Renungan Diri: Pengetahuan Membuat Cabang! Senang didekati, Sedih Dihindari! Kasih Tak Bercabang Lagi?

buku narada bhakti sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Yo Vedaanapi Sannyasyati;

Kevalam-Avicchinna-Anuraagam Labhate.

Pengetahuan (dan hasil pengetahuan) pun dilepaskannya, demi kasih yang tak terputuskan. Narada Bhakti Sutra 49

 

Bila istilah Veda diterjemahkan sebagai “kitab suci”, maka “kitab suci dan pengetahuan serta ritus-ritus yang dianjurkan” juga dilepaskannya demi kasih yang tak terputuskan. Demi Cinta yang tak bersyarat dan tak terbatas.

Sutra ini harus diselami dengan kepala dingin. Veda memang identik dengan kitab suci salah satu agama, tetapi selain itu, Veda juga berarti “pengetahuan”. Dan istilah Vedaan berarti “segala sesuatu yang terkait dengan pengetahuan” — of Veda. Saya menerjemahkannya sebagai “hasil pengetahuan”.

Pengetahuan menghasilkan apa? Perilaku, sifat, karakter, watak — semua terkait dengan pengetahuan. Lalu, apa maksud Narada? Semuanya harus dilepaskan demi Cinta yang tak terputuskan?

Dalam sutra ini, istilah yang digunakan untuk cinta adalah Anuraag—sesuatu yang melibatkan rasa terhalus, rasa terdalam. Masih ditambah satu sifat lagi, yaitu Avicchina, tak terputuskan, tidak mengenal pasang surut. Tidak pernah hilang. Selalu ada.

Apakah pengetahuan bertentangan dengan cinta, sehingga salah satu harus dikorbankan?

Cinta bersyarat tidak bertentangan dengan pengetahuan. Kedua-duanya bisa bcrjalan paralel. Aku mencintai dia, karena “kecantikannya”. Atau, karena “penampilannya”, karena “kecerdasannya”, karena “apa saja”. Selama kita mencintai ”karena” sesuatu, pengetahuan tidak menjadi kendala. Bahkan “pengetahuan” bisa membantu. Makin kenal, makin cinta. Itu sebab, adanya ungkapan: Tak kenal maka tak sayang.

Pada saat yang sama, pengetahuan juga bisa menyebabkan perceraian, perpisahan. Makin dekat, makin tahu borok seseorang.

Pengetahuan bisa mendekatkan kita, bisa pula menjauhkan kita. Seperti anggur, bisa memabukkan, bisa mengantar kita ke puncak ekstase, bisa juga menjatuhkan kita ke dalam selokan. “Mabuk Pengetahuan” menciptakan dualitas. Mabuk pengetahuan memisahkan manusia dari manusia.

Aku mencintai Tuhan karena Dia Maha Melindungi. Lalu, bagaimana dengan kecelakan-kecelakan di jalan raya? Sekian banyak orang tewas setiap hari. Apakah mereka tidak beragama? Apakah mereka tidak percaya bahwa Tuhan Maha Melindungi? Koq tidak dilindungi?

Pengetahuan menciptakan syarat, batas, dualitas dan keraguan, kebimbangan. Pcngetahuan membuat manusia bertanya, ”Apa lagi?”

Gunakan pengetahuan untuk bertanya terus, “Apa lagi? What next, what next…..?” Pengetahuan bisa membantu manusia menembus batas-batas ciptaannya. Membantu dia keluar dari “sumur pikiran”, dan mengantarnya ke “lautan luas kesadaran”.

buku narada bhakti resi narada

Ilustrasi Narada dalam Serial TV Mahadeva

 

Berada di tengah lautan itu, Narada sedang meneriaki kita: ”Sudahlah… keluarlah dari kolam-kolam kecil itu. Tinggalkan sumurmu. Bergabunglah denganku di dalam lautan kasih ini.”

Pengetahuan hendaknya membantu kita untuk memahami bahasa Narada, untuk menerima undangannya:

“Pengetahuan (dan hasil pengetahuan) pun dilepaskannya, demi kasih yang tak terputuskan.”

Menerima undangan Narada berarti meninggalkan lorong pikiran yang sempit, dan menghirup udara segar di bawah langit biru kesadaran.

Jangan lupa, undangan ini tidak dimaksudkan bagi katak-katak yang masih senang hidup di dalam kolam. Tidak pula ditujukan kepada tikus-tikus yang sudah terbiasa hidup di dalam selokan kotor.

Narada sedang mengundang mereka yang “berpengetahuan”. Mereka yang tahu persis bahwa hidup di dalam kolam dan selokan bukanlah kodrat manusia. Manusia dilahirkan untuk menggapai ketinggian yang tak terhingga.

Narada mengajak kita untuk menyelami kedalaman kasih, kelembutannya, kehalusannya. Di mana segala macam rasa terlampaui …… Anuraag!

Sekali lagi, Anuraag berarti rasa terdalam, terhalus. Di mana semua rasa menyatu dan lenyaplah segala macam dualitas. Di mana yang dikasihi dan yang mengasihi sudah melebur menjadi satu.

Saat ini, rasa di dalam diri manusia masih bercabang. Ada rasa benci, ada rasa cinta. Ada rasa senang, ada rasa sedih. Ada yang kita dekati, ada yang kita hindari.

Anuraag tidak bercabang. Anuraag melibatkan keseluruhan rasa manusia, sehingga tidak tersisa sedikit pun untuk ”merasakan” sesuatu yang lain.

 

Sah Tarati, Sah Tarati,

Sah Lokaan Taaryati.

Hanya dia, hanya dialah yang mampu rnelampaui kesadaran ilusif. Dan, bersama dirinya, umat manusia pun ikut melampaui kesadaran ilusif. Narada Bhakti Sutra 50

“Manusia Sadar” bagaikan bibit yogurt. Satu sendok teh sudah cukup untuk membuat semangkuk yogurt. Satu orang sudah cukup untuk memancing kesadaran sekelompok manusia.

Itu sebabnya setiap agama menganjurkan doa bersama. Itu sebabnya ada tempat-tempat ibadah. Satu orang sadar bisa membantu sekian banyak orang di sekitarnya, kendati orang sadar itu sendiri tidak akan menganggapnya “bantuan”. Dia tidak merasa membantu siapa-siapa. Dia hanya ”hadir”, dan “kehadiran” Sang Sadar sudah cukup.

Dan siapa pun yang “hadir” bersama dia, siapa saja yang merasakan “kehadiran”-nya, ikut tarsadarkan, ikut merasakan ”KEHADIRAN” yang dirasakan oleh Sang Sadar.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s