Renungan Diri: Bisakah Seseorang Mengalami Reinkarnasi dan Lahir Kembali Sebagai Hewan?

buku atmabodha

Cover Buku Atma Bodha

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Dari penjelasan Bhagavad Gita 8:19 kita telah mengetahui bahwa: penemuan Darwin adalah sepotong atau sekilas kebenaran. Bahwasanya terjadi evolusi, ya. Tetapi, jika memang demikian, maka dalam kurun waktu 3-4 miliar tahun sejak bumi dianggap layak bagi kehidupan, semestinya cacing dan ikan sudah tidak ada lagi. Bentuk-bentuk awal kehidupan semestinya sudah punah dan berevolusi menjadi manusia. Temyata tidak.

Hingga hari ini pun, bentuk-bentuk awal kehidupan masih ada. Bahkan dinosaurus pun masih ada. Bentuknya saja berubah — cecak! Ya, cecak adalah evolusi dari dinosaurus, yang merasa terdesak oleh manusia, dan “tumbuh menjadi kecil” tinggal di dinding, untuk menyelamatkan dirinya dari serangan manusia.

Jadi, dinosaurus mengalami evolusi dengan menjadi sekian ratus ribu kali lebih kecil. Ini pula menjelaskan berbagai macam virus, kuman, dan sebagainya. Mereka pun, persis seperti dinosaurus, adalah perkembangan — hasil evolusi — dari binatang-binatang yang telah kita bunuh dan gusur!

lebih dari 99% dinosaurus mengambil kemungkinan yang paling gampang — menjadi cecak. Kurang dari 1% saja yang berani mengambil jalur yang tidak populer — menjadi manusia — dengan resiko bahwa sifat-sifat raksasanya masih terbawa juga.

Sebuah pertanyaan: Apakah seorang manusia bisa lahir kembali sebagai hewan?

Berikut Tanya Jawab yang ada pada buku Atma Bodha:

Tanya: Seperti pernah Bapak katakan, bila mind superaktif saat kematian kan dia tertidur, kemudian segar kembali dan bereinkarnasi lagi. Saya masih kurang paham.

Jawab: Begitu “bangun tidur”, dia akan mulai kejar-mengejar lagi. Ini terjadi, karena saat ajal tiba ia masih memiliki segudang obsesi, sekian banyak keinginan, maka dia akan mengulangi kembali apa yang dilakukannya dalam kehidupan sebelumnya. Seperti apa yang kita lakukan setiap hari. Bangun tidur, gosok gigi lagi. Makan pagi lagi. Baca koran lagi. Pergi ke kantor Iagi. Kita mengulangi apa saja yang pernah kita lakukan pada hari sebelumnya.

 

Tanya: Apakah dia bisa tambah “mundur”?

Jawab: Kemungkinan “mundur” bertentangan dengan Hukum Evolusi. Bila dengan kemunduran, yang dimaksud apakah dia akan reinkarnasi sebagai binatang, maka jawabannya, “tidak”. Walau, selalu ada pengecualian, tapi kasus seperti itu jarang terjadi. Biasanya, jiwa berjalan di tempat, mandeg. Dia mengulangi pengalaman yang sama. Itu-itu juga. Sangat dinamis, tampak berlari, padahai berlari di tempat.

 

Tanya: Mestinya, kita tidak tergantung pada mind. Mind harus dijadikan seperti tangan dan organ tubuh lainnya. Pada saat diperlukan saja, kita menggunakannya. Tapi, itu kan kalau sudah berada dipuncak saja, dan baru bisa kita katakan bahwa mind hanyalah salah satu organ tubuh. Jadi, susah sekali mencapai ke sana.

Jawab: Susah, ya. Saya setuju, memang sulit. Tetapi, tidak mustahil. Sesungguhnya, kita sudah cukup sering berada di puncak itu. Hanya saja, frekuensinya perlu ditambah, agar lebih lama lagi berada di puncak, lebih sering mengalami no-mind.

