Anak Kegemukan Karena Suka Makan Ayam? Informasi Ilmiah, Bhagavad Gita, Sufi? #Vegetarian

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Om, May we all be protected; May we all be nourished; May we work together with great energy; May our intelect be sharpened; Let there be no Animosity amongst us; Peace to One and All.

 

Diskusi pendek sebelum Jalan sehat

Menyemarakkan jalan sehat masyarakat Kelurahan Kratonan memperingati hari jadi Kota Sala ke 21, pada hari Minggu 20 Maret 2016, saya dan istri bertemu para tetangga sesama lansia. Ada informasi penting, yang entah benar atau salah, saya merasa perlu share…..

Para lansia suka bercerita masa lalunya, hehehe. Ada yang sekarang sudah berusia 77 tahun, lahir tahun 1939 yang berbagi kiat hidup sehat: jaga pola makan (jangan terlalu banyak, kurangi daging), jaga pola hidup (tidur awal dan bangun awal membuat tubuh sehat dan pikiran jernih) dan jaga pola pikir (jangan terbawa kesedihan) kata beliau yang rupanya seorang pendeta. Kita diberkati hidup, maka hidup kita harus memberkati sesama.

Selagi ngobrol, seorang tetangga dengan penampilan muslim yang taat menimpali diskusi tentang mengapa anak-anak kecil sekarang banyak yang gemuk. Sambil tertawa dia bercerita, ada ayam-ayam yang sejak menetas sudah dikasih hormon penggemuk sampai saat dipotong pada usia 40 hari. Bila pengaruh hormon adalah 1 tahun atau 360 hari, maka sesudah masuk tubuh anak kita, daging dengan hormon tersebut masih sempat menggemukkan anak kita selama 320 hari.

buku bhagavad gita child-obesity-300x231

Obesitas pada anak

 

Jangan keburu menanggapi pernyataan yang belum tentu benar tersebut dahulu. Selanjutnya, diskusi sebelum jalan sehat tersebut, membuat saya membuka internet mencari pengaruh hormon pada daging ayam terhadap pemangsa ayam. Saya juga tidak tahu benar atau salahnya informasi terkait, tetapi judul pada blog ini terlalu menarik:

https://sehatgampang.wordpress.com/2009/02/18/cowok-suka-paha-atau-sayap-ayam-cenderung-feminim/

Kecenderungan tersebut terjadi karena dua bagian tubuh ayam potong itu mengandung hormon kewanitaan (insulin X). Hormon kewanitaan tersebut disuntikkan ke tubuh ayam melalui paha atau bagian sayap untuk memacu pertumbuhan. Karena itu, hormon tersebut banyak menumpuk di bagian tubuh itu. Artikel tersebut menyemarakkan LGBT, salah satu sebab menjadi gay?

Seorang dokter hewan telah membantah kebenaran informasi ini “Tidak Benar, Broiler Disuntik Hormon” pada blog:

http://www.poultryindonesia.com/news/opini/node1304/

Di situs internet lain ditulis bahwa perbedaan ayam kampung dan ayam negri terletak pada kandungan air dan lemak. Ayam kampung lebih sedikit kandungan lemaknya. Tulisan tersebut menyarankan hindari konsumsi kulit dan lemak saat “memangsa” ayam. Pada hewan dan manusia berbagai racun tubuh dapat terakumulasi di antaranya pada kulit dan lemak.

Mohon maaf atas kekasaran tulisan saya. Kalau buaya makan manusia disebut memangsa manusia, dan khusus kali ini manusia yang mengkonsumsi hewan, sengaja saya tulis “memangsa” hewan, agar saya pribadi ingat setiap kali makan daging saya juga menjadi pemangsa hewan yang sebelumnya hidup dan punya nyawa.

Kadang bahasa kita terlalu halus sehingga kita tidak merasa bersalah pada waktu melakukannya, misalnya: “penyalahgunaan anggaran”. Kalau bahasa salah seorang Gubernur yang baru ngetop adalah “maling”, sehingga yang merasa melakukan merasa sangat tersinggung. Entah, kita masih punya nurani atau tidak, dikatakan apa saja terus saja melakukan.

