Tanamkan Sejak Dini Perlakukan Orang Lain Seperti Anda Ingin Diperlakukan! Demi Perbaikan Bangsa

buku bringing the best tahanan KPK

Ilustrasi salah pendidikan selama 12 tahun awal

Kekacauan yang terjadi saat ini, banyak pejabat tinggi yang semestinya melayani masyarakat malah menyusahkan masyarakat, para pengusaha nakal yang tidak peduli dengan keadaan bangsa dan Negara, para profesional yang lupa kode etik profesinya, semuanya disebabkan oleh pendidikan yang salah selama 12 tahun awal.

Selama enam tahun pertama, seorang anak belum bisa mengendalikan emosinya. Jika mau menangis, ia akan menangis. Ia tidak memperhatikan waktu dan tempat. Mau berteriak, berteriak saja. Mau tertawa, tertawa saja. Ia mulai belajar mengendalikan emosinya dalam masa enam tahun berikutnya. Masa inilah yang biasa disebut golden years, di mana lapisan-lapisan mental/emosionalnya mulai berkembang. Ia terinspirasi oleh cerita-cerita yang didengarnya, dibacanya; oleh acara-acara di televisi; oleh pelajaran di sekolah; oleh keadaan di rumah, di lingkungan sekitarnya; dan oleh pergaulannya. Demikianlah mulai terbentuk karakter seorang anak, berdasarkan faktor-faktor di atas, mana yang lebih dominan. (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pendidikan yang salah tidak hanya mencelakakan seorang anak didik saja tetapi akan turun temurun mencelakakan generasi berikutnya. Mengapa? Karena kesalahan itu terekam dalam DNA dan akan diteruskan kepada generasi berikutnya, kecuali jika segera diperbaiki. Sesungguhnya, kita sendiri sudah menjadi korban kesalahan yang sama. Kita mewarisinya lewat muatan DNA dari orangtua kita. Dan mereka mewarisinya dari orangtua mereka. Celakanya, jika suatu kesalahan sudah turun-temurun menjadi rekaman DNA maka kesalahan itu lebih sulit untuk diperbaiki. Rekaman lama itu ibarat pohon lebat yang sudah berakar kuat sekali. Tidak berarti pohon rekaman itu tidak dapat ditebang. Bisa saja, tetapi membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh. (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kutipan berikut ini menjelaskan tentang pendidikan nilai kemanusiaan yang universal yang perlu ditanamkan sejak dini:

buku bringing the best in the child

Cover Buku Bringing the Best in the Child

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Di penghujung hari, jabatan hanyalah sebuah jabatan, sebuah gelar akan tetap menjadi sebatas gelar, ia datang dan pergi silih berganti. Esensi diri dan nilai-nilai yang kau terapkan itulah yang paling penting.” Ratu Rania dari Yordania

Sesungguhnya, apa yang dianggap sebagai “Prinsip Dasar” adalah dasar yang diletakkan di atas pondasi pendidikan yang manusiawi, sistem pendidikan, maupun semua jenjang institusi pendidikan harus dibangun, yaitu: “Perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan.”

Ini bukanlah monopoli salah satu agama atau sistem kepercayaan. Seperti yang akan kita baca selanjutnya, ini adalah prinsip yang bersifat universal.

Kebijakan Mesir Kuno: “Apa yang kau lakukan terhadap orang lain adalah sebab ia memperlakukan dirimu (dengan cara yang sama).” (Kisah Eloquent Peasant, Terjemahan Bahasa Inggris oleh R.B. Parkinson)

Spiritualitas Native Amerika: “Semua yang ada adalah saudara kita; apa yang kita perbuatpada semua, kita perbuat juga pada diri kita. Sesungguhnya Semua adalah Satu. ” (Black Elk)

Kebijakan Romawi Kuno: “Hukum yang tertulis dalam hati semua manusia untuk mencintai masyarakat seperti mereka mencintai diri mereka sendiri.”

Kebijakan Yunani Kuno: “Apa yang kau harapkan dari tetanggamu untukmu, itu pula yang tetanggamu harapkan darimu.” (Sextus, Sang Pitagorian)

Wiccan Rede (Himne Kebijaksanaan): “Lakukan apa saja yang kau suka, asal tidak membahayakan siapa pun, termasuk dirimu.”

Kebijakan Yoruba Afrika: “la yang akan mengambil tongkat runcing untuk seekor bayi burung mesti mencobanya dulu pada dirinya sendiri dan merasakan bagaimana sakitnya.”

 

Mutiara-mutiara kebijakan ini diperoleh dari apa yang biasa kita sebut sebagai, aliran kepercayaan. Di mana letak perbedaannya dengan sistem kepercayaan yang kita kenal sebagai agama?

Hindu: Tidak seharusnya seseorang melukai orang lain, seperti ia pun merasa terluka jika diperlakukan dengan cara yang sama. Ini, secara garis besar adalah dharma (kebajikan atau nilai luhur ketepatan dalam hal bertindak). Perilaku lain yang berlentangan adalah disebabkan oleh ego mementingkan diri belaka. (Mahabharata, Anusasana Parva, Bab CXIH, Ayat 8)

Buddhis: Jangan lukai orang lain seperti kau pun tidak ingin dilukai. (Udanavarga 5:18)

Konghucu: Jangan pernah memperlakukan orang lain seperti kau pun tidak ingin diperlakukan. (Analects XV.24)

Yahudi: Apa saja yang tidak kau sukai, jangan kau perlakukan pula kepada sesamamu. Inilah Keseluruhan Isi Taurat; sisanya adalahpenjelasan; lakukan dan pelajari. (Talmud, Shabbat 31a)

Kristen: Perlakukan orang lain seperti kau pun ingin diperlakukan, inilah intisari hukum Musa dan ajaran para utusan. (Matthew 7:12)

Islam: Tidaklah ia benar-benar beriman hingga ia berdoa untuk saudaranya seperti ia berdoa untuk dirinya sendiri. (An-NaWawi’s Forty Hadith 13)

Dan di manakah letak perbedaan ajaran tersebut dengan para filsuf masyhur berikut:

Epictetus: Apa saja kesulitan yang kau coba hindari, janganlah kau timpakan pada orang lain.

