Renungan #Yoga Patanjali: Cara Mengendalikan Pikiran dan Perasaan? Perhatikan Permainan Persepsi!

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

Garis Besar Laku Yoga dalam Yoga Sutra Patanjali

Yoga adalah Penghentian/Pengendalian Citta Vrtti (perubahan pada benih-benih pikiran) I.2

Asana (postur yoga) untuk mempersiapkan bagi Laku atau Yoga lebih intens I.3

Penghentian/Pengendalian Citta Vrtti dilakukan dengan Abhyasa (usaha intensif) dan Vairagya (pelepasan diri) I.12

Keseimbangan juga dapat dicapai dengan berserah diri pada Isvara (Tuhan yang bersemayam dalam diri) I.23

Menyelaraskan diri dengan getaran alam semesta, mengulangi Om secara terus menerus I.28

Cara Menghadapi Rintangan dan Kekacauan Pikiran:

Cara 1: Melatih diri secara intensif dan repetitif, sekuat tenaga, tanpa henti: Maitri, Menumbuhkembangkan Persahabatan; Karuna, Kasih; Mudita, Keceriaan; serta Upeksa atau Tidak Membedakan dan tidak terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman yang saling bertentangan, seperti suka-duka, kebaikan-kebatilan, dan sebagainya. I.32-33

Cara 2: Pranayama, mengatur napas I.34

Cara 3: Menenangkan mind I.35

 

visayavati va pravrttir utpanna manasah sthiti nibandhini

“Manah atau Gugusan Pikiran serta Perasaan juga dapat ditenangkan dengan memperhatikan persepsi-persepsi indrawi (yang muncul saat indra berhubungan dengan benda-benda, kondisi-kondisi tertentu, atau pemicu-pemicu lain).” Yoga Sutra Patanjali I.35

Ini merupakan pilihan ketiga.

Tidak bisa langsung mengembangkan Kasih, Persahabatan Keceriaan, dan Keseimbangan terhadap dualitas; tidak bisa juga mengatur prana lewat napas (bodoh sekali ya!); tapi, tidak perlu khawatir. Masih ada cara lain.

 

NAMUN, CARA INI SUDAH TIDAK MAMPU MENGHENTIKAN KEKACAUAN, atau perubahan-perubahan yang terjadi pada citta, pada benih pikiran dan perasaan.

Cara ketiga ini, opsi ketiga ini bekerja pada tataran manah atau mind—gugusan pikiran dan perasaan. Berarti, opsi ini sudah tidak bekerja pada level subatomic dan partikel, di mana hulunya adalah bersifat quantum. Di mana, perubahan bisa terjadi dalam satu lompatan. Di mana, seorang pengacara dipermalukan oleh seorang petugas yang tidak sopan; seorang berkulit cokelat kemudian diturunkan dari gerbong kereta yang diperuntukkan manusia yang dianggap jenis unggul karena kulitnya berwarna putih alias bule; seorang biasa, awam, tanpa keistimewaan apa pun—bisa mengalami lompatan kesadaran bersifat quantum, dahsyat. Dalam satu lompatan, Mohandas berubah menjadi Mahatma. Ia tidak lagi memikirkan penghinaan terhadap dirinya; yang dipikirkannya adalah ketidakadilan terhadap setiap orang yang diperlakukan secara tidak adil.

Ya, saat itu lompatan quantum yang dialami MohandasKaramchand Gandhi terjadi berkat citta yang tidak terbawa oleh emosi diri—berkat citta yang tetap tenang. Namun jangan salah, citta yang tenang adalah citta yang sesungguhnya. Ia tidak lagi mengidentifikasikan dirinya dengan “pribadi kecil”, dengan “aku” kecil, tapi dengan Sang Aku yang berada di mana-mana. Penghinaan yang dialami seorang Mohandas, berubah menjadi kepedulian Mahatma, Sang Jiwa Besar, terhadap sesama percikan-percikan Sang Jiwa Agung.

Kembali pada sutra ini.

 

PERHATIKAN PERSEPSI INDRAWI yang dialami, yang terjadi saat indra bersentuhan, berhubungan, berinteraksi dengan keadaan-keadaan, orang-orang, benda-benda, atau apa saja yang menjadi pemicu baginya.

Sekali lagi, ini sudah pada tingkat manah atau gugusan pikiran dan perasaan. Inilah latihan yang sekarang banyak dibicarakan; disebut Mindfulness Meditation, dan sangat populer di Barat.

Jikasudah tidak dapat menghentikan atau mengendalikan citta, benih-benih pikiran dan perasaan, maka kendalikanlah manah atau gugusan pikiran dan perasaan,” demikian kiranya maksud Patanjali.

Dengan cara apa?

