Asanga, Be Detached! Bersahabat, Berkarya, Melayani Tanpa keterikatan

Asanga tidak berarti mengalihkan keterikatan dari istri ke selir, dari urusan dunia ini ke dunia sana

buku life workbook keterikatan masa muda

Ilustrasi jangan terikat pada kecantikan di masa muda

Keterlibatan Berlebihan menimbulkan Ketertarikan – Anda bertemu dengan seseorang setiap hari, ada urusan, tidak ada urusan – tetap bertemu. Maka, kemungkinannya dua, Anda bertengkar, atau makin tertarik, makin ingin bertemu. Dari ketertarikan itulah timbul keterikatan. Anda mulai merasakan dunia Anda hampa tanpa orang tersebut.

Hidup terasa tidak berarti tanpa sesuatu yang telah merangsang Anda, mungkin kendaraan, mungkin rumah, mungkin gadget elektronik terbaru – apa saja. Selanjutnya, muncul keinginan untuk memiliki – inilah induk dari keterikatan. Demikian penjelasan dari Bhagavad Gita 2:62.

Berikut ini ajakan agar tidak terikat pada sesuatu, asanga, be detached seperti yang dijelaskan pada buku Life Workbook…………

buku life vorkbook 

Cover Buku Life Workbook

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

Asanga tidak berarti tanpa persahabatan, tapi tanpa keterikatan. Silakan bersahabat, tapi tanpa keterikatan. Berkaryalah, tapi janganlah terikat pada hasilnya. Layanilah keluarga dan cintailah mereka, tapi tanpa keterikatan.

Apa bisa? Bisa. Keterikatan bukan cinta, Keterikatan menciptakan keinginan untuk memiliki. Kemudian untuk memiliki sesuatu atau seseorang, kita akan melakukan apa saja, dengan membenarkan himsa atau kekerasan.

Rahwana ingin memiliki Sita, dan ia menculiknya. Itu kekerasan. Itu terjadi karena keterikatan dan ketertarikan Rahwana pada tubuh Sita. Keterikatan selalu berakhir dengan duka, dengan rasa kecewa, karena kita tidak dapat memiliki segala apa yang kita inginkan untuk selamanya.

“Rambutku seksi,” kata seorang teman. Tidak lama kemudian, rambutnya mulai rontok. Dalam waktu beberapa bulan saja ia nyaris botak. Seksinya menguap entah ke mana, dan ia menjadi kesal. Selama berbulan-bulan ia menutup diri dalam rumah, tidak mau ke mana-mana, sambil mencoba segala macam cara untuk menumbuhkan kembali rambutnya. Karena tidak berhasil, ia menjadi minder. Seolah rambut itulah jati dirinya. Seolah, tanpa rambut yang dianggapnya seksi ia bukan apa-apa.

Orang bisa jantungan karena keterikatannya dengan rambut. Para biku sengaja menggunduli kepala mereka. Tidak ada keterikatan dengan rambut, tapi barangkali ada keterikatan dengan sesuatu yang Iain. Siapa tahu?!

Ada yang terikat dengan waktu. Ini adalah jenis keterikatan yang paling lucu, karena kita semua hidup dalam waktu. Kelahiran dan kematian terjadi dalam satu masa, satu periode — dalam waktu. Silakan menggunakan waktu dengan baik, tapi untuk apa terikat dengan waktu?

“Apa maksudmu dengan keterikatan dengan waktu?” tanya Hola. Ia merasa dirinya tidak terikat dengan waktu. la menghamburkan waktu seenaknya. Ditanya “lagi ngapain?”, ia selalu menjawab, “Oh, just killing time!” Maksudnya lagi nyante, lagi “membunuh waktu”.

Pada kenyataannya, kita semua sedang terbunuh oleh waktu. Kita semua sedang menua dalam waktu, karena waktu dan oleh waktu.

Menghamburkan waktu, menyia-nyiakan waktu adalah pertanda keterikatan dengan waktu. Kita tidak dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam “waktu yang kita miliki” karena kita menempel dengan waktu itu. Kita berhenti hidup dalam waktu.