Kant: Berbuatlah dengan penuh keyakinan serta ketekadan bahwa perbuatanmu itu bisa menjadi tolok ukur bagi hukum kebajikan yang bersifat universal.

Plato: Biarlah aku berbuat untuk orang lain seperti apa yang kuharapkan mereka berbuat untukku.

Socrates: Jangan lakukan kepada orang lain apa-apa yang dapat memancing amarahmu jika orang lain perbuat kepadamu.

Seneca: Perlakukan bawahanmu seperti kau pun ingin diperlakukan oleh atasanmu. “Prinsip Dasar” ini juga adalah checkpoint atau tolok ukur untuk semua Nilai-Kemanusiaan lainnya. Jika nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip ini, maka nilai itu manusiawi dan bersifat universal. Dan, jika nilai-nilai itu tidak sejalan, maka ia bersifat raksasa, barbar, tidak manusiawi, dan tidak universal.

 

MENTOR SAYA MENYARANKAN EMPAT NILAI KEMANUSIAAN. Nilai-nilai tersebut adalah: Kebenaran (Satya), Ketepatan Bertindak atau Kebajikan (Dharma), Kedamaian (Santi), dan Kasih Sayang (Prema). Setelah itu, satu nilai lagi, yaitu Tanpa-Kekerasan (Ahimsa) baru ditambahkan. Sesungguhnya Tanpa-Kekerasan merupakan hasil alami dari Kasih Sayang dan terkait dengan Ketepatan Bertindak.

Tidak berarti, bahwa Nilai Kemanusiaan Universal hanya empat nilai itu saja. Masih ada banyak lagi lainnya. Yang paling dasar memang empat nilai di atas. Kita juga bisa tambahkan beberapa sub-nilai lainnya yang terkait dengan empat nilai dasar ini.

Misalnya, Integritas dan Kejujuran menjadi sub-nilai dari Kebenaran; Tanpa-Kekerasan, Empati, Berbagi, Peduli—semua adalah sub-nilai dari Kasih Sayang; Berbicara dengan Lembut, Kebersamaan, dan seterusnya sub-nilai dari Kedamaian; dan, Melayani yang Membutuhkan menjadi sub-nilai Ketepatan Bertindak. Itu beberapa contoh saja. Demikian,

 

KEEMPAT NILAI INI ADALAH YANG PALING PENTING DAN PALING MENDASAR. Para Guru dan Pendidik harus senantiasa mempraktikkan keempat nilai dasar itu terlebih dahulu sebelum mengajarkannya ke anak-anak.

Lakukan apa yang Kau Katakan, Lakoni sebelum Berkhotbah. Jadikan diri kita agen perubahan dan transformasi, dimulai dari transformasi diri, mengubah diri, baru kemudian, dan hanya kemudian, kita baru dapat melayani sesama. Ya, melayani sesama lewat berbagi nilai-nilai ini dengan anak-anak.

Seperti yang mentor saya selalu ajarkan, nilai-nilai ini sebaiknya menjadi bagian dari, dan mewarnai seluruh kurikulum. Cara pandang dan cara pikir kita, semua hal yang dipelajari anak-anak harus diajarkan dengan didasarkan pada nilai-nilai tersebut. Sehingga, seluruh sistem pendidikan berorientasi nilai.

Jadi, seorang Guru Sejarah, misalnya, bukan hanya mengajar tanggal/hari bersejarah dan tokoh sejarah saja, tapi yang terpenting pelajaran dan kebijakan yang bisa dipetik dari masa lalu, sehingga kesalahan yang sama tidak terulang lagi.

Begitu juga, seorang Guru Geografi tidak hanya mengajarkan ke murid-muridnya tentang letak negara-negara, tapi, tentang planet bumi ini sebagai rumah kita bersama.

Bahkan, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi — semua pelajaran, tennasuk sains—haruslah berorientasi nilai.

 

SEBAGAI TAMBAHAN, satu minggu sekali, adakan kelas tentang Nilai-nilai Kemanusiaan. Ini minimal. Dan, khusus di kelas ini tidak perlu ada PR. Anak-anak jangan sampai merasa terbebani. Mereka mesti menunggu-nunggu kelas berikutnya, dengan senang hati.

Kita tidak sedang membahas metodologi mengajar di sini. Apa yang diberikan berikut adalah komponen-komponen yang paling esensial dalam mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, dan, supaya kita senantiasa mengingat:

  1. Yoga/Meditasi berguna untuk Meningkatkan Inteligensia.
  2. Bercerita berguna untuk membantu Menyerap Nilai yang disampaikan.
  3. Bernyanyi berguna untuk Membudayakan Emosi.
  4. Bermain-Peran (Role-Play atau Drama Singkat) berguna untuk Membangun Kebij aksanaan.
  5. Aktivitas Kelompok/Bersama berguna untuk Melatih Kebersamaan, dan Membangun Kemampuan Bekerja dalam Tim.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Bringing the Best in the Child, Memunculkan yang Terbaik dalam Diri Anak, Kuta: Anand Krishna Global Cooperation)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s