Renungan Diri: Ahimsa, Mencegah Kesalahan Ucapan atau Tindakan Kekerasan Sebelum Dilakukan

Membenahi lapisan mental/emosional dalam melakoni Ahimsa lewat praktek “mind culturing” dari Latihan Stress Management

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

||Vrati Sasana 3 ||

 

ahiṁsā brahmacaryaṅca satyamavyāvahārikam

astainyamiti paṅcaite yamā rudreṇa bhāṣitāḥ

 

 

Ahiṁsā atau Tanpa-Kekerasan; Brahmacarya atau Pengendalian Hasrat Seksual

agar energi yang tersimpan dapat digunakan untuk kegiatan yang lebih kreatif;

Satya atau Kebenaran; Avyāvahārika – Non-Materialisme atau tidak menjadi orang yang materialistis;

dan Asteya – Tidak Mencuri atau merampas hak orang lain –

inilah Lima Yama, Lima Disiplin yang dikumandangkan oleh Rudra,

Śiva, Hyang Maha Membahagiakan, Maha Cemerlang Bersuara Lantang.”

 

AHIMSA, YANG UMUMNYA DITERIEMAHKAN SEBAGAI “NON-KEKERASAN”, mungkin adalah salah satu Yama yang paling universal, yang juga paling sering disalahartikan.

Ahimsa bukanlah sekadar urusan menjadi vegetarian dan mengubah diet. Ahimsa adalah program komplit untuk Mempraktekkan Non-Kekerasan, atau Tidak Mencelakakan dalam segala hal. Termasuk tidak memikirkan pikiran-pikiran penuh kekerasan, atau setidaknya tidak melayani pikiran-pikiran tersebut, sehingga reda dengan sendirinya.

Ahimsa juga berarti menjaga emosi dan ucapan kita. Tindak kekerasan apa pun selalu bermula dari dengan sebuah pikiran kekerasan, sebuah emosi kekerasan. Dari itu, muncullah kata-kata keras atau kasar, termasuk kata-kata penuh kebencian, gosip, dan lain sebagainya. Sebuah tindak kekerasan biasanya muncul setelahnya, setelah ucapan keras dan kasar.

Oleh karenanya, bagi seseorang yang ingin mempraktekkan disiplin Ahimsa ini, adalah penting untuk membenahi dulu lapisan mental dan emosional.

 

APA YANG KITA LAKUKAN KETIKA SEBUAH PIKIRAN ATAU EMOSI KEKERASAN MUNCUL? Kita bisa “mencoba” untuk melupakan, dengan menyapunya ke bawah “karpet kesadaran”. Ini bisa menjadi first-aid, tindakan pertolongan pertama, tapi bukan solusi kesembuhan. Pikiran-pikiran dan emosi-emosi yang disapu ke bawah “karpet kesadaran” masih ada di sana, siap muncul kembali kapan saja.

Lebih baik melihat, menjadi saksi, dan bahkan mengakui adanya pikiran-pikiran dan emosi-emosi tersebut. Ini sesungguhnya adalah situasi yang tricky, pelik, yang harus dipahami betul untuk mengatasinya.

“Perhatikan pikiran-pikiran dan emosi-emosi kekerasan di dalam dirimu tanpa melayani mereka,” demikian nasihat Guru saya suatu kali.

Butuh waktu bagi saya untuk memahami dengan tepat apa maksud sang Master. Tetapi, begitu saya memahaminya, langkah berikutnya menjadi sangat mudah.

Memperhatikan sebuah pikiran dan/atau emosi tanpa melayani mereka adalah “memperhatikan tanpa berkomentar apa pun”. Banyak yang menyebutnya sebagai “tidak menghakimi”. Saya mencoba menghindari istilah tersebut karena “tidak menghakimmi” sering, bahkan sangat sering disalahartikan sebagai tidak memilah . Pengertian semacam itu jelas keliru, tldak tepat.

Untuk menjadi seorang saksi, seseorang masih harus menggunakan buddhi, seseorang harus cukup inteligen untuk memahami, memutuskan, dan memilih menjadi seorang saksi, dan tidak terikat dengan pertunjukan tersebut.

 

JADI, PERHATIKAN TANPA BERKOMENTAR! Sebagaimana saat kita menonton sebuah pertunjukan atau film, kita sering bertemu dengan orang-orang yang sangat ribut yang terus saja mengomentari setiap adegan, sehingga sangat mengganggu penonton lain. Orang-orang seperti itu haruslah ditolerir, apalagi jika mereka merupakan anggota masyarakat yang dianggap terpandang, di mana kentut mereka pun ditolerir.

Ketika menonton sebuah pertunjukan, seorang bijak akan berusaha memahami apa makna dari pertunjukan tersebut. Karenanya, mereka menjadi atentif dan penuh perhatian. Mereka tidak berkomentar. Mereka tidak ribut. Sesungguhnya, dengan menjadi atentif, penuh perhatian, dengan menjadi seorang saksi, kita tidak bisa menjadi ribut.

