Renungan #Gita: Makna Kehidupan Abadi? Abadi pada Level Jiwa Bukan pada Level Raga?

Semua orang akan mati, itu dimensi raga, bagaimana cara mencapai keabadian?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit. Om, Peace, Peace, Peace

 

“Sebagaimana laron terburu-buru memasuki nyala api untuk menemukan ajalnya; pun demikian seantero dunia dengan seluruh isinya sedang memasuki mulut-Mu dengan cepat, untuk berhancur-lebur tanpa bekas.” Bhagavad Gita 11:29

 

Penglihatan Arjuna bukanlah eksklusif ‘penglihatan’ saat perang saja. Sesungguhnya, keadaan kita yang tidak terlibat dalam perang pun kurang lebih sama. Perjuangan hidup ini sama dengan perang. Kita pun sedang menuju mulut-Nya untuk hancur, musnah dan tercipta ulang. Lalu,

APA BEDANYA? Apa beda antara mereka yang berpihak pada dharma — kebajikan – dan mereka yang berpihak pada adharma — kebatilan? Bukankah dua-duanya hancur juga? Bukankah dua-duanya akhirnya mati juga?

Ya, jika kita memperhatikan raga, maka dua-duanya hancur, punah. Dan, dua-duanya juga barangkali tercipta kembali untuk memasuki panggung dunia yang sama. Pertanyaannya, sebagai apa?

Setiap pengalaman kehidupan memperkaya Jiwa. Berdasarkan kekayaannya itu, ia mengambil peran berikut yang sesuai dengan wataknya, keahliannya.

Perhatikan para bintang layar lebar. Banyak di antara mereka yang memulai karier mereka sebagai peran pembantu. Bahkan, hingga akhir kariernya tetap sebagai peran pembantu. Kariernya seolah  berhenti di tempat, berhenti dalam kurun waktu dan peran tertentu.

Ada yang bermain hebat sebagai pemeran antagonis, villain; maka, sepanjang kariernya, ia selalu mendapatkan peran antagonis.

KITA MAU JADI APA? Puaskah kita sebagai Kaurava? Atau, kita ingin menjadi Pandava dan bersahabat dengan Krsna? Atau, malah ingin memainkan peran Krsna?

Jika mau menjadi Kaurava, maka silakan tetap berada dalam kubu adharma. Saat ini, mayoritas di antara kita berada dalam kubu tersebut.

Tapi, jika ingin mendapatkan peran Pandava atau Krsna, maka kita mesti pindah kubu. Kita mesti memperkaya diri dengan dharma, kebajikan.

buku bhagavad laron

Laron memasuki nyala api

KITA SEMUA IBARAT LARON yang sedang memasuki nyala api. Sepintas, kita sama, seolah sama. Tidak ada bedanya. Sepintas, memang demikian. Tapi, bertanyalah pada laron itu….

Memang, banyak di antara mereka yang memasuki api karena kebodohan mereka sendiri. Mau cari mati! Tapi, di antara laron-laron itu, ada juga beberapa yang akan menjawab pertanyaan kita dengan pertanyaan lain, ‘Apa? Cari mati? Apa maksudmu?’

Apa yang kita lihat sebagai api, apa yang kita sebut kematian — bagi mereka memiliki definisi lain.

API ITU ADALAH API CINTA – Mereka sedang memasuki Kolam Cinta. Mereka mabuk kepayang dalam Cinta. Cinta dengan nyala api, yang adalah pencerahan yang terjadi di dalam diri mereka sendiri. Mereka tidak mati. Mereka sedang menuju kehidupan abadi. Api pencerahan memurnikan Jiwa mereka dan mengantar mereka pada keabadian. –

Jadi, walau tampak sama — lain laron yang menuju kematian, dan lain pula laron yang menuju keabadian.

Kita semua lahir, hidup sebentar, dan mati. Itu pada level raga. Tidak ada seorang pun yang hidup untuk selamanya. Setidaknya, saya tidak pemah bertemu dengan seorang anak manusia yang tidak pernah mati. Atau, tidak akan mati.

Namun, lain dimensi raga, dan lain dimensi Jiwa. Ketika lsa bersabda, ‘Siapa pun yang mengenal-Ku, mendapalkan kehidupan abadi, maksud-Nya jelas bukan kehidupan abadi pada level raga. Tapi, pada level Jiwa. Dan, mengenal-‘Ku’ pun bukanlah mengenal-Nya di level badan, tapi di level Jiwa – di  mana, Ku-Dia dan Ku-Anda, Ku-kita adalah satu dan sama.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s