Saya ingat sewaktu saya baru masuk Anand Ashram, saya mendengar, memperoleh uang itu hanya dengan cara mencuri, merampok atau mengemis. Dan hampir semalaman saya merenung bahwa semua tindakan yang saya lakukan itu masuk kategori mencuri, merampok atau mengemis. Betul juga, karena saya membayangkan hasilnya dahulu, baru berpikir dan bertindak dengan tiga cara tersebut. Baru setelah beberapa tahun berada di Anand Ashram, saya sadar, lakukan tindakan apa pun sebagai persembahan, jangan memikirkan hasilnya. Banyak faktor yang tidak kita ketahui yang mempengaruhi hasilnya.

 

Restoran Vegetarian di Solo

Pada waktu saya bersama istri makan di Restoran Vegetarian  di Solo, 3 hari sebelum jalan sehat, saya diberi buku 103 halaman tentang pola makan vegan oleh pengurus rumah makan. Hehehe, menurut pemahaman saya, tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan di dunia ini……

Dituliskan di sana: “Ketika kita makan hidangan vegan, kita tidak perlu khawatir tentang penyakit apa yang menyebabkan kematian dari hidangan itu. Itu membuat suasana makan penuh kegembiraan!”

Ada yang perlu dikhawatirkan. Zat-zat antibiotik serta obat-obatan lainnya termasuk steroid dan hormon pertumbuhan ditambahkan ke pakan hewan atau disuntikkan secara langsung ke binatang. Telah dilaporkan bahwa orang yang memangsa binatang itu akan menyerap obat-obat itu ke dalam tubuh mereka. Ada kemungkinan antibiotik dalam daging akan mengurangi kemanjuran antibiotik bagi manusia.

 

Penjelasan Bhagavad Gita

Bukan pula suatu kebetulan bila 4 hari sebelumnya istri saya membacakan penjelasan Bhagavad Gita 10:26 pada saya.

Pertikaian dan kekacauan yang terjadi selama ini, disebabkan oleh pemahaman kita yang keliru tentang bentuk-bentuk kehidupan yang lain. Sedemikian arogannya kita sehingga kita menempatkan jenis kita, manusia, di atas segala-galanya. Dan, demi kepuasan indra, kita membenarkan pembunuhan, perburuan, penyembelihan binatang-binatang yang lazimnya kita ayomi; merusak hutan dengan segala macam konsekuensinya; menyebabkan bencana alam, dan lain sebagainya.

Seolah manusia adalah ciptaan-Nya yang tertinggi, dan dia bisa berbuat apa saja. Seolah Tuhan yang disembah sebagaai Maha Mencipta memiliki preferensi. Sehingga, manusia diperbolehkan untuk membunuh hewan dan melahap dagingnya, sementara jika hewa membunuh manusia dan memangsanya, maka disebut buas.

Seekor hewan buas saja belum tentu memburu, dan memangsa 200 hewan sepanjang hidupnya. Ia tidak akan memburu sebelum menghabiskan buruan sebelumnya. Ia hanya memburu dalam keadaan lapar.

Bagaimana dengan kita? Saya pernah membaca, rata-rata orang Indonesia mengonsumsi 6.000 ekorayam sepanjang hidupnya. Entah berapa ekor domba, kambing, sapi, dan ikan, udang segala! Berapa banyak telur kampung yang masih bisa menetasdan mengandung kehidupan.

Kita tidak merasa bersalah, karena seolah—lagi-lagi—Tuhan telah mengizinkan kita, “Wahai manusia, lihat binatang-binatang itu—semuanya telah Ku-ciptakan untuk kaulahap, untuk kaujadikan santapanmu!” renungakn sejenak, apakah akal sehat kitarasa empatidi dalam diri kita, dapat membenarkan ulah Tuhan seperti itu?apakah Tuhan bisa menyerukandemikian? Atau, adakah khayalan itu produk pikiran kita sendiri?

