Renungan #Yoga Patanjali: Lepas Pengaruh Dualitas dengan Mengatur Energi Kehidupan lewat Napas

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

pracchardana-vidharanabhyam va pranasya

“Atau, dengan cara mengembuskan dan menahan Prana atau Energi Kehidupan (dengan mengatur napas).” Yoga Sutra patanjali I.34

 

Ini boleh dikata adalah cara for dummies.

Jika sulit memahami dan melakoni cara sebelumnya, sadhana sebelumnya, maka inilah cara alternatif.

 

PRANAYAMA ATAU PENGATURAN ENERGI KEHIDUPAN LEWAT NAPAS.

Tujuannya sama, yaitu melenyapkan segala kakacauan dari citta, dari benih-benih perasaan dan pikiran. Mengatasi segala halangan dalam penjernihan citta—itulah tujuannya.

Tujuan ini, hendaknya, tidak pernah terlupakan.

Pranayama bukanlah sekadar latihan pernapasan untuk mengatasi berbagai penyakit dari flu biasa hingga kankerganas. Bukan, bukan hanya untuk menenangkan diri ataumengatasi emosi. Panayama adalah Pengaturan Energi Kehidupan atau Prana lewat berbagai latihan pernapasan. Satu di antaranya yang paling populer dan merupakan dasar, fondasi bagi latihan-latihan lainnya dijelaskan dalam sutra ini.

Mari kita membaca ulang sutra ini.

PRACCHARDANA BERARTI “PENGEMBUSAN” dan Vidharanabhyam berarti “Menahan”. Lalu, di manakah “Penarikan” Prana? Di mana penarikan napas?

Kita mesti rnemahami maksud Patanjali.

Pengembusan napas tentu tidak ada tanpa Prana yang hendak diolah, energi-kehidupan yang hendak diatur, tidak akan bisa diatur tanpa penarikan napas terlebih dahulu.

Patanjali hendak menyampaikan bahwa adalah pengembusan napas dan penahanan yang mesti “diperhatikan”—diolah. Setelah itu, penarikan terjadi sendiri secara otomatis.

CONTOH: SEORANG PENDERITA ASMA “TERASA” SULIT MENARIK NAPAS sehingga saat penyakitnya kambuh, ia butuh semprotan untuk melegakan saluran napas. Demikian, sesungguhnya kita hanya bertindak sesuai dengan simtom yang dirasakan oleh fisik. Padahal sesak napas itu adalah akibat dari suatu kekacauan yang terjadi pada tingkat pikiran serta perasaan.

Pada tingkat fisik, kekacauan awal terjadi pada pengembusan atau pembuangan napas. Jika pembuangan napas sempurna, penarikan napas tidak menjadi masalah lagi.

Sebab itu, pembuangan dan penghentian—berarti pengendalian napas secara sempurna—adalah solusi yang lebih tepat bagi para penderita asma. Semprotan pelega, oksigen, dan sebagainya hanya alat bantu darurat. Setelah merasa lega hendaknya seorang penderita asma melakukan pelatlhan yang lebih memperhatikan pembuangan dan penghentian napas—dalam pengertian, pembuangan napas sedikit lebih panjang, dibanding dengan penurikan, tentu tanpa memaksakan diri.

Setelah itu, barulah mengatasi penyakit dari akarnya, dari tingkat manah—pikiran yang kacau, emosi yang bergejolak dan tak terkendali. Inilah penyebab utama segala macam penyakit, termasuk asma.

Penyakit-penyakit yang dianggap vital ataupun yang disebabkan oleh bakteri, sesungguhnya tidak dapat menyerang jika daya tahan tubuh kita baik. Daya tahan tubuh, lagi-lagi,menjadi baik dengan terkendalinya manah, gugusan pikiran dan perasaan.

Mau mencari solusi yang lebih jitu?

Kendalikan benih-benih pikiran dan perasaan ketika baru berupa potensi yang dapat memengaruhi manah—berarti pada tingkat citta.

Kembali pada teknik yang diberikan oleh Patanjali.

buku yoga sutra patanjali alternate nostril breathing

Ilustrasi Alternate Nostril Breathing

PEMBUANGAN CO2 ATAU PENGEMBUSAN NAPAS bukan saja penting bagi manusia, namun juga bagi keberlangsungan hidup di planet bumi ini.

Global Warming atau Pemanasan Global adalah akibat dari pembuangan CO2 yang tidak baik. Emisi karbon atau CO2 yang berlebihan menciptakan lapisan gas yang menutupi atmosfer—demikian untuk mempermudah pemahaman kita—sehingga panas matahari, panas yang disebabkan oleh iklim semua tertahan, tidak bisa menembus lapisan karbon secara sempurna. Sehingga terjadilah peningkatan panas bumi.

