Renungan Diri: Surga Tidak Kita Inginkan? Jujur! Yang Kita Dambakan Kenikmatan Surgawi?

Kalau di Surga tak ada kenikmatan surgawi, kita tidak mau ke sana.

buku narada bhakti sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

Yah Karma-Phalam Tyajati, Karmaani Sannyasyati, Tato Nirdvandvo Bhavati.

Dengan “mengorbankan” hasil perbuatan dan membebaskan diri dari “rasa” berbuat seseorang terbebaskan dari dualitas suka dan duka. Narada Bhakti Sutra 48

Pengorbanan ala Narada tidak menjatuhkan “korban”. Di zaman itu, para pendeta masih menyarankan pengorbanan hewan. Binatang-binatang tak bersalah disembelih untuk memperingati ini dan dengan tujuan itu. Tak masuk akal, tetapi ya begitulah manusia, selalu mencari jalan gampang. Belum siap mengorbankan kehewanian di dalam diri, hewan tak bersalah disembelih.

Narada menyarankan “pengorbanan” hasil perbuatan. Berbuat baik, beramal-saleh, berdana-punia… dan mengorbankan “pahala” yang diperoleh dari perbuatan-perbuatan itu.

Lain dengan berbuat tanpa pamrih. Berbuat tanpa pamrih berarti tidak mengharapkan hasil dari perbuatan, tetapi kalau memperoleh, ya tidak menolak.

Narada menolak hasil. Hasil pun diserahkannya kepada Dia. Seorang Narada bekerja tanpa gaji. Bukan sekadar “tidak mengharapkan”. Diberi pun, dia tolak.

Anda bisa menggaji seorang pekerja. Bagaimana menggaji seorang pencinta? Dia harus dibayar dengan mata uang apa? Bagaimana pula menilai Kasih?

Dalam tradisi India kuno dikenal upacara Havan, Yagya atau Agnihotra — upacara pembersihan lingkungan. Manfaatnya tentu saja terarah pada manusia dan ternak peliharaannya. Mereka membakar rempah-rempah, biji-bijian dan sebagainya. Dan mereka sadar betul bahwa semua itu bukanlah “dari” mereka. Itu sebab saat membakar atau dalam bahasa halus “mempersembahkannya” kepada Agni atau Api, mereka mengulangi terus menerus, “Yang mempersembahkan ini, bukan aku — bukan aku.”

Demikian, sedikit demi sedikit mereka mengikis ego, mengikis keangkuhan, mengikis mind. Mereka sadar bahwa sebaik-baiknya “perbuatan” tidak bisa membebaskan mereka dari lingkaran kelahiran dan kematian.

buku narada bhakti agnihotra

Agnihotra membersihkan lingkungan dengan mempersembahkan biji-bijian dan rempah-rempah kepada alam yang telah memenuhi kebutuhan hidup kita. Membakar keangkuhan dan keegoan kita.

 

Untuk menikmati hasil perbuatan baik pun, manusia harus lahir kembali. Entah di dunia, entah di Svarga atau Surga, kelahiran dan kematian tidak bisa dihindari dengan “berbuat baik”.

Lingkaran ini hanya terputuskan bila seseorang menolak “dibayar”. Kenikmatan Surga pun ditolaknya.

Janganlah anda mencocok-cocokkan pandangan Narada dengan pandangan-pandangan lain. Bila kita masih ingin menikmati Surga, ya tak apa. Berarti buku ini bukan untuk kita. Narada tidak berbicara dengan kita. Narada sedang berbicara dengan para pencinta Allah, dengan mereka yang sudah tidak tergiur oleh kenikmatan surgawi.

Seorang raja memiliki sekian banyak anak dari istri-istri sah dan sejumlah selir. Banyak di antaranya lahir pada hari yang sama. Jam yang sama pula. Sang raja tidak habis berpikir, kelak siapa yang akan menggantikannya. Bila salah pilih, rakyat menderita. Menyinggung perasaan mereka yang tak terpilih, bisa terjadi kudeta. Apa yang harus dia lakukan?

Seorang bijak menasihati dia, “Kirimkan mereka ke kota terjauh dalam kerajaanmu. Beri mereka tugas yang sama beratnya. Dan suruh mereka kembali ke ibukota secepatnya.”

“Lalu?”

“Lakukan dulu — siapa cepat, dia dapat.”

Sang Raja mengikuti petunjuknya. Para putra pun dikirimkan ke kota terjauh dalam wilayah kekuasaannya. Tugas masing-masing dijelaskan sccara rinci. Dengan catatan, “Pulanglah segera seusai tugas.”

Tugas sih selesai, tetapi para putra lupa pulang. Asyik dijamu para petinggi dan pembesar kota itu, pesan terakhir sang ayah terlupakan.

Hanya satu…. dari sekian banyak putra raja, hanya satu yang tidak lupa. Dia mengajak saudara-saudaranya, “Kita harus segera pulang.”

“Kenapa segera? Ini kan wilayah kita juga. Rumah kita juga.”

“Kalian lupa pesan ayah? Kita disuruh segera pulang….”

