Hanya Karma Duka Derita Penyebab Kita Lahir Kembali? Adakah Solusinya?

buku yoga sutra duka derita

Duka derita

Kita lahir dan mati, dan lahir, dan mati berulang kali, kadang kala hanya untuk mempelajari satu mata pelajaran. Kita sedang lari di tempat. Hampir setiap kali kita mengalami kelahiran dalam lingkungan yang sama dan itu-itu juga. Kita lahir dalam keluarga yang sama. Yang dulu jadi istri, sekarang jadi ibu. Yang dulu jadi anak, sekarang jadi istri. Yang dulu jadi sahabat, sekarang jadi Ayah. Yang sekarang jadi suami, dulunya kakak. Anda tidak pernah bebas dari lingkungan yang sempit ini. Perannya berbeda, tetapi tema sentralnya masih sama. Sesungguhnya, kita mengulangi cerita yang sama, dengan sedikit variasi di sana-sini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Apa yang menyebabkan kita lahir kembali berulang-ulang? Solusi apa yang perlu dilakoni agar kita tidak lahir kembali?

Berikut penjelasan Patanjali tentang hal tersebut:

 

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

“Berakar pada klesa atau pengalaman duka-derita—penderitaan—, reservoir atau akumulasi karma atau perbuatan sebab kelahiran atau keberadaan pada saat ini maupun masa mendatang.” Patanjali Yoga Sutra II.12

Ini adalah sutra yang amat sangat penting untuk memahami sebab terjadinya reinkarnasi. Sutra ini menjelaskan alasan adanya hidup, kehidupan yang sedang kita jalani saat ini, maupun yang akan kita jalani pada masa mendatang. Renungkan setiap kata yang terucap oleh Patanjali

 

AKUMULASI ATAU TIMBUNAN KARMA ATAU PERBUATAN YANG BERAKAR PADA KLESA, DUKA-DERITA.” Berarti, bukan sembarang reservoir, sembarang timbunan. Patanjali amat sangat jelas: Secara harfiah karmasaya berarti “ranjang karma”—tempat tidur atau tempat tinggal karma. Kita menerjemahkannya sebagai reservoir, tempat penyimpanan atau penimbunan, untuk mempermudah pemahaman kita.

Apa isi reservoir ini?

Karma yang berakar pada klesa—segala macam perbuatan yang berakar pada duka-derita, penderitaan.

Ranjang atau keranjang karma “seperti itulah” yang menyebabkan janma atau kelahiran. Baik kelahiran kita sekarang, saat ini, maupun yang akan datang.

Renungkan.

Berarti, jika keranjang karma kita berisikan karma yang tidak berakar pada klesa, kelahiran-ulang tidak terjadi. Tidak ada punarjanma atau punarbhava—kelahiran kembali, keberadaan kembali. Demikiankah maksud Patafijali?

Jawabannya: Tidak juga. Sebab,

 

KARMA YANG TIDAK BERAKAR PADA KLESA ATAU DUKA—DERITA adalah karma ringan. Karma seperti itu akan menguap, menyebarkan berkah, menjadi berkah bagi semua—tidak akan tertimbun.

Karma yang tertimbun adalah karma berat, yaitu yang berakhir pada klesa, penderitaan. Sebagai contoh, coba renungkan,—kalau perlu catat di atas kertas—, sepanjang usia Anda hingga hari ini, saat ini, jam ini, ada berapa banyak pengalaman membahagiakan yang telah Anda lewati? Berapa banyak pula pengalaman duka?

This is a good exercise.

Coba ambil kertas, buatkan tiga kolom. Kolom pertama untuk nomor urut. Kedua untuk pengalaman-pengalaman suka atau membahagiakan. Kolom terakhir untuk pengalaman-pengalaman duka.

Jangan meneruskan ulasan ini.

Coba lakukan dulu sesuai dengan panduan. Setelah itu, barulah melanjutkan ulasan ini.