Dengan cara memperhatikan persepsi indrawi saat indra saat indra tertentu berhubungan dengan apa yang menjadi pemicunya.”

Contoh: Anda suka sekali dengan gudeg Yogya. Maka mendengar kata “gudeg” saja, tidak perlu melihalnya, indra pengecapan Anda sudah mulai terangsang. Kenapa terangsang? Karena “persepsi” Anda bahwasanya gudeg itu enak. Ya, karena “persepsi” Anda. Apakah gudeg itu enak? Ya, tergantung persepsi Anda. Kalau begitu, gudeg, sesungguhnya tidak enak? Ya, tergantung persepsi Anda juga. Semua tergantung pada persepsi.

Saya sengaja menggunakan contoh gudeg karena ada pengalaman menarik tentang masakan khas Yogya ini.

 

SEORANG BULE DIKIRIMI GUDEG oleh seorang rekannya dari Yogya. Begitu membuka dan melihat “warna” gudeg, yang baginya tidak merangsang, komentarnya pun sudah dapat diperkirakan, “Kiriman apa ini?”

Apa yang menyebabkan ia berkomentar demikian?

Persepsi, ia mengaitkan Warna gudeg yang dianggapnya, dipersepsikannya tidak menarik dengan rasa gudeg, bahkan sebelum mencicipinya. Berdasarkan persepsi indra mata, ia memutuskan untuk tidak memakannya.

Tapi, setelah diceritakan secara panjang lebar tentang proses memasak gudeg dan sebagainya, dan setelah berhasil dirayu agar ia mencobanya, mencicipinya, maka persepsi dia pun berubah, “Enak juga ya!”

Banyak orang asing awalnya tidak suka durian, buah durian. Kenapa? Karena persepsi yang muncul dari indra penciuman, “Bau sekali, seperti gas amonia!” Tapi setelah mencobanya, ada juga yang langsung berubah persepsi, “Lezzaat!”

 

BERARTI, BENDA-BENDA, KONDISI-KONDISI, ORANG-ORANG di luar menyenangkan, menarik—atau  sebaliknya—, semua adalah karena persepsi kita sendiri. Tanpa ikut campur persepsi, segala sesuatu, semua kondisi, semua benda, semua orang, semua relasi menjadi tidak berarti apa-apa.

Kita kawin, beranak-pinak dan timbullah persepsi keluarga, kekeluargaan. Kemudian, cerai dengan pasangan, maka berubah pula persepsl sebelumnya. Menikah lagi, timbul persepsi baru.

Dalam menjalankan sebuah usaha, kita ber-partner dengan seseorang, dalam dunia politik, para politisi berkoalisi dengan partai tertentu. Kemudian karena satu dan lain hal, partnership dan coallition berakhir. Perasaan saat ber-partnership, berkoalisi, dan perasaan setelah berakhirnya partnership atau koalisi, adalah beda. Lagi-lagi perbedaan terjadi karena persepsi kita yang telah berubah.

 

“DENGAN MENYADARI HAL INI, PERMAINAN PERSEPSI ATAU PANDANGAN INI,” kata Patanjali, “seseorang dapat mengendalikan gugusan pikiran serta perasaannya, manah atau mind-nya.”

Dengan cara ini pun seseorang bisa berupaya untuk meraih keseimbangan diri. Kendati, untuk selalu diingat, bahwa cara ini adalah cara melakoni meditasi, Yoga atau Disiplin-Diri 24/7—dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari setiap minggu. Ini adalah laku purnawaktu. Terlena sedikit saja, sebentar saja, makagugusan pikiran dan perasaan akan lepas kendali. Manah atau akan kembali memperbudak kita.

Persepsi kita tentang kentang bisa berubah, dan kita sudah tidak lagi terikat dengan kentang. Tapi, bagaimana dengan tomat? Bagaimana dengan singkong?

Tiada orang yang mau bermain-main dalam lumpur, dengan lumpur. Tapi, begitu ketahuan bahwa lumpur itu mengandung emas atau minyak, bagaimana? Kita akan mensyukuri bahwa rumah kita telah menjadi bagian dari kuala lumpur. Dulu minta uang ganti, sekarang minta diberikan hak atas sebagian kuala berlumpur itu. Semua persepsi.

Di balik semua,” Patanjali mengingatkan, “di balik seluruh materi, benda dan kebendaan, bahkan seluruh alam benda ini adalah kebenaran yang tak dapat diganggu gugat, yaitu semua ini, seluruh permainan kebendaan ini, termasuk badan kita, fana adanya. Saat ini ada, sesaat lagi tak ada. Maka bangkitlah! Sadarilah sifat benda dan kebendaan, janganlah membiarkan dirimu terbudakkan oleh persepsimu. Janganlah menjadi budak materi karena persepsi yang salah.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s