Renungan #Yoga Patanjali: Pengetahuan yang Diperoleh dari Keheningan Tidur Tanpa Mimpi

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Dalam buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan uraian tentang keadaan gelombang otak manusia……

Dalam keadaan alpha, gelombang otak manusia menurun, sehingga lingkup perhatiannya menjadi lebih sempit. Berarti ia lebih berfokus pada sesuatu. Keadaan ini terjadi ketika seorang sedang asyik menonton televisi atau menyetir mobil. Dalam keadaan ini, stimuli-stimuli dari luar sudah tidak banyak berpengaruh. Seperti ketika Anda sedang menyetir, awalnya perhatian Anda masih meluas pada apa saja yang ada di luar. Tetapi, tidak lama kemudian perhatian Anda menjadi lebih berfokus pada apa yang ada di depan Anda.

Gelombang Beta dapat diukur, yaitu 13-40 gelombang/detik, sementara Alpha adalah 8-13 gelombang per detik. Semakin berkurang jumlah gelombang, semakin rileks otak kita dan semakin tajam gugusan pikiran kita.

Setelah Beta dan Alpha, ada dua gelombang lain yang dapat dideteksi dengan menggunakan peralatan sains/medis mutakhir:

Theta. Dengan peralatan modern, kita dapat mengukur gelombang ini sebanyak 4-7 gelombang per detik. Biasanya keadaan ini dikaitkan dengan tidur pulas, meditasi, dan pengembangan ESP.

Delta : ½-4 siklus per detik, umumnya dikaitkan dengan keadaan yang amat sangat rileks. Perjalanan astral, pengalaman berada di luar badan (astral projection, out of body experience, dan sebagainya) terjadi dalam keadaan ini.

Jika kita kaitkan dengan meditasi, maka meditasi terjadi dalam keadaan Theta-Delta. Dalam keadaan Theta pun, sesungguhnya, kita baru mengalami rileksasi total. Meditasi terjadi ketika kita mulai meninggalkan keadaan Theta dan memasuki Delta. Para saintis Barat bahkan belum bisa mendeteksi keadaan kelima atau Turiyatita, di mana meditasi mewarnai seluruh keseharian hidup kita.

Untuk memperoleh “Pengetahuan”, berikut praktek melakoni “tidur nyenyak” menurut penjelasan Patanjali :

 

svapna-nidra jnana-alambanam va

“Atau, dengan berpegang pada jnana atau pengetahuan (berdasarkan pengalamam sendiri) yang diperoleh, diraih dari mimpi dan/atau saat tidur.” Yoga Sutra Patanjali I.38

 

Maksud Patanjali bukanlah mimpi dan/atau tidur sembarang. Janganlah menyalah-artikan Patanjali. Freud, Jung, dan para Bapak Psikologi Modern lain pun bicara tentang mimpi dan tidur, tapi tidak pemah menjelajahi wilayah Patanjali. Perhatikan kata-kata Patanjali:

 

“JNANA ATAU PENGETAHUAN (BERDASARKAN PENGALAMAN SENDIRI) YANG DIRAIH, DIPEROLEH DARI MIMPI DAN/ATAU TIDUR —berarti Samadhi, Keseimbangan-Diri, Kesadaran-Diri, atau Pencerahan dapat dicapai berkat “Jnana atau Pengetahuan” yang diperoleh dari mimpi dan/atau tidur. Sekali lagi, “bukan dari mimpi”; “bukan dari tidur”, tapi dari Jnana, dari Pengetahuan yang diperoleh dari mimpi dan/atau tidur.

buku yoga sutra sleeping_buddhah

Ilustrasi Keheningan Tidur

 

Janganlah cepat-cepat berkhayal kalau diri kita sudah cerah karena tadi malam bermimpi melihat bohlam atau botak Iicin si Bola. Tidak. mimpi melihat bohlam atau botak Bola yang berkilau tidak bisa mencerahkan kita. Adakah Jnana, suatu pengetahuan yang kita peroleh dari mimpi kita? Atau, dari keheningan tidur tanpa mimpi?

 

MEDIA MIMPI DAPAT DIGUNAKAN oleh para pemandu yang secara fisik tidak lagi bersama kita; atau setidaknya tidak berada dekat secara fisik, terpisahkan oleh jarak dan waktu.

Dalam hal itu, dalam situasi seperti itu, petuah yang kita peroleh sangat jelas. Kita tidak membutuhkan konsultasi untuk memahami maknanya. Adapun mimpi-mimpi atau pengetahuan yang kita peroleh dari mimpi seperti itu, bersifat sangat personel, pribadi. Bukan untuk dihebohkan. Tidak perlu gembar-gembor.

