Kebenaran Tidak Sama dengan Fakta! Sudahkah Terkait dengan Kebaikan Semua Makhluk?

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

YAMA KETIGA ADALAH SATYA ATAU KEBENARAN — menjadi benar adalah menjadi jujur, menjadi manusia berintegritas. Ya, itu semua dan banyak Iagi.

Menjadi benar tidak sama dengan menjadi penyampai fakta. Jika definisi menjadi benar adalah demikian, maka sebagian besar jurnalis dan wartawan harusnya dianugerahi dan diakui sebagai para pendukung Kebenaran, para penganut Kebenaran.

 

KEBENARAN TIDAK SAMA DENGAN F AKTA. Beberapa fakta mungkin mengandung kebenaran, tidak ada keraguan tentang ini. Tetapi, tidak semua fakta mengandung bahkan setitik pun kebenaran.

Di manakah kebenaran dalam fakta bahwa kita telah berkembang pesat secara teknis dan ilmiah sedemikian rupa, sehingga dapat menghancurkan planet ini berkali-kali?

Di manakah kebenaran dalam berita-berita sensasional yang diwartakan oleh media? Fakta dapat dipelintir sedemikian rupa untuk menciptakan setan kepalsuan yang dibungkus dengan mantel kebenaran.

Menjadi benar itu mudah, konon katanya demikian, namun tidak sesederhana itu juga. Renungkan cerita berikut. Ya, untuk direnungkan dan tidak sekadar dibaca. Apa yang akan kita lakukan dalam keadaan tersebut?

 

SEORANG PENGUASA PENINDAS yang ketakutan terhadap kritik dan para pengkritik, memulai pembunuhan besar-besaran. Para pengkritik dianggap sebagai kriminal. Sehingga kritik apa pun, sebagaimanapun konstruktifnya, bahkan pendapat dan gagasan pun dianggap sebagai kejahatan berat.

“Penguasa Selalu Benar — Melawan Penguasa berarti Melawan Kebenaran itu sendiri” —demikianlah doktrin yang dijunjung tinggi di negara yang diliputi kegelapan tersebut.

Kebanyakan cendekiawan, para bijak ditahan dan dibunuh tanpa ampun karena kejahatan tunggal yaitu menjadi “pemikir”. Kebijaksanaan dan pemikiran adalah barang haram di negara tersebut.

Melihat kondisi dari para koleganya, seorang pemuda melarikan diri dari ibukota dan mencari perlindungan di sebuah komunitas spiritual di dalam hutan yang terpencil.

Ia tidak menyembunyikan identitasnya.

Dengan jujur, ia memperkenalkan dirinya kepada sang Master, para sesepuh, dan warga para penghuni komunitas yang permanen.

Sang Master menyambutnya, “Kau aman di sini. Kau boleh tinggal selama kau mau.”

 

BEBERAPA MURID PEMULA MULAI BERGOSIP, “Kelihatannya ada yang salah dengan kebijaksanaan ini. Kita semua berada di sini untuk berevolusi secara spiritual, bukannya terlibat dalam urusan dunia. Bukankah tindakan memberikan perlindungan ini, menyediakan suaka bagi seorang buronan sama saja dengan melibatkan diri dengan urusan dunia?”

Demikian, hari berganti minggu — rutinitas ashram berjalan seperti biasa, si buronan melibatkan dirinya dengan penuh sernangat dalam semua kegiatan ashram… Sampai suatu hari, mendadak muncul sekelompok aparat militer berseragam….

 

“KAMI MEMILIKI INFORMASI ADA SEORANG PENGKHIANAT YANG BERLINDUNG DALAM KOMUNITAS INI!”

Para aparat tersebut sungguh arogan. Mereka adalah perwakilan yang sempurna bagi penguasa yang arogan. Bisa dlkatakan bahwa mereka mewakili kebenaran penguasa mereka — aparat arogan yang mewakili penguasa arogan. Bisakah kita menyebut kebenaran superfisial, kebenaran semu ini sebagai Kebenaran?

Sang Master menjawab, “Pengkhianat, kata kalian? Tidak, kami tidak memiliki pengkhianat di sini. Semua orang di sini adalah pencari Kebenaran yang melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sepanjang hari untuk belajar dan mencari.”

“Apa anda yakin? Karena, informan kami, tepatnya sumber informasi kami, adalah yang terpercaya.”

“Nah, saya tidak bisa berkomentar tentang itu, maksud saya tentang sumber informasi kalian. Tetapi saya meyakinkan kalian bahwa tidak ada pengkhianat di sini, kami semua di sini adalah sadhaka, pencari kebenaran.”

Para aparat tersebut pergi, karena mereka memang tidak melihat tanda-tanda orang yang mereka cari, walaupun orang tersebut berdiri di depan mereka. Tinggal di ashram selama berminggu-minggu, mengikuti rutinitas ashram sepenuh hati, seluruh dirinya mengalami perubahan dahsyat dan ia mulai terlihat seperti warga ashram lainnya.

 

MALAM ITU SEORANG MURID PEMULA BERKATA, “Master, hari ini kita terselamatkan, terselamatkan berkat kebijaksanaanmu. Terima kasih, Master.”

“Hmmm, kebijaksanaan, nak.

