Renungan #Gita: Moksa Bukan Harapan, Tapi Tujuan! Harapan bisa Mengecewakan, Tujuan Tidak!

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit. Om, Peace, Peace, Peace

Kita sering berharap agar kita menjadi orang bijak yang tidak pernah salah melangkah, dan pada suatu saat harapan tersebut meleset dan kita kecewa. Jangan terpaku pada harapan, tetaplah menjadi manusia yang bertujuan mencapai kebebasan sempurna. Apa pun yang kita hadapi, sesuai harapan atau tidak, kita biasa saja, kita tetap punya tujuan jelas mencapai kebebasan mutlak. Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita di bawah ini:

 

tad ity anabhisandhaya phalam yajna-tapah-kriyah

dina-kriyas ca vividhah kriyante moksa-kanksibhih

“Dengan pemahaman bila semua ini adalah milik-Nya, milik Dia — Tad — para panembah yang bijak menghaturkan persembahan, berderma, dan bertapa-brata tanpa mengharapkan imbalan materi, dan semata untuk kebebasan mutlak (Moksa).” Bhagavad Gita 17:25

 

Barangkali kita bertanya apakah moksa atau kebebasan mutlak bukanlah suatu harapan? Bukan.

 

MOKSA BUKANLAH HARAPAN, TAPI TUJUAN. Sebagai contoh; Seandainya kita sedang bepergian ke suatu tempat, katakan Amerika—maka “tujuan kita adalah Amerika”. Amerika bukanlah harapan kita, tapi tujuan. Bacalah ulang paragraf ini, “Jika kita sedang bepergian” — berarti kita sudah menentukan tujuan kita, bahkan sudah dalam perjalanan.

Saat ini, Anda, saya, kita semua sudah berada dalam hidup ini, sudah dan sedang menjalani hidup ini—kita tidak mengharapkan kehidupan, wong sudah hidup!

Harapan adalah ketika saya mengharapkan Amerika sebagai Negara Impian saya. Nah, urusan apa Amerika mesti memenuhi impian saya? Arnerika tidak berjanji untuk memenuhinya. Mimpi saya, impian saya adalah murni harapan saya. Saya berharap rnenjadi bintang Hollywood, sampai di sana menjadi pencuci piring di restoran. Kita kecewa—kenapa? Karena kita berharap dan harapan itu tidak terwujud.

buku bhagavad Journey-to-the-West

Ilustrasi tetap berjalan menuju tujuan walau menghadapi segala rintangan

 

Moksa, kebebasan mutlak, adalah tujuan hidup—maksud kehidupan. Bukan kebebasan mutlak bagi Jiwa setelah kematian raga; tetapi, kebebasan untuk berkarya, untuk bersuara, untuk berpikir selagi masih hidup. Ini adalah maksud kehidupan.

Jika kita memahami maksud dan tujuan hidup ini,

 

MAKA KITA TIDAK AKAN BERHARAP YANG BUKAN-BUKAN, sehingga terhindar dari kekecewaan, keputusasaan, kegelisahan, dan sebagainya.

Menghaturkan persembahan, berderma, bertapa-brata—semuanya semata karena setiap kegiatan tersebut membebaskan diri kita dari kesadaran rendah dan mengantar kita pada kesadaran tinggi — mendekatkan kita dengan tujuan hidup. Jika ini yang menjadi semangat kita, maka hidup menjadi indah.

Sebaliknya, jika kita mengharapkan imbalan; apalagi imbalan-imbalan jangka pendek—termasuk kapling di surga pun adalah tujuan jangka pendek — maka bersiap-siaplah untuk kecewa, putus asa, dan menderita sakit hati. Tidak setiap harapan terpenuhi. Sekalipun semua harapan terpenuhi, tidak ada jaminan kita pasti bahagia.

 

KEBEBASAN ADALAH KEBAHAGIAAN UTAMA – Jiwa bebas adanya, ketika dalam ketidaksadarannya, ia membelenggu dirinya, ia sendiri menjadi gelisah. Sebab itu, berfokuslah selalu pada maksud tujuan hidup — Kebebasan Mutlak.

Janganlah membiarkan harapan-harapan picisan yang tidak berarti, membuat kita keluar dari rel kehidupan. Do not detract! Beradalah pada rel kehidupan, tujuan sudah di depan mata!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

One thought on “Renungan #Gita: Moksa Bukan Harapan, Tapi Tujuan! Harapan bisa Mengecewakan, Tujuan Tidak!

  1. Reblogged this on Ni Made Adnyani and commented:
    Kita sering berharap agar kita menjadi orang bijak yang tidak pernah salah melangkah, dan pada suatu saat harapan tersebut meleset dan kita kecewa. Jangan terpaku pada harapan, tetaplah menjadi manusia yang bertujuan mencapai kebebasan mutlak. Apa pun yang kita hadapi, sesuai harapan atau tidak, kita biasa saja, kita tetap punya tujuan jelas mencapai kebebasan sempurna. Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita di bawah ini:
    ……….
    MOKSA BUKANLAH HARAPAN, TAPI TUJUAN. Sebagai contoh; Seandainya kita sedang bepergian ke suatu tempat, katakan Amerika—maka “tujuan kita adalah Amerika”. Amerika bukanlah harapan kita, tapi tujuan. Bacalah ulang paragraf ini, “Jika kita sedang bepergian” — berarti kita sudah menentukan tujuan kita, bahkan sudah dalam perjalanan.
    Saat ini, Anda, saya, kita semua sudah berada dalam hidup ini, sudah dan sedang menjalani hidup ini—kita tidak mengharapkan kehidupan, wong sudah hidup!
    Harapan adalah ketika saya mengharapkan Amerika sebagai Negara Impian saya. Nah, urusan apa Amerika mesti memenuhi impian saya? Arnerika tidak berjanji untuk memenuhinya. Mimpi saya, impian saya adalah murni harapan saya. Saya berharap rnenjadi bintang Hollywood, sampai di sana menjadi pencuci piring di restoran. Kita kecewa—kenapa? Karena kita berharap dan harapan itu tidak terwujud.
    Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)
    ……………..
    Menghaturkan persembahan, berderma, bertapa-brata—semuanya semata karena setiap kegiatan tersebut membebaskan diri kita dari kesadaran rendah dan mengantar kita pada kesadaran tinggi — mendekatkan kita dengan tujuan hidup?
    Jika ini yang menjadi semangat kita, maka hidup menjadi indah?
    Sebaliknya, jika kita mengharapkan imbalan; apalagi imbalan-imbalan jangka pendek—termasuk kapling di surga pun adalah tujuan jangka pendek — maka bersiap-siaplah untuk kecewa, putus asa, dan menderita sakit hati?
    Tidak setiap harapan terpenuhi?
    Sekalipun semua harapan terpenuhi, tidak ada jaminan kita pasti bahagia?
    Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita pada Tautan di bawah ini:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s