Renungan Diri: Kenikmatan Keterikatan Kekhawatiran Hanya Ungkapan Mind, Lampauilah!

Sifat-sifat dasar manusia juga berkaitan erat dengan mind

buku narada bhakti sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

Dengan (menghindari keramaian, dan) menyepi (di dalam kehenjngan diri);

tidak lagi terikat dengan (kenikmatan) tiga dunia,

dia terbebaskan dari pengaruh sifat-sifar dasar manusiawi.

dan (terbebaskan pula) dari keinginan untuk memiliki atau mempertahankan sesuatu.

Narada Bhakti Sutra 47

 

Untuk menyepi di dalam keheningan diri, kita tidak perlu menghindari keramaian Jalan Thamrin atau Jalan Sudirman. Yang harus dihindari adalah “keramaian pikiran”. Dan ”keramaian pikiran” belum tentu terhindari, meski kita menyepi di lereng Gunung Lawu.

Saya bertemu dengan sekian banyak orang yang mengaku “rajin” meditasi di lereng-lereng gunung. Ada yang bermeditasi untuk memperoleh kekuatan. Ada yang menginginkan rezeki, jodoh dan sebagainya.

Itu sebabnya, Narada harus mempertegas apa maksud dia dengan “menyepi”. Bila anda menyepi untuk tujuan-tujuan tertentu, jelas anda sedang mengejar keramaian dan keributan. Anda belum menyepi, belum bermeditasi.

Seorang meditator adalah seorang pencinta. Cinta tanpa syarat, tak terbatas. Dia seorang pengasih. Kasih sejati, kasih Ilahi. Kenikmatan tiga dunia pun sudah tidak bisa mengikat dirinya.

Apa pula yang dimaksud dengan tiga dunia? Dalam tradisi India kuno, alam semesta dibagi dalam 3 bagian utama. Bhu atau Bumi. Bhuvah atau alam di bawah ranah. Svaha atau alam di atas bumi, di luar bumi. Tiga bagian utama itu kcmudian dibagi lagi dalam sekian sub-bagian.

Tiga Loka atau tiga dunia, tiga alam, bisa juga diterjemahkan sebagai tiga masa — masa lalu, masa kini dan masa depan.

Seorang meditator, seorang pencinta, tidak terikat dengan kenikmatan tiga dunia. Dia tidak mencintai karena ingin masuk Surga atau karena ingin jiwanya diselamatkan. Dia mencintai karena cinta itu sendiri. Dia tidak perlu diberi iming-iming Surga di mana dirinya akan dilayani oleh bidadari-bidadari cantik. Dia tidak tertarik dengan sungai-sungai susu, madu dan arak yang mengalir di sana.

Seorang peserta meditasi pernah ditakut-takuti oleh scorang rohaniwan, “Sekarang sih tak apa. Mau belajar meditasi, yoga, tao, sufi, silakan. Di sana nanti, baru tau rasa. Tidak dapat tempat. Kalian-kalian ini akan berada di luar pintu sampai hari kiamat.”

Seorang pencinta tak akan terpengaruh oleh intimidasi semacam itu. Dia juga tidak terpengaruh oleh “apa kata Anand Krishna”. Anand Krishna tidak memberi harapan. Anand Krishna mengajak anda untuk mengalami sesuatu yang indah — saat ini juga, sekarang dan di sini. Dan anda tidak perlu mempercayai Anand Krishna untuk sesuatu yang anda alami sendiri.

Yakinilah pengalaman diri. Pengalaman yang tak terungkapkan dan tak terjelaskan; juga tidak dapat dipertahankan, sehingga anda harus memperbaharuinya setiap hari — setiap menit, setiap detik.

Dan untuk memperbaharui pengalaman itu, anda tidak membutuhkan siapa-siapa. Anda harus mengerjakannya sendiri. Keberhasilan anda memperbaharui pengalaman itu, sepenuhnya tergantung pada upaya diri.

