Kedekatan dengan Orang Ber-“arus-pendek” Penyebab Terbakarnya Rumah Diri? Jagalah Pergaulan!

buku bhagavad pasien sakit jiwa

Ilustrasi Kedekatan perasaan dengan pasien sakit jiwa membuat kita “rada-rada”

 

Pergaulan dapat menginduksi kita. Dengan makan, minum, dan bergaul dengan orang baik, kita ikut terinduksi menjadi baik. Jika melakukannya dengan orang yang tidak bermoral, kita juga akan terinduksi dan ikut menjadi orang yang tidak bermoral. Mengapa bisa demikian? Napas kita bisa secara otomatis menjadi selaras dengan orang-orang yang berada di sekitar kita. Apalagi jika orang-orang itu kita anggap sebagai sahabat. Dalam keadaan napas kita selaras, maka kita dapat saling mempengaruhi. Demikian penjelasan dalam buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hanya orang-orang yang pribadinya sudah berkembang secara utuh yang dapat membantu kita untuk mengembangkan diri kita secara utuh. Berada dekat orang-orang seperti itu, kadang kita tidak perlu menunggu untuk disapa, untuk diajak bicara atau mendengar. Bila electric impulse dalam diri kita bergetar pada gelombang yang sama dengan manusia utuh itu, tanpa ucapan pun kita dapat menangkap pemikirannya……. Dalam tradisi kuno, ini yang disebut Shaktipaat. DaIam tradisi Zen dikaitkan dengan transmisi-transmisi ajaran, transmisi kesadaran dari sang guru kepada siswa yang siap. Shaktipaat bukanlah sebuah ritual, tetapi suatu “kejadian” yang hanya terjadi bila guru dan siswa berada dalam gelombang yang sama; ketika keduanya sedang bergetar bersama. Demikian penjelasan dalam buku (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bagaimana pula kita “dekat” dengan pasien yang sakit jiwa? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 18: 15

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kelima faktor inilah yang menyebabkan segala macam perbuatan, menggerakkan gugusan pikiran serta perasaan, termasukjuga pengucapan; baik yang tepat, maupun yang tidak tepat.” Bhagavad Gita 18:15

 

Ada kalanya kelima faktor tersebut bekerjasama dan berbuat sesuatu secara bersama, tapi ada juga saat dimana mereka tidak bekerja sama. Gugusan pikiran serta perasaan yang berpikir jahat, berprasangka buruk, atau berperasaan baik – bisa jadi tidak menggerakkan badan dan indra untuk berbuat sesuatu. Kendati demikian, menurut Krsna dalarn ayat ini, sesungguhnya gugusan pikiran serta perasaan sudah berbuat. Walau, perbuatannya sebatas “dalam pikiran dan perasaan”.

 

KEMUDIAN TENTANG PERBUATAN LEWAT UCAPAN – Tidak melukai seseorang secara fisik, namun melukai hatinya dengan ucapan-ucapan ketus — itu pun perbuatan. Tidak memberi sesuatu, tetapi membangkitkan semangat seseorang dengan kata-kata baik — adalah perbuatan juga.

Tidak perlu memukul atau membunuh untuk menjahati seseorang — kita dapat menjahatinya dengan menyebarkan gosip, fitnah, dan menggunakan media untuk melakukan black campaign. Banyak “pengunjung” dan penyumbang tempat-tempat ibadah secara teratur, berpikir, “Dengan amal-saleh aku dapat mencuci dosa-dosaku.” Tidak, tidak bisa. Konsekuensi dari perbuatan tak dapat, tidak rnungkin dapat dihindari.

 

SAYA PERNAH KENAL SEORANG PEJABAT – Ia merasa dirinya tak akan pernah tersentuh. Pasalnya, ia menyimpan banyak “rahasia” atasannya. Jika ada yang berani “menyentuh” dirinya, maka dia pun akan “bernyanyi”.

Seseorang yang berpikir demikian, tidak bisa bernyanyi. Nyanyiannya sumbang. Selama ia masih ditakuti oleh atasannya, maka ia aman. Selama itu saja.

