean akan melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, tidak seperti murid di cerita ini.

Ketika seseorang rnencoba mendisiplinkan dia, jawabannya sangat spontan, “Tetapi, aku sedang belajar. Master selalu mengatakan bahwa kita harus belajar dari yang lain. Selain itu, sesungguhnya aku rnemberinya kesempatan untuk berbagi catatannya, berbagai pengetahuannya denganku.”

Ketika sang Master mendengar hal ini, ia menyatakan dengan sangat tegas, “Biarkan seseorang berbagi karena keinginannya sendiri. Memaksa orang lain untuk berbagai adalah pencurian, perampokan adalah tindakan kekerasan.”

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s