Sesungguhnya lapisan karbon pun dibutuhkan. Jika sama sekali tidak ada lapisan karbon, tidak ada hawa panas yang tertahan sehingga setiap matahari “terbenam” suhu sebaglan planet bisa drop, bisa turun hingga minus. Kita bisa mengalami musim dingin setiap hari. Celakanya, fenomena itu akan mengganggu pertumbuhan apa pun. Pertanian tidak dimungkinkan lagi. Baru menanam sesuatu di bawah terik matahari pada pagi hari, malamnya sudah dingin bukan main. Stres berlebihan seperti itu dapat menjadi bencana bagi kehidupan dan keberlangsungan hidup.

 

BERARTI, PENARIKAN NAPAS TIDAK HANYA PENTING BAGI MANUSIA, tetapi juga bagi planet kita.

Planet Venus yang sedang terbakar Dengan suhu yang sangat tinggi tidaklah bersahabat dengan kehidupan “kita”—kehidupan sebagaimana kita memahaminya. Manusia belum bisa tinggal di Venus. Belum memiliki teknologi untuk beradaptasi dengan suhu setinggi itu; atau untuk menurunkan suhunya sehingga siap dihuni.

Venus sering dikaitkan dengan Cinta.

Sesungguhnya, kaitannya adalah dengan berahi. Sebab itu, leluhur kita rnengartikan berahi atau kama dengan agni, api. Kamagni, Api Berahi adalah hadiah Venus. Setiap hari Valentine, sesungguhnya kita memuja-muji dan merayakan berahi dengan mengagungkan warna merah muda. Merah Muda Berahi memang tidak berupa api yang membakar, tapi cukup untuk menghanyutkan. Bagaimanapun, merah muda atau pink masih tetap merupakan wujud berahi.

Padahal Santo Valentino (sekitar abad kedua) yang hidupnya menjadi inspirasi bagi perayaan Hari Valentine, sama sekali tidak mengagungkan berahi. Ia menjalani hidupnya dengan penuh cinta, penuh kasih. Dan cinta-kasih adalah pemadaman nafsu, bukan pengumbarannya.

 

ARE YOU GETTING IT?

Dengan mengatur pembuangan napas, kemudian pause berhenti sebentar (sesaat), dan membiarkan penarikan napas terjadi lagi, lalu berhenti sejenak (sesaat saja), buang lagi, berarti kita tidak hanya mengatur napas, tapi mengatur prana, energi kehidupan—supaya CO2 berupa Api-Berahi atau Kamagni tidak berlebihan. Inilah tujuannya.

Sehingga patanjali pun, dengan penuh keyakinan, mengatakan, “Jika belum bisa menumbuhkembangkan Kasih, Persahabatan, Keceriaan, dan sebagainya, maka lakukan pengolahan prana lewat pengaturan napas.”

Silakan baca ulang tentang menumbuhkembangkan Kasih, Persahabatan, Keceriaan pada catatan blog:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/10/27/renungan-yoga-patanjali-dualitas-benih-perpecahan-adanya-aku-dan-kamu-sumber-penderitaan/

 

Patanjali adalah Saintis Jiwa, the Soul-Scientist, the Scientist of the Soul. Bukan Ahli Jiwa dalam pengertian Psikolog atau Psikiater. Para psikolog dan psikiater yang belum mendalami, belum mengambil spesialisasi “Transpersonal” untuk melepas manah atau gugusan pikiran dan perasaan, ego, dan sebagainya, masih berkutat dengan lapisan-lapisan kesadaran yang justru terkendali oleh manah dan ego, oleh nafsu, oleh berahi. Hanya segelintir—yang telah mendalami Transpersonal Psychology—yang memasuki wilayah Jiwa atau Soul.

 

BEGITU KITA MELAMPAUI “PERSONAL ” atau Pribadi—pikiran pribadi, perasaan pribadi, ego pribadi, keinginan dan obsesi pribadi, singkatnya segala pengalaman dan segala sesuatu yang bersifat pribadi atau personal—barulah kita memasuki Wilayah Jiwa atau Soul, yang individualitasnya, personalnya justru merupakan ilusi. Soul atau Jiwa lndlvldu hanyalah sebuah sebutan, seperti ombak, seperti sinar matahari. Padahal, sesungguhnya ombak tidak terpisahkan dari lautan. Sinar tidak terpisahkan dari matahari. Individual Soul atau Jivatma tidak terpisahkan dari Supreme Soul, Supreme Being, atau Paramatma, Sang Jiwa Agung.

Saat terjadi pause atau “penghentian napas sesaat” setelah pembuangan atau pengembusan napas itulah, individualitas terlepaskan, mind dan ego terlepas, dan Jiwa menyatu dengan Sang Jiwa Agung.

Untuk itu, ada latihan Anuloma Viloma atau Alternate Nostril Breathing yang merupakan penjabaran dari apa yang disarankan oleh Patanjali dalam sutra ini. Latihan ini, bersama dengan latihan-latihan penunjang lainnya diberikan di bagian akhir ulasan kita.

 

SARAN SAYA.

Lakukan latihan tersebut sesuai dengan petunjuk yang diberikan, kemudian baru Ianjutkan penyelaman sutra berikutnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s