Godaan Setan atau Gelora Sifat Bawaan?

Renungan Yoga Sutra Patanjali

Men ogling woman in supermarket

Men ogling woman in supermarket

Ilustrasi Tergoda

Kita sering mengeluh atau mencari pembenaran atas kelemahan diri dengan berdalih, “Sepertinya ada yang mendorong saya, ada kekuatan lain.” Benarkah pemicu nafsu di luar menjadi penyebab dorongan setan kepada kita untuk berbuat jahat?

Pada buku Yoga Sutra Patanjali telah dijelaskan bahwa keinginan-keinginan atau obsesi-obsesi masa lalu atau Vasana, yang belum terpenuhi, telah mewujud sebagai kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan yang ada pada kita saat ini. Dengan memperhatikan “sifat bawaan” dalam diri, maka kita patut dapat mengira bagaimanakah diri kita pada masa lalu.

Benarkah “sifat bawaan” dalam diri merupakan harga mati dan sangat susah mengendalikan “sifat  bawaan” tersebut???

Berikut jawaban Yoga Sutra Patanjali lebih lanjut,

 

………….

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

 “Terkendali/Terbawa oleh berbagai vasanas atau keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi yang belum tercapai, atau tepatnya bergabung dengannya—ia (citta atau benih pikiran dan perasaan melibatkan diri dalam beragam aktivitas bagi yang (terasa sebagai entitas) lain.” Yoga Sutra Patanjali IV.24

Kita sering mengeluh atau mencari pembenaran atas kelemahan diri dengan berdalih, “Sepertinya ada yang mendorong saya, ada kekuatan lain.” Tidak, tidak ada kekuatan lain di luar.

 

CITTA ATAU BENIH PIKIRAN SERTA PERASAAN, yang bergabung dengan  vasanas atau keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi yang belum terpenuhi. Pengertian citta dikendalikan atau didorong adalah karena citta juga mau bergabung. Jika ia tidak mau bergabung, vasana sekuat apa pun tidak dapat memaksanya. ,

Setuju?

Jangan cepat-cepat setuju. Ya, memang demikian. Tapi di permukaan saja. Di balik itu, sesungguhnya, seperti yang telah kita ulas sebelumnya, citta memiliki prabhu, juragan, majikan. Yaitu, Jiwa.

Jadi, Pengendali yang sebenarnya adalah Jiwa. Jika citta dibiarkannya ber-kongsi-an dengan vasana, kemudian menyerahkan badan dan indra untuk bertindak, maka itu pun, jika tidak seizin, minimal sepengetahuan Jiwa.

Dengan membiarkan citta bergabung dengan vasana, kemudian bertindak, sesungguhnya Jiwa sudah merestui tindakan itu.

Berarti, kita tidak perlu menyalahkan siapa-siapa, “Seolah aku kesetanaan dan didorong untuk berbuat maksiat,” atau berbuat apa saja. Perbuatan baik atau buruk, ujung-ujungnya kunci-pengendali ada pada Jiwa.

 

JIKA JIWA MENGHENDAKI, maka seberapa pun vasana atau keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi yang tersisa dari masa lalu, Ia bisa memerintah citta atau benih pikiran dan perasaan untuk tidak bergabung dengannya. Dengan demikian, ia bisa menghalangi terjadinya kongsi atau partnership antara citta dan vasana.

Apa bisa?

Sangat bisa. Bahkan kita sudah sering melakukannya, walau secara tidak sadar. Kita tidak mengikuti nafsu kita sepanjang hari. Kita tidak selalu terbakar oleh bara nafsu. Saat itu, adalah Jiwa yang rnemutuskan agar citta menghindari kerja sama dengan vasana.

Sekarang persoalannya adalah bagaimana memastikan supaya Jiwa tidak pernah terlena, dan citta tidak tergoda untuk melakukan kerja sama dengan vasana. Jawabannya sudah diberikan oleh Patanjali dalam salah satu sutra sebelumnya. Masih ingat? –

Dengan membiarkan citta bertransformasi rnenjadi buddhi—inteligensi. Saat itu, vasana sekuat apa pun tak akan mampu memengaruhinya. Buddhi adalah ibarat bayang-bayang Jiwa. Ia selalu dalam keadaan jaga, ia ibarat Kesadaran Jiwa “saat berbadan”.

Sebab itu, kembangkan buddhi, jadilah seorang Yogi!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s