Kisah Sufi: Alexander Yang Agung dan Seorang Sanyasin

buku telaga aleksander dan yogi

Alexander Yang Agung menemui seorang sanyasin

Mengapa selama ini kita menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginan kita sendiri. Karena kita terpesona oleh dunia benda, oleh bayangan Hyang Mahamenawan. Memang, bayangan-Nya saja sudah penuh pesona. Tapi alangkah tidak beruntungnya kita jika kita berhenti pada bayangan. Betapa meruginya kita jika kita tidak menatap Ia Hyang Terbayang lewat dunia benda ini. Ambisi dan keinginan kita sungguh tidak berarti, karena semuanya terkait dengan bayang-bayang. Kita mengejar bayangan keluarga, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya. Keinginan kita sungguh sangat miskin. Ambisi kita adalah ambisi para pengemis! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengapa Alexander Yang Agung yang telah menaklukkan sebagian besar dunia disebut sebagai pengemis oleh si Sanyasin? Mengapa Sang Maharaja tidak marah?

Silakan simak kisah sufi pertemuan Alexander Yang Agung dengan seorang Sanyasin berikut:

buku telaga pencerahan

Cover Buku Telaga Pencerahan

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Seseorang yang sedang menimbun harta, sesungguhnya sangat miskin. Tabungan Anda di Bank tidak membuat Anda menjadi kaya. Masih ingat kisah Alexander Agung? Setelah menaklukkan sebagian besar dunia, dalam keadaan capai, lelah, dan sakit-sakitan Alexander memutuskan kembali ke Macedonia, di negeri Yunani, tanah leluhurnya. Dalam perjalanan pulang, ia teringat pesan seorang rohaniwan Yunani, “Kelak kalau kau pulang, Alexander, ajaklah seorang rohaniwan India. Kita dapat belajar banyak darinya.”

Alexander pernah mendengar tentang seorang rohaniwan, seorang Sanyasin, seorang pertapa yang tinggal di tengah hutan. Kebetulan ia akan melewati huran itu. Ia mencari alamat sang Sanyasin.

Berteduh di bawah pohon beringin yang lebat, dari jauh ia melihat sang Sanyasin dalam keadaan telanjang bulat. Alexander mengutus seorang prajurit untuk memberi tahu tentang keberadaannya, dan minta agar sang Sanyasin mau datang menemuinya.

“Katakan kepada Alexander bahwa aku tidak perlu ke mana-mana. Aku tidak membutuhkan apa pun. Apabila ia ingin bertemu denganku, silakan ke sini. Tetapi aku tidak akan ke mana-mana.”

Alexander bingung, kesal dan marah. Baru pertama kali ini ada orang yang begitu berani “kurang-ajar” kepadanya. Tetapi ia menahan diri. Ia pernah mendengar bahwa para sanyasin, para pertapa, memang agak aneh, kalau bukannya sinting. Alexander mendatangi sang Sanyasin.

“Sanyasin, aku Alexander, Alexander yang Agung.”

Sang Sanyasin tersenyum, “Yang Agung? Saya dengar, kau meninggalkan tanah leluhurmu untuk menaklukkan dunia.”

“Benar, itulah aku, Alexander yang Agung!”—memang agak arogan, tetapi demikianlah seorang Alexander.

Sang Sanyasin mengangkat sedikit kepalanya, “Katakan, Alexander, kamu memang Agung sejak dulu, atau menjadi Agung karena berhasil menaklukkan sebagian besar dunia ini?”

“Apa maksudmu, Sanyasin?” Alexander tidak memahami persis apa yang dimaksud oleh

Sanyasin.

“Begini, Alexander, kalau kau Agung sejak dulu, kau tidak akan bersusah-payah keliling dunia untuk menaklukkannya. Kalau rnemang begitu, berarti dulu kau tidak Agung. Dulu masih kekurangan sehingga kau keliling dunia untuk mengisi kekuranganmu itu. Kau menjadi Agung karena berhasil menaklukkan sebagian dunia. Bayangkan, Alexander, jikalau ada yang lebih berhasil darimu, keagunganmu itu akan hilang juga. Nah, kau memang Agung sejak dulu, atau baru jadi Agung karena berhasil menaklukkan sebagian dunia?”