Atma Bodha seolah-olah ditulis Shankara dari atas sana. Dari Puncak Kesadarannya. Tapi, itu tidak berarti bahwa Shankara berada di puncak itu terus-menerus. Berada di bawah, dia pun sering berdoa: “O Tuhan, maafkan kekhilafanku, kesalahanku sepanjang hari…. apa saja yang kulakukan dengan tangan, kaki, telinga, mata, dan badan ini… Maafkan pula ucapanku, pikiranku, dan perasaaanku sepanjang hari. Maafkan, maafkan O Tuhan Maha Pengasih dan Maha Memberkati, maafkan perilakuku di masa lalu. Maafkan perbuatanku di masa depan.”

Para “ahli” menyangsikan kalau doa itu berasal dari Shankara. Mana bisa? Sebaliknya ada pula yang menyangsikan kalau Atma Bodha ini ditulis Shankara. Mereka bingung, apa sebab inkonsistensi Shankara……

Jangankan Shankara, hidup ini pun inkonsisten. Kesadaran kira inkosisten. Kadang di puncak gunung, kadang di kaki gunung. And, that is alright. No problem.

Selama masih berada di dalam dunia ini, naik-turun seperti itu sungguh normal. Silakan “turun” dari gunung. Jangan “jatuh”. Seorang Shankara turun dengan penuh kesadaran. Kita jatuh tanpa kesadaran. Bedanya itu saja.

Shankara harus “turun” dari gunung, demi mereka yang belum bisa memahami “bahasa gunung”. Itu sebabnya, tulisan-tulisan dia dapat dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama dimaksudkan bagi para pendaki gunung dan ditulis dalam “bahasa gunung”. Kelompok kedua ditulis untuk mereka yang hidup di lembah, di kaki gunung. Mereka tidak tertarik untuk mendaki gunung. Maka lewat tulisan-tulisannya, Shankara merayu mereka. Shankara mengajak mereka untuk menggapai ketinggian Himalaya.

Atma Bodha merupakan The Essential Shankara, saripati Shankara. Maka buku ini ditulis dalam “bahasa campuran”. Bahasa gunung dan bahasa lembah. Bahasa puncak Himalaya dan bahasa kaki Himalaya.

buku atma bodha shankara

Ilustrasi Shankara dengan para muridnya

 

Tanya: Dalam keseharian, kita tidak bisa menghindari penggunaan mind. Kita mungkin bisa  menyadarkan diri bahwa yang sedang kita lakukan itu akal-akalan atau apa. Bagaimana kalau kita berpedoman pada kesadaran cinta kasih atau ketulusan?

Jawab: Kesadaran cinta-kasih dan ketulusan itu muncul dari no-mind. Ketika mind berhenti “mengakali”, muncullah ketulusan dan kasih. Memang itu yang harus menjadi pedoman kita.

 

Tanya: Mengenai Shruti, kalau reseptif kita bisa  menerimanya. Apa bisa terjadi, satu orang yang sama kadang reseptif kadang tidak?

Jawab: Bisa saja. Seseorang bisa reseptif setiap hari, belum tentu reseptif sepanjang hari, setiap saat. Itu sebabnya, seorang nabi pun tidak setiap hari memperoleh “pendengaran”, mendapatkan wahyu.

 

Tanya: Lalu bagaimana mempertahankan reseptivitas itu?

Jawab: Reseptivitas yang bisa dipertahankan selama 24 jam sehari sudah bukan reseptivitas lagi. Itu sudah  berarti “menyatu” dengan Sumber Shruti, dengan Keberadaan, dengan Kasunyatan.

Selama 21 hari demikian, dan berakhirlah permainan hidup, berakhirlah peran badan, mind, ego, dan sebagainya dan seterusnya. Kemudian, satu per satu setiap lapisan kesadaran akan terkupas sendiri. Bangunan ego runtuh. Mind gugur. Badan jatuh.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s