Renungan #Yoga Patanjali: Memaknai Kata-Kata Orang Bijak sesuai Kemauan Kita? Jernihlah!

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

duhkha-daurmanasyangamejayatva-svasa

prasvasah viksepa sahabhuvah

“Kekacauan Mental seperti itu juga dibarengi oleh Duhkha atau Duka-Derita, perasaan hampa; Daurmanasya atau Depresi; Angam dan Svasa-Prasvzasah Ejayatva atau Bergemetarnya anggota badan dan Ketidakteraturan Napas.”

Yoga Sutra Patanjali I.31

 

Itulah simtom-simtom yang mengawali setiap penyakit. Jika seseorang cukup peka terhadap simtom-simtom tersebut, ia dapat mengatasi segala gangguan pada tingkat ini. Tidak perlu “jatuh sakit” baru beraduh-aduh dan berobat.

 

FISIK, INDRA, GUGUSAN MENTAL DAN EMOSIONAL, SERTA INTELEK, semua adalah bagian dari “kendaraan” yang digunakan oleh Jiwa individu atau Jivatma untuk meraih pengalaman-pengalaman baru, untuk memperkaya “diri” selama perlawatannya di alam ini, sebelum kembali bergabung, menyatu, atau lebih tepatnya, mengalami kembali kesatuannya dengan Paramatma, Sang Jiwa Agung.

Jadi, “kendaraan” yang terbuat dari materi-materi kebendaan ini amat sangat penting untuk dirawat selayaknya, secukupnya, untuk tujuan tersebut. Tidak berarti kita menghabiskan seluruh waktu untuk merawatnya, tidak. Merawat secukupnya. Merawat demi tujuan yang hendak kita capai. Merawat badan saja, melayani indra dan gugusan pikiran serta perasaan saja bukanlah tujuan. Hendaknya kita tidak terjebak dalam permainan kebendaan, atau menjadi budaknya. Seseorang yang menghabiskan seluruh waktu untuk mengurusi badan saja telah terjebak dalam permainan kebendaan.

 

BANYAK ORANG MELAKONI YOGA; atau setidaknya “merasa” telah melakoni Yoga. Yoga apa? Yoga Melayani Badan, Indra, dan Gugusan Pikiran serta Perasaan? Yoga untuk mempercantik atau memperkaya diri? Itu bukan Yoga. Belum Yoga.

Kita punya kecenderungan mengartikan segala sesuatu sesuai dengan “kemauan” kita, to our convenience—sesuai dengan apa yang gampang, sesuai dengan pemahaman kita yang sering kali pincang.

Dalam tradisi-tradisi Arab dan Persia Kuno kita membaca tentang seorang tokoh bernama Hatim Tai. Konon, Hatim Tai adalah seorang yang sangat bijak, dan selalu bertualang untuk mengasah kebijaksanaannya. Dalam salah satu petualangannya ia bertemu dengan seorang tua renta yang menasihatinya untuk: Neki kara dariya me dala. Secara harfiah, anjuran itu berarti,  “Berbuat baik dan buanglah ke dalam kali (atau sungai). Maksudnya, “berbuat baik tanpa pamrih”—tidak mengharapkan imbalan. Membuang segala harapan, segala pikiran berpamrih ke dalam kali, sungai. .

Hola membaca kisah Hatim Tai dan “sangat terkesan”. Nah, “sangat terkesan”-nya Hola bisa berbeda dengan “terkesan”-nya Anda dan saya. Yang membuat Hola terkesan adalah penggalan  kedua, penggalan terakhir petuah ini: “Dariya me dala ”, buanglah dalam kali atau sungai.

 

PIKIR PUNYA PIKIR, Hola memutuskan untuk mempraktikkan petuah tersebut, “Apa gunanya membaca kisah Hatim Tai, tapi tidak melakoni petuah-petuah di dalam kisah itu!”

