2 Solusi Mengatasi Rasa Takut Tidak Dihargai

Sad, lonely nerd student

Takut Tidak Dihargai

 

Aku tak butuh pengakuan sebagai seniman, penyair, atau penulis. Karena aku sadar bahwa pengakuan dapat berubah kapan saja menjadi hujatan. Pujian sore ini bisa berubah menjadi cacian dan makian besok pagi. Seorang artis yang memperoleh berbagai penghargaan saat masih muda bisa terlupakan dan menghembuskan napas terakhir dalam kesepian. Seorang penyair atau penulis yang dikagumi dan karyanya laris manis bisa saja kehilangan pamor dan terlupakan oleh para penggemar dan pengagumnya. Adakah suatu keadaan yang dapat dipertahankan? Lalu mengapa aku mesti mengharapkan pengakuan yang berusia sesaat saja? Mengapa aku mesti gelisah jika tidak diakui? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut ini kutipan tentang solusi mengatasi rasa takut karena keterikatan.

buku fear management

Cover Buku Fear Management

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Solusi Pertama, Ketakterikatan. Mahaguru Shankara mengatakan bahwa: “Ketakterikatan membebaskan manusia dari rasa takut.”

Apa yang dimaksud dengan ketakterikatan! Dan, apa pula keterikatan itu? Keterikatan adalah ketergantungan dan kepercayaan kita pada pujian, pada imbalan, pada penghargaan dan pengakuan. Selama kita masih mengejar semuanya itu, kita masih terikat. Dan, selama kita masih terikat, kita masih takut.

Lapisan intelegensia kita memperoleh energi dari dua sumber utama: Pertama, sumber dalam diri: dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada pujian dan makian orang. Yang kedua, sumber di luar diri: dari pujian dan pengakuan. Ketika pujian berubah menjadi hujatan, dan pengakuan menjadi penolakan, lapisan inteligensia kita kehausan energi. Saat itu, kita menjadi ganas. Kita akan melakukan apa saja untuk memperoleh pujian dan pengakuan.

Karena itu, janganlah tergantung pada sumber energi di luar diri. Gunakan energi yang berasal dari dalam dirimu sendiri. Ketidaktergantungan pada sesuatu di luar diri inilah yang disebut ketidakterikatan.

Saya menulis buku, sumber energi di luar diri menghasilkan uang bagi saya. Saya memperoleh royalti atas penjualan buku-buku saya. Jika saya terikat pada sumber energi itu, saya akan menulis hanya untuk menghasilkan uang. Saya menjadi produsen buku. Saya akan memikirkan selera pasar melulu. Kreativitas saya sudah pasti mati. Saya akan melacurkan inteligensia saya.

Menulis semata untuk menghasilkan uang akan menyeret saya ke lapisan kesadaran pertama—lapisan fisik. Urusan perut menjadi urusan utama. Kemudian, rasa takut yang muncul juga tidak lagi terkait dengan lapisan inteligensia.

Solusi pertama bagi takut pada lapisan intelegensia ini juga terkait dengan Solusi Kedua: Berkarya Tanpa Pamrih.

Lakukan tugas dan pekerjaan dengan baik. Tidak perlu memikirkan hasil akhir. Janganlah terikat dengan hasil. Keterikatan seperti itu malah memboroskan energi. Kebaikan sudah pasti menghasilkan kebaikan. Percayailah hukum fisika, hukum alam, Hukum Karma ini.

Berilah Keberadaan kesempatan untuk turut mengurusi diri Anda. Anda berkarya dengan baik, dan ia menentukan hasilnya sesuai dengan hukum alam yang berlaku. Percayailah kebijakannya. Janganlah menyangsikan kearifan alam.

Cara tulis saya banyak dikritik oleh para sastrawan dan pemerhati sastra. Pun esei-esei saya di media dianggap tidak memenuhi syarat jurnalistik. Lalu, apa yang mesti saya lakukan? Saya menerima setiap masukan itu, kemudian saya merenung lama. Ternyata saya memang memiliki style yang beda. Saya tidak mengaku lebih baik dari orang lain. Tapi, saya memang beda. Dan, saya menerima perbedaan itu. Maka, orang lain pun mulai menerima perbedaan itu. TuIisan-tulisan saya mulai mendapatkan respons.

Saat itu jika saya rnengubah style supaya diterima oleh “pasar“, sudah pasti terjadi konflik dalam diri saya. Dan, konflik selalu memboroskan energi. Energi yang semestinya digunakan untuk berkarya malah terbuang begitu saja.

Kebenaran pasti jaya. Demikianlah ungkapan dalam bahasa kuno. Inilah kepercayaan para leluhur kita. Kepalsuan tidak pernah bertahan lama. Kepalsuan tidak dapat bertahan lama.

Karena itu, pastikan bahwa ide-ide, opini serta gagasan kita bersumber pada Kebenaran. Apa yang kita ungkapkan itu berasal dari pengalaman hidup kita sendiri? Tidak sekadar nyontek?

Kebenaran memang memiliki banyak sisi, namun sisi yang terdekat dengan kita adalah pengalaman hidup kita. Berkiblatlah pada sisi itu. Itulah Kebenaran bagi diri kita. Itulah Kebenaran Alami bagi kita.

Kebenaran itu senantiasa menuntun kita dari dalam hati kita sendiri. Kebenaran itu sedang berdialog dengan Anda lewat nurani Anda, lewat suara hati Anda. Percayailah suara itu.

Ada yang bertanya: “Bagaimana memastikan bahwa suara yang kudengar itu betul suara hati, bisikan suara pikiran, bukan pula godaan setan?”

Pikiran itulah Setan yang menggoda. Ketika suatu pikiran muncul, ketika bisikan setan terdengar, tercipta pula keraguan di dalam diri. Saat itu, nurani menciptakan keraguan itu.

Sebaliknya, jika kita mendengar suara hati, bisikan nurani, tidak ada keraguan lagi. Kita sudah pasti bertindak sesuai dengan tuntunannya.

Selama kita masih ragu, masih bimbang, selama itu suara hati belum terdengar. Saat itu, lebih baik duduk tenang, lakukan pernapasan perut sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Biarlah pikiran mengendap. Setelah beberapa menit, suara hati pun pasti terdengar jelas!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s