 

PERHATIKAN, APA YANG TERJADI? Sulit sekali mengurut, mendaftar setiap pengalaman-pengalaman suka yang membahagiakan. Lebih mudah mudah mengurut, mendaftar pengalaman-pengalaman duka.

Jangan cepat-cepat menyimpulkan sesuatu. Coba renungkan kembali. Kendati, barangkali Anda sudah berhasil mengurut, mendaftar puluhan atau bahkan ratusan pengalaman yang membahagiakan, sesungguhnya daftar panjang sepanjang apa pun tidaklah lengkap. Belum lengkap. Mustahil kita bisa mengenang setiap kejadian yang membahagiakan.

Sebaliknya, daftar duka-derita nyaris tegas dan jelas. Setidaknya lebih akurat daripada daftar suka. Baca ulang setiap pengalaman duka yang telah Anda inventarisasi—terasa berat? Seolah ada beban di dada Anda? Nah, pengalaman-pengalaman yang “membebani” dan berakar pada duka-derita atau klesa inilah yang menjadi benih bagi kehidupan berikutnya; bahkan, bagi perbuatan Anda dalam hidup ini.

Kenapa?

 

SADAR ATAU TIDAK, KITA SEMUA SEDANG MENGEJAR ANANDA—kebahagiaan kekal, abadi, langgeng. Setiap penderitaan, setiap pengalaman duka membuat kita makin ngebet dalam pencarian kita.

Setiap pengalaman duka membuat kita berharap, “Next time better.” Terucap atau tidak, kita semua—tanpa kecuali—selalu berharap bahwa di ujung terowongan-duka yang sedang kita lewati, pasti ada harapan baru. Kita selalu mengejar setitik cahaya harapan di ujung terowongan.

Harapan inilah yang menyebabkan terjadinya kelahiran ulang. Harapan ini pula yang menyebabkan kita berbuat “lebih baik” supaya hidup kita selanjutnya bebas dari duka.

 

CONTOH LAIN UNTUK LEBIH MEMPERMUDAH PEMAHAMAN KITA, contoh dari kehidupan Hola, pelanggan setia kehidupan di alam kita.

Setelah kawin-cerai-kawin puluhan kali, Hola baru membaca Yoga Sutra. Maka ia mendatangi setiap perempuan yang pernah dikawininya, pernah menjadi pendampingnya—tentu yang masih hidup, “Jeng, Ayu, Neng, terima kasih atas segala duka-derita yang kalian berikan padaku selama menjadi pendampingku. Berkat segala penderitaan itulah, setiap kali aku bersemangat untuk mencoba lagi!”

Inilah rahasia inkarnasi.

Mau jadi Hola? Mau lahir kembali? Gampang, simpan baik-baik keranjang duka-derita Anda Kalau bis tambah terus dengan pengalaman duka-derita yang baru. Niscaya Anda memiliki bekal yang cukup untuk menyebabkan puluhan, bahkan ratusan kali kelahiran.

 

SEBALIKNYA, JIKA INGIN BEBAS DARI KELAHIRAN ULANG, ikutilah petunjuk Patanjali. Buanglah isi keranjang itu. Termasuk keranjangnya—reservoir-nya ikut dibuang. Untuk apa menyimpan tempat sampah?

Mari kita renungkan.

Duka-derita atau klesa disebabkan oleh faktor-faktor, keadaan-keadaan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Faktor utama, sumber utamanya adalah avidya, ketidaktahuan, kebodohan.

Kebodohan utama adalah tentang jati diri. Menganggap diri sebagai badan adalah sumber segala penderitaan. Kesadaran Jiwa adalah solusi yang dapat rnengakhiri segala penderitaan. Kemudian, tidak ada lagi pengalaman-pengalaman duka; tidak ada keranjang, tidak ada tempat sampah; dan tidak ada pula alasan untuk “kembali” ke “alam” ini. Alhasil Jiwa dapat melanjutkan perjalanannya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s