11377129_10206945834555203_2481845409346146220_n

Latihan Meditasi Bersama

 

BEGITU KITA MENJADI AHLI DALAM MEMPERHATIKAN pikiran-pikiran dan emosi-emosi kita; begitu kita menjadi lebih atentif pada semua pikiran dan emosi tersebut — kita menyadari bahwa sebagian besar plklran, emosi, terutama yang penuh kekerasan dan mencelakakan, sesungguhnya tidak berguna. Sebelum mencelakakan orang lain, pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan atau emosi-emosi tersebut sesungguhnya terlebih dulu mencelakakan diri kita.

Langkah berikutnya yaitu, melepaskan atau terlepasnya pikiran-pikiran dan perasaan tersebut secara otomatis, dengan sendirinya.

Bahkan, nyaris tanpa upaya apa pun, kita tidak perlu memaksa diri untuk rnenyingkirkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan tersebut.

 

SAYA MENGIKUTI NASIHAT MASTER SAYA dan terbukti sangat benar dan mudah — sahaja, tanpa upaya keras. Ketika kita mulai melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, ketika fakultas pemilahan dalam diri kita, buddhi kita sudah cukup berkembang — tindakan kita terkoreksi dengan sendirinya.

Sebuah peringatan di sini…..

Untuk langsung mempraktekkan Tanpa-Kekerasan atau Ahimsa pada tataran Ucapan dan Tindakan, bisa jadi sangat melelahkan. Terlebih lagi, kita seringkali hanya menyadari kekerasan yang kita lakukan setelah terlanjur mengucapkan kata-kata penuh kebencian dan melakukan kekerasan. Kita hanya menyadari kesalahan kita, setelah kerusakan terjadi dan rnenjadi sangat sulit untuk mengembalikan keadaan seperti semula, bahkan untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Bukan tidak mungkin, tetapi sulit, sangat sulit.

 

KERUSAKAN YANG TELAH TERJADI PADA TATARAN UCAPAN DAN TINDAKAN hanya dapat diatasi—tidak benar-benar kembali ke keadaan semula, karena kerusakan telah terjadi — dengan penyesalan tulus dan permohonan maaf kepada mereka yang telah kita celakai.

Setelah melakukan itu pun, kita hanya dapat, paling banter, mencoba membatasi kerusakannya. Jadi, sangatlah penting bahwa kita tidak sampai melakukan kekerasan lewat ucapan dan tindakan. Hentikan pada tahap mental/emosional.

Faktor lain yang tidak kalah penting dari Ahimsa, seperti sering diingatkan oleh Mahatma Gandhi, adalah Ahimsa tidak sama dengan kepengecutan. Jangan biarkan seorang pun menyamarkan kepengecutan dirinya sebagai Ahimsa. Jangan membodohi diri kita dengan menyembunyikan kepengecutan kita di bawah mantel Ahimsa.

AHIMSA ADALAH KARAKTERISTIK DARI PARA PEMBERANI DAN KUAT — ya, para pemberani dan kuat. Ada orang-orang yang berani, bahkan nekat, tetapi tidak cukup kuat. Mereka kalah. Ada pula orang-orang kuat, berotot, tetapi pengecut — mereka pun gagal.

Untuk bisa sukses, untuk menjadi pemenang dalam permainan Ahimsa; untuk menjadi teladan Ahimsa, seseorang haruslah berani sekaligus kuat, mampu menyerang balik, mampu membalas, tetapi memilih untuk merespons segala tindak kekerasan dengan cara non-kekerasan.

 

AHIMSA BUKANLAH TIDAK-BERTINDAK. Ahimsa tidak sama dengan tidak-menanggapi. Ahimsa adalah menanggapi dengan bijak, bukan membalas secara reaktif dan tendensius, tetapi menanggapi segala tantangan dan situasi.

Janganlah Ahimsa disalahartikan sebagai menahan diri dari menggunakan pembasmi hama, atau membiarkan virus dan bakteri berpesta dalam tubuh Anda. Ini adalah pemahaman yang sangat rendah tentang Ahimsa; pemahaman doktrinatis, dogmatis, harfiah, yang bisa jadi malah kontraproduktif.

Dengan menahan diri untuk menggunakan pembasmi hama dan membiarkan nyamuk penyebar demam berdarah menyebabkan kekacauan — kita bisa menyebut diri sebagai pembela Ahimsa bagi para nyamuk dan serangga, tetapi bagaimana dengan tubuh kita sendiri? Bagaimana dengan kesehatan keluarga kita? Bagaimana dengan tetangga-tetangga kita?

Dengan kata lain, ketika pembasmi hama adalah satu-satunya pilihan bijak yang tersedia, maka menahan diri untuk tidak menggunakannya, malah justru adalah tindakan himsa atau kekerasan, bukan tindakan Ahimsa atau tanpa-kekerasan.

 

MARILAH KITA MENGINGAT PENTINGNYA AYAT TERDAHULU, Ayat Kedua — ini adalah jalan para Pandit, para bijak berpengetahuan sejati.

Ahimsa bukan sekadar kata, tetapi adalah gaya hidup. Ahimsa adalah gaya hidup tanpa-kekerasan. Oleh karenanya, kita harus cukup bijak untuk memahami nilai-nilai intinya; bukan makna harfiahnya semata.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s