Renungan #Gita: Jadikan Hidup Sebagai Persembahan! Teladanilah Alam!

Alam semesta telah menghaturkan dirinya, telah mempersembahkan segala yang dimilikinya, untuk menunjang kehidupan kita.

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit. Om, Peace, Peace, Peace

 

tasmad om ity udahrtya yajna-dana-tapa1_1-kriyah

pravartante vidhanoktah satatam brahma-vadinam

“Sebab itu, mereka yang berupaya untuk mencapai Brahman, Jiwa Agung Hyang tertinggi, selalu memulai segala laku spiritual – menghaturkan persembahan, berderma, dan bertapa sesuai dengan anjuran Veda – dengan pengucapan Om.” Bhagavad Gita 17:24

 

Alam semesta telah menghaturkan dirinya, telah mempersembahkan segala yang dimilikinya,untuk menunjang kehidupan kita. Adakah yang kita pelajari dari semangatnya itu? Adakah hikmah yang kita petik dari ketulusan alam yang senantiasa memberi tanpa pamrih?

 

MENGHATURKAN PERSEMBAHAN DIALTAR, di mezbah, di padmasana atau pelangkiran, di tempat ibadah, di pura, di mana saja — adalah simbolik. Semua itu hanyalah untuk mengingatkan kita bahwa hidup ini sebuah persembahan dan laku-hidup yang baik adalah ketika kita pun mempersembahkan dan berbagi apa yang kita miliki.

buku bhagavad kebutuhan manusia dipenuhi alam

 

Ilustrasi semua kebutuhan manusia dipenuhi/berasal dari alam sumber google artikelsiana

 

Berderma adalah melayani sesama dengan penuh ketulusan dan tanpa mengharapkan imbalan. Belajarlah dari Bunda Alam. Ia senantiasa memberi tanpa mengharapkan suatu imbalan. Ia memberi walau kita sering merusaknya, menginjak-injaknya, menganiaya, dan bahkan memerkosanya. Belajarlah!

Berderma juga berarti kita memberi tanpa membedakan warna kulit, suku, bangsa, bahasa dan kepercayaan si penerimanya. Ini penting.

 

PERSOALAN UTAMA YANG KITA HADAPI hingga hari ini, adalah “rasisme”. Kita boleh membela diri dan mengatakan apa saja, boleh menolak tuduhan itu, tapi bertanyalah kepada seseorang dari “kelompok minoritas” yang “jujur” dan mau berkata sebenarnya; seseorang yang “tidak takut” mengungkapkan suara hatinya — ya, ia adalah korban rasisme, korban diskriminasi.

Bertanyalah kepada mereka yang tidak menganut salah satu kepercayaan populer — ia mengalami diskriminasi.

Bertanyalah kepada seorang pejabat berkepercayaan beda di antara mereka yang berkepercayaan lain yang merupakan mayoritas — diskriminasi masih terjadi.

Berderma dengan semangat diskriminatif bukan dharma, bukanlah perbuatan yang bijak. Belajarlah dari para petapa Buddhis di Srilanka yang selalu menghibahkan, mendonasikan retina mereka untuk siapa saja yang membutuhkan. Bahkan mereka pun tidak tahu siapa penerima “sumbangan” mereka. Mereka sudah meninggal. Hingga kini warga Srilanka masih tetap menjadi penyumbang retina terbesar di seluruh dunia.

Mereka — warga Srilanka yang menyumbang retina atau mendonasikan organ tubuh lainnya

— bukanlah manusia-manusia aneh dari luar angkasa. Mereka pun sama seperti kita. Jika mereka bisa melakukan, kenapa kita tidak bisa melakukan? Mereka tidak pernah menentukan umat kepercayaan mana saja yang berhak menerima retina mereka — tidak. Bisakah kita mengikuti jejak mulia mereka?

 

TERAKHIR ADALAH TAPA-BRATA – Laku spiritual. Bertapa tidak berarti melarikan diri ke hutan dan menyepi di sana. Bertapa berarti kesiapsediaan untuk menderita demi kemuliaan, demi kebajikan. Bertapa berarti kesiapsediaan untuk mengorbankan kenyamanan tubuh dan kenikmatan indra demi sesuatu yang lebih mulia dan berharga, lebih penting bagi masyarakat.

Bertapa berarti meletakkan kepentingan umum di atas kepentingan diri yang sempit. Bertapa berarti mengorbankan kesempitan demi keluasan. Bertapa berarti melakoni hidup dengan asas kebersamaan.

 

BRATA DALAM TAPA-BRATA, BERASAL DARI “VRATA” – Biasa diterjemahkan sebagai puasa. Ya, puasa — tapi bukan puasa makan saja. Brata adalah puasa “segala sesuatu yang tidak menunjang Kesadaran Jiwa”. Brata berarti “disiplin diri”. Brata berarti komitmen kepada diri sendiri untuk menjaga diri. Brata adalah pedoman hidup berkesadaran yang berlandaskan disiplin diri, tidak berlandaskan dogma, doktrin, atau kredo.

Demikianlah laku mulia mereka yang bersifat mulia.

Diatas segalanya semua laku ini dimulai dengan iringan “Om” – Om Tat Sad, demikianlah adanya, demikianlah laku kehidupan yang baik, demikianlah adanya kebenaran.

Jadi, bukan melakoni semua itu demi “kapling di surga” atau pahala di langit sana – tapi demi kebaikan dan kemuliaan itu sendiri. Melakoni kebaikan baik adanya — Om Tat Sad, demikianlah adanya!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s