Mabok Birahi Resiko Bencana Mengikuti? Waspadalah!

Renungan Kitab Leluhur Sara Samuccaya

buku dvipantara dharma roro mendut

Ilustrasi Mabok Birahi

Seks Sebagaimana Dipahami dan Dilakukan Saat Ini… hanya memboroskan energi. Kenikmatan yang dirasakan hanya bertahan beberapa saat saja. Tidak lama kemudian, Anda lapar lagi, haus lagi, mencari lagi. Dan ketika ketertarikan terhadap pasangan Anda memudar, Anda mengejar pemicu baru. Seks tidak pernah memuaskan. Seks tidak memenuhi kebutuhan jiwa. Jiwa membutuhkan senggama agung dengan semesta, bukan passion, bukan birahi, tetapi compassion, kasih.

Selanjutnya tidak ada hubungan seks tanpa konsekwensi. Jika seks antara suami dan istri berkonsekuensi “tanggung jawab”, maka seks di luar nikah bisa memiliki 1001 macam konsekuensi. Umumnya saat berpacaran, atau saat “membeli” seks, tak seorang pun memikirkan konsekwensi tersebut. Konsekuensi tersebut baru terpikirkan setelah ada persoalan. Demikian nasehat yang disampaikan dalam buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Konsekuensi inilah yang sering menjadi bencana sebagaimana pandangan yang disampaikan leluhur kita dalam Kitab Sara Samuccaya……

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Hanya dikutip terjemahan bahasa Indonesia saja.

Sara Samuccaya 429

Keinginan seseorang tidak pemah berakhir, walau sudah memperoleh apa saja yang diinginkannya. Persis seperti api, yang kian membesar, ketika diberi persembahan minyak dan sebagainya. Pengertiannya, dengan memenuhi setiap keinginan badan dan indra—kita hanyalah memanjakan mereka. Hari ini keinginannya masih sedikit, terbatas—besok bertambah. Demikian, makin dilayani, makin menjadi-jadi.

 

Sara Samuccaya 430

Mengejar dan menginginkan seorang perempuan (karena terdorong oleh nafsu birahi) adalah dosa-kekhilafan yang terbesar. Malah, sesungguhnya, merupakan akar dari segala bencana. Pemahamannya di sini ialah: bukanlah seorang perempuan yang rnenjadi akar segala bencana, tapi adalah nafsu birahi yang membuat seorang pria termabukkan dan bersedia berbuat apa saja demi terpenuhinya nafsu — itulah yang menjadi akar segala bencana.

 

Sara Samuccaya 431

Seorang perempuan dapat membantu dalam usaha di desa, di kampung halaman; dapat menunjang kehidupan keluarganya dengan berdagang atau berusaha sendiri. Namun dapat juga menjadi “komoditas seks” dan menyebabkan bencana (jika urusan seorang pria hanya menyangkut seks saja), maka hindarilah keadaan yang dapat menyebabkannya.

 

Sara Samuccaya 432

Bencana yang disebabkan oleh kobaran api birahi yang membuat kaum pria mengejar perempuan demi kenikmatan seks saja — adalah melebihi bencana yang disebabkan oleh angin ribut; kematian; kehidupan hina makhluk-makhluk di bawah tanah (seperti cacing dan sebagainya); laut yang terbakar; ujung pisau yang sangat tajam; bisa; patukan atau gigitan ular berbisa; dan api atau kebakaran yang tak terkendali. Lagi-lagi pengertian di sini ialah, nafsu birahi dan memandang seorang perempuan sebagai objek seks itulah yang rnenyebabkan bencana.

 

Sara Samuccaya 433

Sebagaimana jala seorang nelayan menangkap ikan, sangkar seorang pemburu menahan, memenjarakan burung — pun demikian terbawa oleh nafsu birahi, pandangan atau lirikan seorang wanita cantik sudah cukup untuk menggoda seorang pria yang bodoh. Pengertiannya ialah, di bawah pengaruh nafsu birahi, seorang pria atau juga sebaliknya, seorang perempuan bisa mengartikan pandangan biasa sebagai lirikan yang mengundang dan rnembiarkan dirinya terperangkap.

