Renungan Diri: Sulit Melawan Wazir-Mind, Hadirkan Sultan-Kesadaran, Mind Minggir Sendiri!

Wazir atau Vizier adalah Menteri Politik dalam Sistem Monarkhi yang dipimpin seorang Sultan

buku atmabodha

Cover Buku Atma Bodha

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

Tanya: Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang guru meditasi. Walau tidak menggunakan istilah Na Iti, Na Iti, inti ajarannya sama. Dia mengajak para muridnya untuk menolak segala sesuatu sebagai  perwujudan dari kesadaran ilusif itu.

 

Jawab: Tidak perlu menggunakan istilah yang sama. Proses beliau sudah betul, asal tidak berhenti pada proses itu sendiri. Slogan No-Mind yang saya gunakan selama ini juga sebuah proses, seperti halnya proses mengupas bawang. Setelah dikupas, apa yang tersisa? Kekosongan? Mana kekosongannya? Kekosongan pun memiliki “makna” bila bawang belum terkupas. “Dalam”-nya kosong, demikian kita katakan. Bila bawang sudah terkupas, kekosongan pun lenyap. Kekosongan pun hilang. Kemana lenyapnya? Ke mana hilangnya?

Kekosongan yang tadi “ada” di dalam bawang, di balik lapisan-lapisannya, sekarang menyatu dengan kasunyatan di luar.

Hasil akhir ini, menyatunya “kekosongan diri” dengan “Kasunyatan Abadi” ini yang dibicarakan Shankara.

Seorang guru menyuruh muridnya untuk melarutkan garam ke dalam air. “Coba, cicipi air itu. Bagaimana rasanya?”

“Asin.” Jawab murid.

“Ke mana garamnya?” Sang Guru bertanya kembali.

“Sudah larut, menyatu dengan air ini.”

Sang Guru menyuruh muridnya untuk mencicipi air dari bagian lain ember yang sama. Dari permukaan, dari kedalaman… “Bagaimana rasanya?”

“Tetap asin.”

Begitu pula dengan alam semesta. Dicicipi dari mana saja, tetap asin.

Allah ada di mana-mana. Silakan “mencicipi”-Nya dari kedalaman Hindu atau permukaan Islam. Dari pertengahan Buddha atau Kristen. Rasa Manis-Nya sama. Siapa saja yang menyadari hal itu telah terbebaskan dari kesadaran ilusif.

Kesadaran ilusif menciptakan eksklusivitas. Itu sebabnya semangat “inklusif” yang dikibarkan oleh beberapa Tokoh selalu memperoleh tantangan dari sekelompok masyarakat. Bayangkan, mereka baru bicara tentang inklusivitas. Bila universalitas yang dibicarakan, serangannya akan semakin hebat.

Kasihan, para penyerang pun tidak tahu kalau serangan mereka berasal dari “kesadaran ilusif”. Bila tidak segera diupayakan, pengetahuan seperti itu biasanya baru muncul sesaat sebelum ajal tiba, maka timbul pula keinginan untuk “memperbaiki diri”. Untuk membebaskan diri dari “kesadaran Ilusif”. Dan, jiwa mulai mencari wadag baru.

Bila conditioning-nya sangat kuat, saat ajal tiba pun pengetahuan seperti itu tak akan muncul. Dan, jiwa tak berbadan itu akan gentayangan. Kesadaran ilusif dia berpindah dari badan ke “roh”. Roh dianggapnya sebagai hakikat diri. Saat itu, dia berhenti berevolusi. Dia mandeg. Kemandegan ini yang kemudian melahirkan sekian banyak kisah tentang setan, hantu, tuyul, dan lain sebagainya.

Upaya kita lewat meditasi bermaksud untuk menggantikan “kesadaran ilusif” dengan “kesadaran hakiki”, selagi masih “hidup”, masih berbadan, masih memiliki wahana, wadag berdarah-daging ini.

Berada pada kesadaran hakiki, Bayazid menjelaskan “sifat kesadaran hakiki” itu sendiri. “Akulah Tuhan.” kata Sang Sufi. Sebagian murid yang masih sepenuhnya berada pada “kesadaran ilusif” terkejut. Mereka kaget. Dan, ketika Bayazid “turun dari ketinggian itu mereka menegurnya: “Murshid tadi engkau mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya kau katakan.”

“Oh ya…? Apa, apa yang kukatakan tadi? tanya Sang Guru.

“Bahwasanya engkaulah Tuhan.”

“Tuhan? Bayazid Tuhan? Salah besar. Mana mungkin? Lain kali, bunuh saja aku.“ Bayazid terdengar sangat serius.

Tak lama kemudian, Bayazid “naik gunung”lagi. Lagi-lagi, ia mengatakan: “Akulah Tuhan.”

Para murid yang tidak memahami maksud Bayazid maju ke depan untuk sungguh-sungguh membunuh Sang Murshid. Beberapa di antara mereka malah sudah berulang kali menikamnya dengan pisau, tetapi tidak berhasil “melukai” Bayazid. Justru mereka sendiri yang kesakitan.

Bayazid tetap tenang, “Di balik jubah ini, yang ada hanyalah Tuhan. Bayazid tak ada. Yang ada hanyalah Aku. Sembahlah diriku, karena tidak ada sesuatu di luar Aku!”

Saat itu, “aku ilusif” Bayazid sirna sudah. Yang ada hanyalah Sang Aku Sejati, Kesadaran Murni, Hakiki.

Rumi memberi contoh, “Bila Sultan tidak berada di tempat, maka seorang Vizier, seorang Perdana Menteri berhak mengambil keputusan atas nama Sultan.” Inilah mind manusia yang saat ini memerintah hidup kita.

Hadirkan Sultan “Kesadaran Hakiki”, maka vizier ”kesadaran ilusif”, perdana menteri mind akan minggir dengan sendirinya.

Inilah cara yang terbaik, karena bila ingin mengendalikan mind, tidak gampang. Dia seorang vizier yang “sedang berkuasa”. Bagaimana bisa melawan dia? Itu sebabnya, dalam latihan-latihan meditasi, saya berulang kali mengingatkan untuk tidak “melawan” mind. Just wacth it. Cukup perhatikan saja. Demikian, Anda akan berhasil menghadirkan Sang Sultan. Dengan melihat mind tanpa perlawanan, anda sudah “mengambil posisi” sultan, karena sesungguhnya sang sultan tidak berada di luar diri. Kesadaranmu ituiah sultan. Demikian, engkau tak perlu mengusir mind. Dia akan minggir sendiri.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s