Yakinilah kemampuan diri. Percayailah potensi diri untuk mencintai tanpa syarat, tanpa batas. Dalam ketidakterbatasan itu, kita bertatap muka dengan Allah. Jiwa kita terjamah oleh Kasih-Nya.

“Dengan (menghindari keramaian, dan) menyepi (di dalam keheningan diri); tidak lagi terikat dengan (kenikmatan) tiga dunia, dia terbebaskan dari pengaruh sifat-sifat dasar manusiawi. Dan (terbcbaskan pula) dari keinginan untuk memiliki atau mempertahankan sesuatu.”

Tidak terikat dengan kenikmatan tiga dunia berarti hidup tanpa harapan, tanpa rasa khawatir. Sesungguhnya yang menikmati itu siapa? Yang berharap itu siapa? Yang merasa khawatir itu siapa?

Adakah kenikmatan yang bersifat universal? Adakah harapan dan rasa khawatir yang bersifat universal pula?

Apa yang kita nikmati, belum tentu dinikmati orang lain. Apa yang kita harapkan dan khawatirkan, belum tentu menjadi harapan dan kekhawatiran saudara kandung kita. Kenikmatan, kekhawatiran berasal dari mind. Lain mind, lain pula referensi tentang kenikmatan , kekhawatiran dan harapannya.

………..

Ada kisah menarik sepanjang 5 halaman di halaman 191-195 yang tidak kami kutip, silakan baca sendiri di buku terkait.

……….

 

Yang menuntut kenikmatan indra adalah mind. Keinginan, keterikatan dan apa yang kita anggap cinta selama ini, semua adalah expressions of mind, ungkapan-ungkapan mind.

Sifat-sifat dasar manusia juga berkaitan erat dengan mind. Sifat tenang, sifat aktif dan sifat malas sebagaimana pernah kita ulas dalam Bhagavad Gita bagi Orang Modern, Iahir dari rahim mind. Melampaui ketiga sifat ini berarti melampaui mind. Atau sebaliknya, melampaui mind berarti melampaui ketiga sifat dasar itu.

Sutra ini harus dibaca ulang beberapa kali:

“Dengan (menghindari keramaian, dan) menyepi (di dalam keheningan diri); tidak lagi terikat dengan (kenikmatan) tiga dunia, dia terbebaskan dari pcngaruh sifat-sifat dasar manusiawi. Dan (terbebaskan pula) dari keinginan untuk memiliki atau mempertahankan sesuatu.”

Bebas dari keinginan untuk memiliki relatif mudah. Enough is enough: ”Saya sudah punya tabungan, beberapa rumah, kendaraan, anak-anak sudah besar dan sudah berkeluarga.” Dan kita bisa terbebaskan dari keinginan untuk memiliki sesuatu.

But what happens, apa yang terjadi bila tabungan saya ciut karena nilai tukar rupiah dengan dollar merosot terus? Apa yang terjadi bila rumah diambil orang atau terbakar dalam kerusuhan dan asuransi menolak klaim kita? Apa yang terjadi bila anak atau cucu meninggal dunia?

Keinginan untuk memiliki masih bisa diatasi, tetapi keinginan untuk mempertahankan sulit diatasi. Padahal dua-duanya sama. Yang ingin kita miliki dan ingin kita pertahankan berada di luar diri. ]adi, kesadaran kita masih mengalir keluar. Belum beralih ke dalam. Bila kesadaran kita sudah beralih ke dalam, keinginan untuk memiliki dan mempertahankan akan sirna, hilang, lenyap.

Aku sudah memiliki “diri”. Apa yang dimiliki diri bisa hilang, tetapi “diri” tidak bisa hilang. Ada “aku”, ada pula keberadaan diri-“ku”. Lalu, apa pula yang harus kupertahankan? Sesuatu yang tidak bisa hilang tidak perlu dipertahankan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s