 

Sara Samuccaya 434

Ada kalanya seorang perempuan mengejar seorang pria, bukan karena kemuliaan atau karena ia masih muda dan tampan — tapi semata karena ia seorang pria. Ini adalah peringatan bagi kaum perempuan supaya berhati-hati memilih pasangannya dan tidak terbawa oleh nafsu seks saja.

 

Sara Samuccaya 435

Kendati tidak memaharni maryada atau adat istiadat keluarga sang suami, umumnya seorang istri tetap mengikutinya. Pun, tetap setia pada suaminya. Walau ada juga yang melakukan hal itu karena terpaksa; karena tidak memiliki pilihan lain; karena takut; atau karena tidak mau dipermalukan (dihina) oleh keluarga suaminya. Berdasarkan perspektif kita, hal ini bisa diartikan sebagai ketidakberdayaan seorang perempuan, atau malah kemampuannya untuk beradaptasi. Bagi seorang ilmuwan seperti Darwin, kemampuan untuk beradaptasi itulah yang menentukan kelangsungan hidup dan kehidupan.

 

Sara Samuccaya 436

Sesungguhnya Buddhi atau inteligensia perempuan dapat melebihi inteligensia para Guru Besar seperti Usana, Sukracarya, atau Vrhaspati. Pengertiannya ialah seorang perempuan lebih intuitif. Perbandingan dengan para Guru adalah ibarat kiasan. Dalam tradisi Sindhu, Shintu, Hindu, Hindia, Indies, Indo—hal ini lazim. Seorang anak pun bisa dibandingkan dengan Rama—setampan dan sebijak Rama. Atau, semanis Krsna; sekuat Bhima, dan sebagainya.

 

Sara Samuccaya 437

Sesungguhnya adalah tidak mudah bagi kaum pria untuk memuaskan seorang perempuan. Pengertiannya ialah, libido seorang perempuan memang lebih tinggi, lebih besar dari libido seorang pria. Dan, hal ini sudah diakui, baik secara klinis maupun psikologis. Kamasutra pun memberi pelajaran yang ditujukan kepada seorang pria — supaya lebih peka terhadap kaum perempuan dalam segala hal. Dengan pemahaman ini, jika kita membaca perumpamaan yang diberikan, maka maknanya menjadi sebagaimana api tidak pernah terpuaskan dengan minyak atau bahan bakar, dan malah membara; laut tidak meluber karena sungai-sungai yang bergabung dengannya; Dewa Maut tidak terpuaskan oleh makhluk-makhluk yang telah direnggut nyawanya, karena tugasnya memang menyebabkan kematian bagi setiap makhluk—demikian pula seorang perempuan tidak mudah terpuaskan. Maka hendaknya seorang pria memperhatikan kepuasan pasangannya, dan tidak mementingkan kepuasan dirinya saja. Hendaknya perumpamaan ini tidak dimaknai sebagai penghinaan terhadap kaum perempuan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

 

Hubungan yang benar dengan wanita seharusnya melembutkan kita. Dalam buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama) disampaikan bahwa sesungguhnya hubungan anda dengan seorang wanita, entah dia pasangan anda, ibu anda, saudara anda, kekasih anda atau siapapun dia, merupakan Rakhmat Allah. Lewat hubungan itu, Allah sedang “melembutkan” jiwa anda. Lewat hubungan dengan wanita-wanita disekitar anda, Allah sedang mengguyuri jiwa anda, menyirami jiwa anda dengan Air Kasih. Dengan kelembutan kasih. Allah sedang mengangkat derajat anda. Allah sedang meningkatkan kesadaran anda.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

2 thoughts on “Mabok Birahi Resiko Bencana Mengikuti? Waspadalah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s