Tidak perlu menganggap diri sebagai kurir pula. Jika Sang Pemandu ingin memandu orang lain—termasuk anggota keluarga atau kerabat sedekat apa pun—, maka ia akan memandunya langsung, bukan lewat mimpi kita.

Jika ada yang kita ragukan dari pengetahuan yang kita peroleh lewat mimpi, kita dapat mengundang Sang Pemandu kembali lewat mimpi juga. Inilah caranya.

 

SEBELUM TIDUR, BAYANGKAN WAJAH PEMANDU ANDA— bayangkan terus-menerus hingga Anda tertidur. Jadikan latihan membayangkan wajah ini sebagai kegiatan terakhir yang mengantar Anda ke alam tidur. Berarti, sampai Anda tertidur.

Yakinlah bahwa Sang Pemandu akan mendatangi Anda lagi.

Mungkin langsung, mungkin setelah beberapa malam. Jangan putus asa. Awalnya memang butuh waktu, hingga suatu ketika Daya-Cipta Anda menjadi cukup kuat untuk menghadirkan Sang Pemandu setiap saat Anda betul-betul membutuhkannya.

“lni bukanlah suatu permainan.”

Janganlah bermain-main atau sekadar untuk membuktikan sesuatu. Ini bukan untuk pembuktian. Latihan ini mesti dilakukan dengan penuh keyakinan.

Jangan meniru Hola.

 

HOLA MENGANGGAP DIRINYA BERJIWA ILMIAH, LOGIS, “Mana bisa yakin begitu saja? Mana bisa percaya begitu saja. Apa buktinya,Suhu?” ‘ .

Sang Suhu menjawab, “Tunggu sebentar. Aku sedang mengundang Sang Bukti.”

Hola tidak memahami maksudnya. Tapi, ia memutuskan untuk menunggu. Siapa tahu Sang Bukti hadir, pikirnya. Sementara itu, Sang Suhu terlibat percakapan dengan yang lain,

Tiba-tiba….

“Hola, kudengar kau lagi ber-rendezvous dengan Holi!”

“Ah, bukan rendezvous, Suhu. Aku cinta sama dia.”

“Cinta? Bagaimana kau tahu? Apakah kau sudah mencari pembuktian terlebih dahulu bahwa kau cinta sama dia?”

Hola masih tidak memahami maksud Suhu, “Pembuktian? Untuk apa, Suhu? Aku betul-betul cinta sama dia, cinta mati.”

“Cinta mati, kau katakan, Hola?

“Makhluk apa pula itu? Cinta mati itu apa? Ada pernbuktiannya? Masa kamu cinta tanpa mencari bukti dulu, apa benar makhluk bernama cinta itu ada? Apa betul, cintamu cinta mati? Buktikan Hola, buktikan dulu!”

Hola masih tetap angong, tetap tidak paham, “Cinta ya cinta, Suhu. Untuk apa pembuktian segala? Aku tahu aku cinta, cinta betul, cinta mati. Aku tidak butuh bukti.”

 

“TAPI HOLA, SETIDAKNYA SEBELUM MENCINTAI SESEORANG, KAU MESTI MENCARI BUKTI DULU. Apa sih cinta itu? Bukti adanya cinta apa? Bagaimana kau bisa cinta tanpa bukti? Apalagi cinta mati?!”

Saat itu juga Hola tercerahkan!

Bohlam kesadarannya menyalal Tapi tunggu dulu, menyalanya bohlam kesadaran Hola tidak bernrti apa-apa bagi kita. Pertanyaannya. apakah bohlam kesadaran kita sudah menyala?

Setiap orang yang hendak membuktikan adanya cinta, baru mau mencintai, sedang menuju liang kubur tanpa pengalarnan cinta. Hidupnya sia-sia.

Setiap orang yang menganggap dirinya berjiwa saintis, berotak logis, dan ingin membuktikan anjuran-anjuran Patanjali baru mengindahkannya— belum serius untuk menekuni Yoga. Untuk membuktikan rumusan-rumusan Patanjali, tiada cara lain kecuali mempraktikkannya, mempraktikkan rumusan-rumusan itu dalam keseharian hidup kita. Kemudian Jnana atau Pengetahuan yang kita peroleh dari pengalaman sendiri, dari praktik inilah pembuktian. Saat itu, kita, bahkan sudah tidak butuh pembuktian. Kita sudah mengalami keabsahan rumusan-rumusannya. Pembuktian apa lagi?