“Ya, ya, kita akan pulang. Tapi, sebentar lagilah……”

Yang masih ingat pesan ayah berusaha untuk membujuk mereka, “Jamuan dan pesta semacam ini ada juga di rumah Bapa sana. Kenapa membuang waktu di sini?”

“Buang waktu?” mereka balik bertanya, “Kamu masih terjebak dalam dualitas. Apa bedanya tempat ini dari tempat itu? Itu kepunyaan ayah, ini pun punya dia!”

Yang “masih ingat” terpaksa menyerah. Seorang diri, dia berjalan pulang menuju “Rumah Bapa”.

Banyak yang diberi tugas. Banyak pula yang menyelesaikan tugas dengan baik. Tetapi, berapa di antara kita yang berjalan pulang menuju rumah-Nya? Kira terjebak dalam permainan dunia. Kita tergiur dengan Surga dan kenikmatan surgawi. Kita lupa pulang. Ditegur, malah mencari pembenaran: “Bukankah Surga dan kenikmatan surgawi pun kepunyaan Dia? Apa salah kalau aku menikmati pemberian-Nya?”

Tidak, salah sih tidak. Hanya sayang saja. Demi kenikmatan yang dianggap abadi itu, kita lupa “Keabadian”. Kita melupakan Yang Maha Abadi Ada-Nya.

Bertanyalah kepada diri sendiri, “Yang enggan kulepaskan itu apa? Surga atau kenikmatan surgawi?”

Sesungguhnya Surga pun tidak kita kehendaki. Yang kita inginkan adalah “kenikmatan” surgawi. Besok-besok bila ada peraturan baru meniadakan “kenikmatan” di Surga, mungkin kita memilih Neraka.

“Dengan ‘mengorbankan’ hasil perbuatan dan membebaskan diri dari ‘rasa’ bcrbuat, seseorang terbebaskan dari dualitas suka dan duka.”

Selama masih mengharapkan kenikmatan dan takut akan penderitaan, manusia akan selalu gelisah. Dia tidak bisa tenang.

Sudah berdana-punia, sudah beramal saleh, masih juga takut: “Jangan-jangan belum cukup. Nanti kalau tidak masuk Surga bagaimana?”

Yang tidak berdana-punia, tidak beramal saleh pun takut, “Wah celaka aku. Seumur hidup tidak berbuat baik, sekarang hidupku sisa bebcrapa bulan lagi. Para dokter sudah menyerah. Apa yang harus kulakukan?” Dan dia mulai mengejar target, mengejar setoran. Sudah gelisah, tambah tegang lagi.

Hidup kita tidak pernah lepas dari kalkulator. Berbuat begini, hasilnya ini. Berbuat begitu, hasilnya begitu. Beramal saleh dan berdana punia pun karena perhitungan, karena ingin meraih hasil dari semua itu. Coba disuruh membantu orang tanpa mengharapkan hasil! Atau diberi peringatan, “Dia bukanlah se-‘jenis’ dengan kamu. Dia umat anu, kamu umat anu. Mau berbuat baik sih boleh saja. Asal tahu, tidak ada pahalanya.”

Apakah kita akan melanjutkan perbuacan itu? Berbuat baik tanpa harapan saja masih susah. Apalagi disuruh menolak hasil perbuatan, sulit banget. Memang susah.

Saya masih ingat…….

Di salah satu padepokan di India sana, mereka menjual susu segar dengan harga 2 rupees per liter. Di luar, harga susu lebih murah 50 paisa (sen).

Di dalam padepokan itu sapi-sapi itu diberi makan secukupnya. Dijaga pula kesehatan mereka, dan tidak pernah diperlakukan sebagai “mesin susu”. Tidak demikian dengan para penjual susu di luar. Sapi-sapi mereka berkeliaran di jalanan dan harus mencari makan sendiri. Dan setiap pagi harus rela diperah sampai titik susu terakhir.

Seorang teman masih saja tidak rela membayar lebih kcpada padepokan. Setiap pagi dia berjalan keluar dari ashram, untuk membeli susu murah di luar.

Pada suatu hari, Sang Guru menyindirnya, “Apa kabarmu  Fifty Paisa Bhakta?” Apa kabarmu, pengabdi 50 paisa? You, who are devoted to 50 paisa—how are you?

Jauh-jauh datang ke India… masih memikirkan 50 paisa. Padahal, dalam hidup sehari-hari dia dikenal sebagai seorang dermawan. Jelas sudah bahwa dia berderma demi nama. Untuk memperoleh pujian. Dengan membayar 50 paisa lebih kepada para pemerah susu di ashram dia tidak akan mendapatkan apa-apa.

“Kamu bukanlah bhakta-ku. Kamu bhakta 50 paisa. Kamu tidak mencintaiku. Kamu mencintai 50 paisa” teguran Sang Guru bagaikan tamparan keras.

Dia menangis. Dia baru sadar bahwa selama itu dia belum apa-apa. Dana-punia, amal-saleh yang dia lakukan selama itu semata-mata untuk memperoleh nama.

Sudah saatnya kita menoleh ke dalam diri, “Bagaimana dengan diriku? Apa yang kuabdi selama ini? Jangan-jangan aku pun seorang bhakta 50 paisa?”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s