Raihlah Kekayaan! Tapi Jangan Mengukur Segala Sesuatu dengan Timbangan Bisnis

buku dvipantara yoga sastra bali atau hawai

Bali atau Hawai????

Pendidikan, Layanan-Kesehatan, Keadilan, Hukum, Budaya Jangan Dibarter dengan Uang

Yang perlu kita lakukan hanyalah satu: Go Transpersonal! (melampaui kepentingan personal/pribadi). Setelah itu alam bekerja sendiri untuk membantu. Langkah Pertama untuk Going Transpersonal sesungguhnya juga adalah langkah terakhir. Cukup satu langkah saja, dan kau sudah menjadi makhluk transpersonal!

Langkah itu adalah: Apapun yang kau lakukan, pikirkan kepentingan orang lain juga. Jika kau tidak bisa membantu, setidaknya janganlah sekali-kali mencelakai orang lain karena perbuatanmu. Jangan sampai usahamu, pekerjaanmu, bisnismu, industrimu berkembang dan menjadi besar diatas landasan penderitaan orang lain. Apakah mungkin? Sangat mungkin. Dan, sesungguhnya hanyalah kemungkinan ini yang dapat menyelematkan planet bumi dari kehancuran.

Demikian nasehat Bapak Anand Krishna dalam buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sekitar abad ke 8 leluhur kita sudah menyerukan untuk melepaskan “komersialisasi”, “materialisme” yang telah merambah semua aspek, semua bagian kehidupan manusia. Rupanya disiplin ini merujuk pada kelemahan-diri yang secara khusus menjadi kelemahan penduduk kepulauan Nusantara.

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

YAMA KEEMPAT ADALAH AVYAVAHARIKA—makna harfiah dari kata tersebut adalah “tidak berbisnis”. Namun ini bukanlah seruan untuk menutup bisnis dan berhenti dari profesi kita. Ini adalah seruan untuk menghindari “business-mindedness”. Ini bukanlah seruan untuk melepaskan materi, karena buku di tangan Anda pun adalah materi. Tubuh kita — fisik, vital, mental/emosional — semuanya adalah materi, material. Apa yang harus dilepaskan dan apa yang harus dipertahankan?

Ini adalah seruan untuk melepaskan “komersialisasi”, “materialisme” yang telah merambah semua aspek, semua bagian kehidupan manusia. Ini adalah sebuah pengingat untuk berhenti menafsirkan sukses atau keberhasilan materi sebagai kebahagiaan.

Oke bisnis adalah bisnis. Profesi adalah profesi.

Tetapi biarkan pendidikan tetap menjadi pendidikan. Biarkan layanan-kesehatan tetap menjadi layanan kesehatan. Biarkan keadilan dan sistem hukum tidak terkorupsi.

Ini adalah seruan untuk membebaskan mind kita dari sifat yang sangat negatif, sifat yang sangat berbahaya yang mengukur segala sesuatu dengan timbangan bisnis. Ini adalah seruan untuk berhenti mengukur segala pengalaman dengan tolok ukur materialisme murni.

 

MENARIK UNTUK DICERMATI BAHWA YAMA KHUSUS INI unik dan terbatas pada gubahan-gubahan, kitab-kitab yang ditulis di Dvipantara atau apa yang kita sebut sebagai Kepulauan Nusantara.

Dalam konteks ini, marilah kita mengingat bahwa resi agung penggubah gubahan ini adalah orang Bali asli, warga kepulauan ini. Kita harus memahami dan mengapresiasi Yama, pedoman disiplin khusus ini dengan sangat bijak. Adanya disiplin ini memiliki makna yang khusus bagi setiap orang yang tinggal di kepulauan ini. Jelas disiplin ini merujuk pada kelemahan-diri yang secara khusus menjadi kelemahan penduduk kepulauan ini.

Berabad-abad kemudian (setelah diberi peringatan di atas), ketika kita melihat sebagian besar dari pulau Bali yang indah dengan cepat berubah menjadl Hawai, Bahama, atau Maladewa—kita tidak bisa tidak setuju dengan naslhat sang resi, “Berhentilah mengomersialisasikan dirimu sampai kau kehilangan jati-diri. Itu akan menjadi tindakan bunuh-diri.”

Keburukan dari materialisme bisa dilihat di mana-mana — perubahan nilai-nilai yang tidak membawa kebaikan pada masyarakat, tetapi malah menjatuhkan martabat manusia. Pulau yang dulu bebas maling, sekarang kekurangan sel penjara. Sebagian kecil dari para kaya-raya menikmati hidup mereka di atas penderitaan para miskin. Para penduduk asli dipaksa merantau ke seluruh kepulauan Nusantara demi kehidupan yang layak, sementara pulau rnereka dijarah, diperkosa oleh sekelompok preman yang menghalalkan segala cara, cara yang paling kejam yang mungkin dilakukan atas nama kemajuan-semu, kesejahteraan semu, dan pertumbuhan ilusif.

 

RAIHLAH KEKAYAAN, JADILAH KAYA — tidak ada yang salah dengan itu semua, tetapi dengan tetap berada dalam batas dharma atau kebajikan. Inilah seruan para resi kita. Inilah pesan para rsi kita.

Tidak ada yang salah dengan menjadi kaya. Namun, salah total dengan menjadi seorang yang materialistik, yang menganggap kekayaan, menganggap materi di atas segalanya. Cari uang dan berbagilah dengan mereka yang kurang beruntung. Inilah dharma, kebajikan. Mencari uang dengan menghalalkan segala cara, bahkan dengan mencelakakan orang lain secara langsung atau tidak langsung — inilah adharma, kebatilan.

Jalan dharma atau kebajikan menuntun kita pada hidup yang bermakna, hidup yang utuh, hidup yang sungguh ceria, hidup yang dipenuhi kebahagiaan agung atau ananda. Jalan adharma atau kebatilan menuntun kita pada ketidakpuasan, dahaga yang tidak pernah selesai untuk mencari lebih dan lebih, dan kehancuran diri. Pilihan ada di tangan kita sendiri, teman-teman.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s