Renungan Diri: Lahir dengan Cacat atau Penyakit Bawaan Disebabkan Karma Buruk Masa Lalu?

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

Slokantara 9

anityam yauvanam rupamanityo dravyasamcayah

anityah priyasamyogastasmad dharmam samacaret

Youth and looks do not last; similarly with hordes of wealth, and association with dear ones

Hence, one should ever practice dharma or righteousness

Q’0n it is righteousness alone that lasts).

 

Masa muda dan rupa tidaklah langgeng;

demikian pula dengan harta benda dan hubungan dengan mereka yang kita cintai

Sebab itu, hendaknya seseorang senantiasa berlaku sesuai dengan nilai-nilai luhur kebajikan

atau dharma (karena, hanyalah dharma yang abadi dan langgeng adanya).

 

Slokantara 10

(Ketika maut datang untuk menjemput, dan Jiwa Individu atau Jivatma

mesti meninggalkan badan, maka) segala harta-kekayaan tertinggal di sini

Kawan dan kerabat pun hanya mengantar hingga Samsana atau Setra,

tempat Perabuan/Kremasi atau Penguburan.

Adalah perbuatan atau karma seseorang saja yang mengikutinya seperti bayangan—

baik perbuatan-perbuatan yang mulia, maupun yang tidak mulia.

 

Slokantara 11-12

Tidak bisa memiliki anak (kendati sudah berkeluarga), impoten, banci, lemah dan lemah syahwat;

berbadan terlampau gemuk, dengan lemak sangat berlebihan dalam tubuhnya

(yang menimbulkan berbagai penyakit bawaan); berbibir sumbing, tuli;

berpenyakit epilepsi, ayan, atau kejang; gila, kusta, dan berbagai penyakit pencernaan lainnya;

pincang, bungkuk; buta satu atau kedua matanya, ataupun menderita gangguan mata lainnya,

sulit atau tidak karuan bicaranya, dan kerdil atau memiliki cacat lainnya—seseorang yang lahir

dengan salah satu penyakit bawaan seperti itu adalah disebabkan oleh  karma buruk di masa lalu.

 

Slokantara 13-14

Bagi para dewa atau makhluk-makhluk bercahaya, cerah —

kelahiran sebagai manusia adalah pengalaman neraka.

Bagi manusia, kelahiran sebagai ternak; bagi ternak, kelahiran sebagai binatang liar di hutan;

bagi binatang liar di hutan, kelahiran sebagai burung adalah adalah neraka.

Bagi burung, kelahiran sebagai binatang buas; bagi binatang buas, kelahiran sebagai binatang

bertanduk dan/atau bertaring; dan bagi binatang bertanduk/bertaring

kelahiran sebagai makhluk-makhluk yang mengigit, mematuk, dan menyengat adalah neraka.

Sebab itu, nasihat Sang Bijak ialah untuk senantiasa memperhatikan segala tindakan kita

Sebab, surga dan neraka, dua-duanya adalah di alam ini juga.

 

Slokantara 15

Ahimsa atau Tidak Menyakiti, Tidak Melakukan Kekerasan;

Brahmacarya atau Pengendahan Diri dalam kaitannya dengan seks/birahi ataupun nafsu lainnya;

Suddhi atau Kesucian Diri;

Ahara-Laghavam atau Moderasi dalam hal makan;

dan Asteya atau Tidak Mencuri, Tidak Merampas Hak Orang —

inilah kelima Yama atau Pedoman bagi Disiplin-Diri, sebagaimana dijelaskan oleh

Rudra Siva — Hyang Maha Mulia dan Sumber Segala Kebahagiaan.

 

Slokantara 16

Seseorang yang melakoni tugasnya dengan baik; telah

menguasai gugusan pikiran serta perasaannya (mind), dan menaklukkan nafsu-amarah;

berpendidikan tetapi tetap rendah hati; tidak menyakiti siapa pun;

senantiasa puas dan bahagia dengan pasangannya, setia padanya,

dan tidak memikirkan wanita atau pria lain – adalah bebas dari rasa takut.

Tiada sesuatu di dunia ini yang dapat membuatnya takut.

 

Slokantara 17

Seorang berbudi luhur tidak membalas segala kejahatan yang ditujukan terhadap dirinya

bagi mereka yang berkonspirasi untuk menjatuhkannya.

Sementara itu, mereka yang belum berbudi luhur membalas kejahatan dengan kejahatan

(Anjuran ini diperuntukkan bagi mereka yang sudah menarik diri dari keduniawian. Hendaknya

tidak digunakan untuk membenarkan kepengecutan-diri; dan keengganan untuk membela

kebajikan, kebenaran, dan keadilan — yang akan melanggar prinsip dasar kebajikan

atau Dharma, Kemuliaan.)

 

Slokantara 18

Seorang raja atau pemimpin yang memiliki kekuasaan, harta dan segala sarana lainnya;

Dibantu oleh para menteri, pasukan, atau bawahan yang memadai—namun,

Takut menghadapi musuh atau tantangan dan melarikan diri dari medan perang,

Atau enggan menghadapi tantangan—hanyalah meraih nama buruk bagi dirinya.

Tidak lagi dihormati oleh rakyat dan bawahannya,

Seorang pengecut seperti itu lahir lagi sebagai banci.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s