Kama-Keinginan, Artha-Kekayaan, Moksa-Kebebasan Mutlak Bisa Gagal, Tapi Dharma Pasti Bisa Dilakoni

Ingat! Setelah banyak tumpukan Dharma, keinginan, kekayaan akan tercapai bahkan kita dipandu ke arah Moksa

buku dvipantara dharma sastra Dewi Dharma

Dharma (Ibu Ashoka)

Aku selalu berseru dan mengingatkan bila artha atau harta-kekayaan, dan kama segala kenikmatan duniawi, diperoleh dengan cara hidup berlandaskan dharma, kebajikan. Lalu mengapa tidak melakoni dharma terlebih dahulu? (Sayang tiada yang mendengarkanku).

Upaya, jerih payah seseorang dalam hal kama (memenuhi keinginan dan/atau kenikmatan indrawi), artha (mengumpulkan harta), dan moksa (kebebasan mutlak dari segala keterikatan) boleh jadi gagal—tidak membawa hasil. Namun, upaya seseorang untuk melakoni dharma atau kebajikan walaupun baru berupa niat saja—tidak pernah sia-sia. Pasti membawa hasil.

Berikut ini lanjutan penjelasan Sara Samuccaya bahwa melakoni dharma akan membawa kebahagiaan.

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sara Samuccaya 24

Dharma atau kebajikan selalu membawa hasil yang baik, selalu bermanfaat. Ia (dharma) adalah penopang hidup, kemuliaan rnereka yang mulia. Seantero alam — tiga alam (Bhur atau alam bawah tanah; Bhuvah atau alam dunia; Svah atau alam luar angkasa) dengan segala isinya; tiga masa (masa lalu, masa kini dan mendatang); makhluk-makhluk hidup dan bergerak, maupun benda-benda yang tidak bergerak—seluruhnya bersumber dari, dan bertopang pada dharma atau kebajikan.

 

Sara Samuccaya 25

Seseorang yang kesadarannya senantiasa terpusatkan pada dharma atau kebajikan, dan senantiasa tidak pernah ragu (dalam melakoni dharma) adalah disebut berperilaku mulia. Demikian, kawan dan kerabatnya pun tidak perlu meragukan, atau mengkhawatirkan dirinya.

 

Sara Samuccaya 26

Sebagaimana air yang menggenangi tebu ikut pula menggenangi rumput, pun demikian seseorang yang melakoni dharma atau kebajikan, ikut meraih harta kekayaan, ketenaran, dan terpenuhi pula segala keinginannya yang mulia.

 

Sara Samuccaya 27

Seseorang hanyalah memperoleh hasil dari apa yang dilakukannya. Perbuatan baik menghasilkan rupa yang menawan, penampilan yang baik, daya tarik; kelahiran dalam keluarga yang mulia; harta kekayaan yang berlimpah dalam pengertian ia meraih kesejahteraan yang sejati.

 

Sara Samuccaya 28

Mereka yang berpegang teguh pada dharma atau kebajikan bebas dari rasa takut dalam hal menghadapi semua tantangan, keadaan yang tidak menyenangkan; pun serangan-serangan dari mereka yang tidak bersahabat.

 

Sara Samuccaya 29

Mereka yang berbuat baik, berperilaku mulia, mendapatkan pasangan sesuai dengan keinginan dan kemuliaan dirinya. Mereka menikmati kehidupan yang layak, bak tinggal di istana, dengan segala kebutuhannya terpenuhi.

 

Sara Samuccaya 30

Sebagaimana katak dan burung selalu menghampiri kolam yang penuh dengan air; pun demikian dengan para sahabat yang tulus, dan kesejahteraan menghampiri mereka yang berperilaku baik, mulia.

 

Sara Samuccaya 31

Saat menimba ilmu dan rnencari uang, para bijak selalu bertindak tenang serta penuh kesadaran. Seolah mereka memiliki waktu yang cukup lama untuk semua itu. Namun, saat melakoni dharma atau kebajikan, mereka tidak pernah menyia-nyiakan waktu sedetik pun, seolah sedang dikejar maut

 

Sara Samuccaya 32

Dengan mengingat kematian, seseorang tak lagi menyia-nyiakan waktu untuk memenuhi keinginan duniawi seperti mencari makanan yang lezat dan sebagainya — apa lagi mengejar hal-hal yang hanyalah dapat mencelakakan dirinya, yang tidak menguntungkan Jiwa.

 

Sara Samuccaya 33

Selagi masih muda, hendaknya seseorang berupaya sekuat tenaga untuk melakoni dharma atau kebajikan; menuntut ilmu untuk menjadi bijak sekaligus berpenghasilan yang layak. Dengan bertambahnya usia, tenaga seseorang berkurang, seperti halnya dengan rumput darbha (sejenis alang-alang) tua yang ujungnya telah merunduk dan tidak tajam lagi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s