 

KEMUDIAN TENTANG “JNANA ATAU PENGETAHUAN YANG DIPEROLEH dalam keadaan tidur; dalam keheningan tidur tanpa mimpi…. ”

buku yoga sutra patanjali Jesus-sleeping-in-boat-at-peace-in-storm

Ilustrasi Keheningan Tidur

 

Jnana atau pengetahuan tidak tergantung pada kata-kata. Alam mimpi masih penuh kata-kata. Jnana atau pengetahuan dapat diperoleh dari alam tidur pulas tanpa kata-kata, dari alam keheningan yang tak tercemar oleh kata-kata.

Tidur pulas tanpa mimpi (bukan tanpa ingatan tentang mimpi—bukan karena lupa apa yang terlihat dalam mimpi) menunjukkan keadaan citta yang relatif tenang, tidak bergejolak menciptakan havoc atau kekacauan tak terkendali.

Dalam hal ini, menyangkut keadaan citta ini adalah sangat penting untuk kita pahami bahwa:

 

SAAT INDRA BERINTERAKSI DENGAN DUNIA LUAR, CITTA ATAU BENIH-BENIH PIKIRAN DAN PERASAAN bisa saja menunjukkan sedikit kegiatan. Karena pengalaman-pengalaman masa lalu yang meninggalkan kesan—pengalaman-pengalaman yang berkesan—maka citta bisa sedikit terangsang.

Contoh, terkondisi bahwa penganut kepercayaan A adalah pelaku kekerasan, maka setiap melihat seorang peganut kepercayaan A, cittab isa bereaksi sedikit. Namun seseorang yang sudah mampu mengendalikan citta, tak akan membiarkan “kesan” atau reaksi ringan itu bertumbuh menjadi pikiran dan perasaan negatif, apalagi ucapan atau tuduhan negatif. Buddhi atau Inteligensi akan mengintervensi langsung, “Kekerasan adalah sifat perorangan. Berdasarkan pengalaman dan kesan pada masa lalu, tidak bisa mengambil sikap ‘pukul rata’ bahwa setiap penganut kepercayaan A adalah pelaku kekerasan.”

 

SESEORANG YANG TIDURNYA NYENYAK. Ah, mesti dijelaskan hasil atau akibat tidur nyenyak sehingga kita tidak menyalahartikan “bermalas-malasan di atas ranjang sepanjang hari” sebagai tidur nyenyak. Sehingga kita tidak menyalahtafsirkan kemalasan diri sebagai ketenangan diri.

Jika semalam kita tidur nyenyak, pagi ini kita bangun dalam keadaan fresh, gresss…alias segar. Dan di atas segalanya tegar, penuh semangat, dinamis, dan siap menghadapi pekerjaan serta tantangan sepanjang hari.

Seseorang yang bisa tidur nyenyak selama 21 menit saja dalam “masa tidur” rata-rata 6-7 jam setiap malam, sudah bisa bekerja keras dan cerdas—efisien, produktif, dan kreatif—selama minimal 10 jam. Jika tidur kita nyenyak selama 27 menit saja, kita bisa bekerja tanpa merasa lelah selama 12-14 jam.

Para Yogi bisa bekerja secara kreatif selama 18-21 jam setiap hari dengan masa tidur rata-rata 4 jam, tetapi tidur berkualitas. Kualitas tidur yang dimaksud adalah tidur nyenyak selama 27-36 menit setiap malam, atau dalam masa tidur 3-4 jam setiap hari.

 

RENUNGKAN MAKSUD PATANJALI. “Jika belum bisa melakukan berbagai latihan sebelumnya; bahkan jika belum bisa ‘membaca’ mimpi sekalipun, maka upayakanlah tidur nyenyak setiap malam. Minimal 21 menit tidur berkualitas dalam masa tidur 6-7 jam, maka dengan cara itu pun kau dapat mencapai Samadhi, Keseimbangan-Diiri, Kesadaran-Diri, Pencerahan!”

Nah, untuk mencapai itu, latihan-latihan di bagian akhir buku ini dapat membantu, akan membantu. Latihan-latihan Pemberdayaan Diri atau Neo Self-Empowerment bersifat cleansing, pembersihan. Dengan membersihkan diri dari segala kekacauan pikiran, gejolak emosi, dan sebagainya, kualitas tidur kita pasti meningkat.

Dan, hasilnya…Samadhi!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s