Dengan sangat cerdik, kau menampilkan kecerdikanku, kelicikanku sebagai tindakan bijaksana. Jika kau merujuk pada kejadian tadi pagi, maka ya, aku menjawab pertanyaan tersebut sedemikian rupa  sehingga memuaskan si penanya sekaligus menyelamatkan kita.

“Terhadap pertanyaan apakah ada pengkhianat di antara kita, aku menjawab tidak ada. Dari satu sisi, ini benar. Aku tidak melihat adanya pengkhianat di antara kita. Di sisi lain, aku juga harus mengakui bahwa aku tahu siapa yang ia maksud. Dan untuk menyelamatkannya, menyelamatkan teman kita, aku memilih untuk menjawab dengan cerdik. Seseorang bisa saja mengartikan jawabanku sebagai jawaban yang mengandung kebohongan.”

“Namun, renungkan ini….

“BAGAIMANA BILA SI APARAT MENUNJUKKAN FOTO DARI TEMAN KITA? Seandainya ia memintaku mengenali orang tersebut, apa yang akan saya lakukan?” Sang Master kemudian diam. Ia menunggu jawaban.

Seorang murid pemula mengangkat tangannya dan berbagi pendapatnya, “Maafkan saya Pak. Tetapi dengan demikian, Bapak akan berada dalam keadaan yang dilematis. Keadaan Dharmasankat, keadaan seseorang yang akhirnya harus memilih antara tindakan yang tepat, kebenaran, daripada tindakan yang tidak tepat, kepalsuan.”

Sang Master tersenyum, “Dan apakah kau pikir bahwa aku akan menyerahkan teman kita ini? Apakah kau pikir bahwa aku akan membiarkannya diseret, ditangkap, dan dibunuh?”

Sang murid pemula berpikir sejenak, “Itu akan menjadi peristiwa yang sangat, sangat menyedihkan. Tapi, ya, demi Kebenaran, aku percaya bahwa Bapak tidak akan berbohong.”

 

SANG MASTER TERTAWA TERBAHAK-BAHAK, “Engkau salah, nak. Aku akan berbohong untuk menyelamatkan teman kita yang tidak bersalah ini. Aku akan melakukannya karena aku tahu bahwa orang ini tidak bersalah. Aku juga tahu bahwa ia bukanlah seorang pengecut. Ia berada di sini untuk merenungkan, merenungkan strategi terbaik untuk melawan kejahatan penguasa penindas dan rezimnya.

“Biarlah aku yakinkan kalian semua, aku akan memilih pergi ke neraka dan terbakar di api neraka untuk selamanya demi menyelamatkan orang benar ini.

“Dengan penuh kesadaran, aku akan bersedia menanggung sendiri konsekuensi kebohongan yang terucap olehku, daripada menyerahkan dia.

“Bahkan, seandainya jika mereka menggunakan cara-cara kekerasan untuk menangkap orang yang tidak bersalah ini, aku akan melawan sekuat tenaga. Aku akan menganggap itu sebagai tindakan kebenaran yang harus kulakukan.”

 

JALAN KEBENARAN, SEBAGAIMANA DHARMA ATAU KEBAJIKAN tidak bisa diprediksi. Itu adalah jalan yang dinamis. Definisi, pemahaman, semuanya bisa berubah tergantung keadaan.

Oleh karenanya, mari kita mengingatkan diri sendiri sekali lagi, bahwa menjadi benar bukanlah urusan menyampaikan fakta semata, atau menjadi kaku dengan fakta-fakta yang terlihat, yang mungkin kita salah artikan sebagai kebenaran.

Kita harus selalu memeriksa dan memeriksa ulang:

 

APAKAH KEBENARAN SEBAGAIMANA KITA ARTIKAN, ADALAH UNTUK KEPENTINGAN YANG LAIN JUGA? Ingatlah ayat pertama pembuka dari gubahan ini, sarvaloka-hitarthaya, untuk kesejahteraan, untuk kebaikan semua makhluk.

Tentu saja, kita tidak bisa menyenangkan semua orang.

Kebenaranjuga tidak selalu menyenangkan. Ada beberapa kebenaran yang pahit seperti obat dan harus dibungkus kapsul, harus disampaikan dengan cara tertentu agar bisa diterima, Iagi-lagi demi kebaikan dari si sakit yang membutuhkan obat tersebut.

Dengan kata Iain,

 

BERBICARA ATAU TIDAK BERBICARA TENTANG KEBENARAN — keduanya bisa dianggap sebagai kebenaran, jika niatnya adalah benar.

Terbakar dalam api neraka, dalam pengertian melalui proses pembersihan dalam neraka penyucian dan penyesalan yang tulus dan sungguh-sungguh, dapat dianggap sebagai anugerah dari tindkan-tindakan yang benar — selama niat kita jelas, niat kita benar.

Menahan sakit demi menyelamatkan seseorang yang benar, sebuah misi kebajikan yang bermanfaat bagi banyak orang, haruslah dianggap sebagai berkah dan bukan sebagai pengorbanan. Ketahanan tersebut, kekuatan tersebut adalah anugerah yang merupakan sifat alami dari mereka yang berada pada Jalur Kebenaran.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s