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

1 gemuk di usia 30-an

Sejak kecil makan sederhana sampai usia 30-an (generasi yang lahir th 50-an di usia 30-an)

 

1 gemuk di usia 45-an

Kebanyakan makan ayam dan makanan berlemak di usia 45-an

 

1 gemuk setelah vegan 60-an

Kembali kecil setelah mulai vegetarian dan menua di usia 60-an

Artikel Lama Tentang Kisah-Kisah Hewan pada Relief Borobudur

Jika Tak Mau Dilukai, Jangan Melukai Orang Lain

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/10/15/kisah-bodhisattva-rusa-sarabha-dan-raja-yang-berhenti-berburu-dan-menyembelih-hewan/

“Kemanusiaan adalah percikan kasih Gusti Pangeran yang ada di dalam diri setiap manusia. Apakah kau sudah bertindak sesuai dengan kodratmu sebagai manusia? Jika kita sudah bertindak sesuai dengan kodrat kita sebagai manusia, maka kita sudah menjalani kehendakNya. Apa arti kemanusiaan bagi kita? Kemanusiaan adalah kesadaran bahwa apa yang kau inginkan bagi dirimu juga diinginkan oleh orang lain bagi dirinya. Jika kau ingin bahagia, maka orang lain pun ingin bahagia. Jika kau ingin sehat, maka orang lain pun ingin sehat. Jika kau ingin aman, maka orang lain pun ingin aman. Jika kau tidak mau dilukai, maka orang lain pun demikian. Jika kau tidak mau ditipu, maka orang lain pun tidak mau ditipu. Jika kau tidak mau disembelih, dimasak, dan disajikan di atas piring; jika kau tidak mau dagingmu dijual dengan harga kiloan; jika kau tidak mau jeroanmu dipanggang atau digoreng; maka janganlah engkau menyembelih sesama makhlukNya. Menyembelih sesama makhluk hidup bukanlah tindakan yang memuliakan. Bagaimana kau bisa mengagungkan Hyang Maha Agung dengan mengorbankan ciptaanNya?” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku alpha omega

Cover Buku Alpha Omega

Pengaruh Konsumsi Daging terhadap Karakter Manusia

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/09/29/pengaruh-konsumsi-daging-terhadap-karakter-manusia-kisah-kera-dan-pemburu-pada-relief-borobudur/

“Dari segi spiritual, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi sifat dan watak manusia. la akan mewarisi watak binatang yang dimakan dagingnya itu.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Dari sudut pandang mistik, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi pernafasan kita, dan selanjutnya memblokir sentra sentra psikis dalam diri kita, yang sebenarnya berfungsi sebagai ‘jaringan tanpa kabel’. Sentra sentra psikis atau chakra inilah yang membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri kita, dan menghubungkan kita dengan alam semesta. Untuk itu dianjurkan tidak makan daging. Dari sudut pandang moral, hati seorang pemakan daging akan menjadi keras. Hati yang seharusnya lembut dan diberikan oleh Allah untuk mengasihi sesama makhluk bukan hanya sesama manusia akan kehilangan kelembutan atau rasa kasihnya.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku sehat seimbang sufi

Cover Buku Sehat Seimbang Cara Sufi

 

“Kelemahan kita dalam hal pengendalian hawa nafsu, obsesi kita terhadap daging, membuat kita licik Kita menjadi cendekiawan. Kita mulai berdalil bukankah tumbuh tumbuhan itu pun memiliki kehidupan? Betul, kehidupan mengalir lewat tumbuh tumbuhan pula. Namun tumbuh-tumbuhan tidak memiliki mind. Dan oleh karena itu, mengkonsumsi sayur sayuran, buah buahan tidak akan mempengaruhi watak kita, mind kita. Tidak demikian dengan mengkonsumsi daging. Masih ada lagi yang berdalil hewan yang disembelih dan dimakan itu, sesungguhnya mengalami peningkatan dalam evolusi mereka. Dengan mengkonsumsi daging hewan, sebenarnya kita membantu terjadinya peningkatan evolusi mereka. Anda boleh memberikan seribu satu macam dalil. Dalil tinggal dalil. Yang jelas, mengkonsumsi daging tidak akan membantu manusia dalam hal peningkatan kesadaran. Terjadi evolusi dalam diri hewan hewan itu atau tidak, yang jelas mengkonsumsi daging tidak membantu evolusi spiritual manusia. Walaupun demikian, hendaknya seorang vegetarian tidak menganggap rendah mereka yang masih mengkonsumsi daging. Keangkuhan Anda, arogansi Anda justru akan menjatuhkan Anda lagi, dan akan menjadi rintangan bagi perkembangan spiritual.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous, happy and ever free from illness. May all experiences spiritual upliftment, and never ever suffer. Peace to One and All.

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s