Alexander menganggap pertanyaan itu sebagai sindiran, “Dengarkan Sanyasin, tidak pernah ada yang berani berbicara seperti itu kepadaku. Aku masih menghormatirnu. Aku clatang ke sini untuk mengundangmu, mengajak kamu ke negeri Yunani, ke negaraku yang subur, sejahtera, damai. Segala kebutuhanmu akan kupenuhi.”

“Sayang, Alexander, kau terlambat puluhan tahun. Sekarang aku tidak membutuhkan suatu apa pun. Aku tidak perlu ke mana pun”—jawab sang Sanyasin.

“Sanyasin, mungkin kau tidak tahu bahwa penolakanmu dapat berakibat fatal. Aku tidak akan segan-segan rnembunuhmu. Sadarkah kamu, bahwa kau menolak Alexander?”—rupanya  Alexander benar-benar marah.

“Aku sadar, aku sedang menolak seorang pengemis—seorang yang tidak puas, tidak pernah merasa puas dan tidak merasa cukup dengan apa yang ia miliki, sehingga ia harus menaklukkan dunia ini. Sadarkah kamu, Alexander, bahwa keinginanmu untuk menaklukkan dunia ini timbul karena kau tidak puas, tidak pernah puas dengan apa yang kamu miliki? Kau kosong, hampa! Dan kau ingin mengisi kekosongan dirimu, kehampaan jiwamu, dengan gelar ‘Yang Dipertuan Agung’. Kau ingin mengisi kehampaan batinmu dengan kemenangan-kemenangan yang tidak berarti”—suara Sanyasin pelan, datar tetapi jelas. Kata-kata itu menusuk jiwa Alexander.

“Dan tentang ancamanmu, Alexander, ketahuilah bahwa untuk itu pun kamu sudah terlambat puluhan tahun. Yang dapat mati sudah mati. Badan ini ada atau tidak, sudah tidak menjadi persoalan lagi. Aku tidak pernah mati. Kembalilah, Alexander. Pulanglah ke Yunani dan renungkan kata-kataku ini”—kata Sanyasin menasihati.

Alexander yang Agung menangis, mencucurkan air mata, seperti seorang anak kecil. Sang Sanyasin rnemeluknya, “Tenanglah, anakku, tenang. Berdamailah dengan dirimu, dalam jiwamu. Segala sesuatu yang kau cari ltu berada dalam dirimu sendiri. Keagungan tidak datang dari luar. Keagungan berasal dari dirimu sendiri. Kenalilah dirimu, temukan dirimu dan kau tidak akan membutuhkan sesuatu apa pun dari luar.”

Siapa yang kaya, siapa yang miskin? Siapa raja, siapa peminta-minta? Sanyasin dalarn kisah ini adalah seorang “Insannya Tuhan”. Ia adalah “seorang raja dalam jubah darwish”, dalam jubah seorang fakir, seorang miskin. Sebaliknya Alexander—yang nampaknya begitu tegar, begitu kukuh, begitu agung gemerlap—sebenarnya keropos, kosong, cidak memiliki sesuatu apa pun.

Tidak berarti bahwa seorang “Insannya Tuhan” akan meninggalkan istananya, menjauhkan diri dari keramaian dunia dan tinggal di hutan. Tidak demikian. Ia yang melarikan diri dari harta-benda sebenarnya seorang pengecut. Ia takut tergoda, itu sebabnya ia melarikan diri dari dunia benda.

Anda tidak perlu ke mana-mana. Tidak perlu melarikan diri. “Insannya Tuhan” tidak akan mengejar dunia benda. Tetapi, apabila ia dianugerahi dengan harta-benda, ia juga tidak akan melarikan dirinya. Ia tidak takut tergoda. Ia akan tetap sadar. Ia akan menikmati dunia benda dengan penuh kesadaran bahwa semuanya itu bersifat sementara, temporer, tidak kekal, tidak abadi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

One thought on “Kisah Sufi: Alexander Yang Agung dan Seorang Sanyasin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s