Kita tinggal menunggu kematian kita dalam waktu. Ungkapan sederhana, “dulu di jamanku…” membuktikan keterikatan kita dengan waktu. Tidak perlu dulu-duluan. Namanya juga dulu, masa lalu, itu sudah lewat.

Orangtua yang selalu bernostalgia tentang masa mudanya jelas terikat dengan waktu. Seorang anak muda yang selalu mengkhawatirkan masa depannya, atau justru ingin cepat-cepat menjadi dewasa, sama-sama terikat dengan waktu pula.

Seorang teman bertanya: “Sekarang kau menganjurkan asanga atau ketakterikatan; kemarin menasihati orang untuk membeli tanah, untuk membangun rumah… apakah itu bukan keterikatan?”

Papan adalah “kebutuhan”; persis seperti pangan, sandang, bahkan seperti napas. Semuanya itu bukan “keterikatan”.

Seorang teman memang menyalahartikan apa yang saya katakan tentang “keterikatan”. Ia tidak mau membeli rumah, dan masih saja hidup di rumah kontrakan. Ketika ditanya, “kenapa?”, la menjawab, “Karena saya tidak mau terikat sama rumah.”

Tidak mau terikat sama rumah — baik, fine. Tetapi, bagaimana dengan keterikatannya pada materi, pada fulus, yang dia kejar terus seperti orang setengah gila?

Sudah berkecukupan, sudah punya tabungan, dan sudah punya usaha yang berjalan baik, masih saja mau ini, mau itu… Apakah itu bukan keterikatan?

“Tidak mau kawin, tidak mau terikat,” kata kawan yang lain. Tetapi, mau pacaran, mau meniduri anak orang. Barangkali pria itu tidak terikat sama wanita, tidak mau, tetapi bagaimana dengan keterikatannya sama sensasi-sensasi fisik yang hanya dapat diperolehnya lewat hubungan dengan lawan jenis?

Janganlah mencari pembenaran bagi sikap “enggan bertanggung jawab”. Mau senang tetapi tidak mau bertanggung-jawab; sikap itu tidak terpuji. Itu bukan asanga, bukan ketakterikatan.

Ada teman lain yang akan meninggalkan segala macam pekerjaan demi upacara keagamaan. Seberapa pun pentingnya suatu pekerjaan, ia akan melepaskannya begitu saja. Dan, dengan bangga ia mengatakan, “Aku sama sekali tidak terikat dengan pekerjaanku. Rejeki setiap orang sudah ditentukan. Kenapa harus memusingkan uang?”

Itu mungkin baik baginya, tapi bagaimana dengan keluarganya? Apakah sikapnya itu tidak memusingkan mereka? Dia tidak dipusingkan oleh uang, barangkali, tapi jelas dipusingkan oleh pemahamannya tentang agama dan keagamaan; dan membuat banyak orang pusing.

Ini kejadian di kantor pos. Di depan loket sudah ada antrean panjang. saya ikut antre di depan loket tak bertuan. Sejam kemudian, petugas baru nongol. Tidak ada rasa bersalah, ia malah mengharapkan kita semua memahaminya. “Abis sembahyang” katanya.

Ada yang ngomel, “Sembahyang ya sembahyang; kita juga sembahyang… tapi waktu kerja, ya kerja dong. Digaji untuk apa?”

Beranglah si petugas itu. Ia Iupa kode etik sebagai pegawai negeri, “Bapak jangan begitu ya; ini urusan agama.”

Asanga tidak berarti mengalihkan keterikatan dari istri ke selir, dari urusan dunia ini ke dunia sana. Asanga adalah “sikap” yang harus mewarnai setiap pekerjaan kita. Sekali lagi, berkaryalah tanpa terikat pada hasilnya.

Aneh kan, kita ingin membangun rumah di surga, sementara rumah yang sudah kita bangun di dunia merana, tidak dirawat. Kita sibuk mengurusi agama, sementara itu negara dan bangsa tidak terurusi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s