Maka, ia mendatangi Gola, seorang musuh bebuyutan, “Gola, aku ingin berbuat baik, maka akan kuajak kau ke restoran sekarang juga. Terserah restoran mana, kau yang pilih. Mau makan apa pun terserah kamu.”

Gola tercengang, “Nggak salah, Hola? Tiba-tiba berubah seperti ini? Apa yang terjadi? Tadi pagi matahari terbit dari mana, ya? Masih dari timur bukan? Hola, oh, Hola…jujur saja, bukankah kau ingin meracuniku? Ini sudah pukul 3 siang, sudah lewat jam makan siang, dan belum waktunya makan malam. Nahi, nahi, tidak Hola, aku tidak percaya dengan niatmu.”

Hola menjawab tenang, “Memang, aku sudah punya firasat kau akan meragukan, menyangsikan niat baikku. Sebab itu, kutawarkan kau yang memilih restoran, terserah kamu. Dan mau makan apa pun terserah kamu. Tenang Gola, setiap porsi makanan yang kau pesan, akan kumakan, akan kucicipi sedikit supaya kau yakin bahwa tidak ada racun.”

Gola masih tidak yakin, “Tapi, kenapa? Kenapa berubah drastis seperti ini?”

“Terus terang Gola, aku baru selesai membaca kisah-kisah Hatim Tai, dan sangat terkesan dengan petuah-petuah di dalam riwayatnya.”

“Ah, tentu, tentu…Hatim Tai adalah Wujud Keberanian, Ketulusan dan Kejujuran. Kalau begitu, aku percaya, Hola. Ayo,Hola……”

 

SETELAH MAKAN KENYANG, HOLA MENYOPIRI GOLA BALIK KE RUMAHNYA. “Hola, mobil barumu di bengkel? Tumben kau pakai mobil rongsokan ini?”

“Ya, Gola. Barangkali untuk terakhir kalinya. Niatku memang mau membuang mobil ini. Dijual pun, nggak ada yang mau beli….”

Sementara itu, Hola belum selesai dengan “cerita”-nya, Gola sudah mulai mendengkur. Jelas, karena ia kekenyangan.

Hola menoleh ke arah Gola, ia sudah tertidur lelap, suara dengkurnya makin stereo! Pelan-pelan Hola mengendarai mobilnya menuju Kali Ciliwung. Lalu sarnbil keluar cepat dari mobilnya, ia mendorong mobilnya ke dalam kali, dan…. Jebbbuur!!! “Neki kara dariya me dala—berbuat baik dan buang ke dalam kali!!!”

Demikian pemahaman harfiah Hola.

Tololkah Hola? Bukan, bukan tolol. Hola tidak tolol. Ia cerdik, licik. Hola mengartikan petuah dari riwayat Hatim Tai sesuai dengan keinginannya. Keinginannya dari dulu memang adalah mencelakakan Gola, kalau bisa sampai mampus. Kekerasan itu belum diselesaikannya, tapi sudah mau mempraktikkan kebajikan. Demikianlah jadinya.

Kita tidak lebih baik dari Hola.

Banyak di antara kita mengartikan Yoga, atau apa saja, sesuai dengan keinginan kita. Tidak ada niat, tidak ada keinginan untuk memahami arti Patanjali.

“Patanjali? Apa itu?” tanya seorang praktisi Yoga di tanah air, yang mengaku sudah 32 tahun mempraktikkan Yoga. “Hidup saya ini boleh dibilang Laku-Yoga.”

Tapi, ia tidak mengenal Patanjali, dan ternyata tidak pula mengenal petuah-petuahnya. Yang diartikannya sebagai Yoga adalah kepala di bawah, kaki di atas selama sekian menit setiap hari. Titik.

Semoga kita tidak menjadi seperti itu.

Semoga kita berupaya memahami Yoga sebagaimana dimaksud oleh Bapak Yoga, Guru Besar Patanjali, Sang Begawan. Semoga kita tidak terjebak dalam permainan pikiran kita, yang selalu mencari sesuatu yang bersifat instan dan gampang!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Dalam FB:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s