Pejabat “cukup tinggi” dengan “moral sangat rendah” dalam cerita ini, akhimya tertangkap juga. Dalam dunia penuh kompetisi ini, ia tak mampu bertahan lama di medan laga. Ada yang menyalipnya. Saat ini dia menjadi rongsokan. Mati tidak, hidup pun tidak. Ia berbaring tak berdaya di atas ranjang derita, menangisi nasibnya. Kenapa? Karena selama ini, sesungguhnya ia hanya percaya pada harta-benda, kekuasaan, kedudukan. Ketika semuanya itu terbukti tidak bisa membantu, ia kehilangan sandaran.

 

KEMBALI PADA PERBUATAN LEWAT GUGUSAN PIKIRAN DAN PBRASAAN – Ada kalanya kita tidak peduli terhadap pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan jahat. Namun, ketidakpedulian kita tidak membebaskan kita dari konsekuensinya.

Pikiran dan perasaan baik, tepat — menghasilkan kebaikan. Pikiran dan perasaan tidak baik, tidak tepat, jahat — menghasilkan ketidakbaikan, ketidaktepatan, kejahatan.

Satuan Pikiran dan Perasaan adalah ibarat percikan-percikan listrik. Dalam keadaan arus-pendek yang sering tak-terdeteksi, bukan saja rumah di mana arus pendek itu terjadi yang terbakar—rumah-rumah lain di sekitarnya ikut terbakar juga.

Kita boleh bertanya, “Apa kesalahanku sehingga rumahku terbakar? Instalasi listrik rumahku cukup baik!”

Sebaik apa pun instalasi listrik di rumah kita, keberadaan rumah kita “dekat” rumah yang terbakar itu sudah cukup alasan bagi rumah kita ikut terbakar!

 

DAMPAK PERGAULAN – Kedekatan fisik, pikiran, atau perasaan dengan orang-orang yang ber-“arus-pendek” adalah penyebab terbakarnya rumah kita.

Korsleting yang sedang terjadi dalam gugusan pikiran serta perasaan seorang yang dekat dengan kita adalah berbahaya, bisa fatal! Kita bisa ikut korslet, ikut terbakar.

Pemahkah kita memperhatikan sifat para pekerja di rumah sakit jiwa? Umumnya mereka  “rada-rada” juga, walau mereka tidak menyadari hal itu, atau tidak mau mengaku.

Tidak berarti orang gila tidak boleh dirawat, tidak boleh dilayani. Silakan merawatnya, silakan melayaninya, tapi jagalah “jarak aman”. Jangan terlibat dalam persoalan mereka secara emosional. Kita akan ikut menjadi gila dan malah tidak mampu rnerawat dan melayani mereka yang membutuhkan kita.

 

MEREKA YANG SENANG BERCURHAT—CURHATAN dengan menggunakan kedok “bertemu untuk arisan” atau kedok lain mana pun — berada dalam wilayah risiko tinggi menjadi “gila”.

Seseorang yang percaya pada kekuatan curhat tidak percaya diri. Dan “tidak percaya diri” menjauhkan diri kita dari kita sendiri. Kita membiarkan diri kita melemah, sehingga orang lain yang sama lemahnya dapat mengemudikan diri kita.

Setiap kelompok curhat, terdiri dari 2 orang, 200 orang, 2.000 orang, atau lebih — adalah kelompok orang-orang bingung, berjiwa lemah, berkesadaran jasmani saja, dan tidak tahu arah hidup. Mereka semuanya tanpa kecuali dan tidak pernah tidak — saling mencelakakan.

Jadilah Samkhya Yogi. Gunakan matematika kehidupan untuk memilah tindakan-tindakan mana saja yang tepat dan mana yang tidak tepat. Janganlah menanggung konsekuensi atas perbuatan yang tidak tepat melulu. Kita bisa bertindak secara tepat, asal menjalani hidup dengan penuh kesadaran, kewaspadaan, ke-eling-an.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s