Renungan Diri: Mengembangkan Ke-Visnu-an dalam Diri, Makna 4 Tangan Visnu

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

|| Sang Hyang Mahajnana 50 ||

svapnasya devatācyuto divyarūpaścaturbhujaḥ

śaṅkhacakragadāhastaḥ khagendravaravāhanaḥ

 

Svapnapada atau Keadaan Mimpi adalah alam

Viṣṇu, sang Pemelihara Ilahi Bertangan Empat.

Tiga Tangan-Nya memegang śaṅkha atau cangkang keong;

cakra atau cakram; dan gadā atau gada.

 

“Tunggangan-Nya adalah Garuḍa yang perkasa, raja para elang dan rajawali.”

 

ATRIBUT-ATRIBUT VISNU MELAMBANGKAN semua hal yang kita butuhkan untuk hidup berkesadaran dan berkemanusiaan.

Sankha atau cangkang kerang melambangkan Ucapan yang Bertenaga, Kuat, namun Manis. Tegas tapi Lembut.

Cakra atau Cakram adalah perlambang gabungan Ruang dan Waktu. Sebagaimana Master saya selalu berkata, “Jangan menyia-nyiakan waktu karena waktu bukan sekadar kekayaan, sebagaimana dipercaya banyak orang, sesungguhnya waktu adalah Tuhan. Waktu itu Ilahi.”

Mereka yang menyia-nyiakan waktu, disia-siakan waktu. Cakram tersebut mengingatkan kita untuk menjadi efisien dalam segala hal yang kita kerjakan; untuk menjadi produktif sekaligus kreatif. Di saat yang sama, hendaknya kita juga ingat bahwa Roda Waktu tidak pernah berhenti. Ia terus berputar. Marilah kita tidak kehilangan kejernihan pikiran; marilah kita tidak menjadi arogan saat kita bergerak ke atas. Dan, janganlah berkecil hati saat bergerak ke bawah.

Kita tidak menggunakan kata “jatuh dan bangun”, karena kata-kata tersebut memiliki konotasi yang keliru. Ketika kita bergerak ke bawah, kita tidak jatuh. Ke mana kita bisa jatuh? Kita hanya bergerak ke bawah untuk kemudian bergerak ke atas lagi.

Jika kita memahami Pennainan Kehidupan, Permainan Waktu — Kalacakra atau Roda Waktu—kita tidak akan pemah bermuram-durja. Apa pun yang terj adi, “Ini juga akan berlalu!”

 

GADĀ ATAU GADA tidak menyiratkan kekerasan. Ia menyiratkan kesiapan untuk menghadapi segala jenis tantangan.

Dengan kata lain, ketika kita menghadapi orang-orang yang hanya berbicara dalam bahasa kekerasan; ketika semua balasan non-kekerasan kita tidak memberikan hasil; maka kita tidak memiliki pilihan lain selain menjawab mereka dengan bahasa yang mereka pahami.

Non-kekerasan tidaklah sama dengan sikap pengecut. Non-kekerasan tidak membuat kita kabur dari medan perang kehidupan. Non-kekerasan malah memberi kita kekuatan untuk menghadapi segala tantangan.

 

KITA MUNGKIN TELAH MENDENGAR KISAH TENTANG ULAR DAN SEORANG BIJAK yang diceritakan sang Master Agung, Sri Ramakrishna Paramhansa.

Seekor ular yang menggigit para pelancong dan anak-anak yang tidak bersalah diingatkan oleh seorang bijak, seorang resi, akan konsekuensi karma. Sang ular tercerahkan dan ia berhenti menggigit.

Namun sebagai hasilnya, ia menjadi sasaran empuk dari anak-anak dan pelancong yang dulunya takut padanya. Sang ular dipukul dengan tongkat, ia berdarah-darah dan menjadi sangat lemah.

Beberapa waktu kemudian, sang bijak yang menasihati ular tersebut untuk berhenti menggigit, lewat dan kaget rnelihat keadaan sang ular yang menyedihkan, “Apa yang terjadi, kawanku?”

Sang ular menjawab, “Aku rnenuruti nasihatmu, Tuan, dan mereka semua yang awalnya takut padaku, sekarang memukuliku dengan tongkat, melempariku dengan batu…..”

Sang bijak mengatakan pada ular tersebut, “Aku memang menasihatimu untuk tidak menggigit, tidak mencelakai orang lain, tetapi untuk membela diri, kau boleh mendesis agar mereka menjauh.”

 

KETIKA BERHADAPAN DENGAN MEREKA YANG MEMILIKI SIFAT PENUH KEKERASAN, silakan mendesis untuk menj auhkan mereka. Jika mereka masih tetap mengganggu, maka tunjukkan gadā atau gada Anda. Tunjukkan kekuatan Anda, tenaga Anda, kesiapan Anda untuk menghadapi segala tantangan.

Jika itu pun gagal, maka Anda tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat gadā atau gada. Jangan menghindar, jangan lari — hadapi tantangan tersebut!

buku dvipantara yoga sastra visnu 4 lengan

Ilustrasi Visnu

Saya teringat dengan suatu kejadian…..

 

MASTER KITA SELALU BERBICARA TENTANG CINTA KASIH, NON-KEKERASAN. Salah satu dari kami, murid yang bodoh, menerjemahkannya sebagai “Cinta Kasih adalah satu-satunya solusi”. Ia mencetak apa yang ia pahami sebagai kata-kata bij ak, pada kaus dan dan menyebarkan kaus tersebut.

Ketika Master melihatnya, beliau tergelak, “Apa yang akan kau lakukan bila kau menghadapi orang-orang yang tidak memahami bahasa cinta kasih? Bagaimana jika mereka tetap menyakiti dirimu? Cinta Kasih sebagai satu-satunya solusi adalah untukku, kawan. Aku tidak boleh mengangkat senjata, aku harus menerima semua pukulan rnereka — tetapi ini bukan jalan yang tepat untuk kalian.

“Belaj arlah dari teladan dalam kisah Mahabharata. Krsna tidak mengangkat senjata. Ia adalah kusir Arjuna, bisa dikatakan tanpa pertahanan sama sekali. Tetapi, Ia tidak menasihati Arjuna untuk melepaskan senjata. Malahan, Ia menasihati Arjuna untuk menghadapi musuh-mushnya, menghadapi kebatilan.

“Kalian harus bertindak seperti Arjuna.

Bagi kalian, cinta kasih haruslah menjadi solusi terbaik, tapi bukan satu-satunya solusi. Jika cinta tidak berhasil, maka untuk membela diri, untuk membela kebajikan, untuk membela saudara-saudara dalam sarigha – kalian harus siap untuk menghadapi segala jenis tantangan!”

Berikutnya…..

 

TANGAN KEEMPAT VISNU BERADA DALAM SIKAP ABHAYA MUDRA; “Jangan takut! Bila Aku di sini?” demikian kata Master.

“Orang-orang hendaknya tidak takut pada kalian,” demikian lanjut Master,  “mereka hendaknya bekerja untuk kalian dan dengan kalian karena cinta.”

Pada kesempatan yang lain, beliau menjelaskan, “Kadang menjadi keharusan untuk mendisiplinkan anak-anak kalian, staf kalian, bawahan kalian. Kalian tidak boleh menghindar dari tindakan disiplin tersebut. Tindakan penegakan disipilin juga merupakan manifestasi dari cinta kasih. Tentu saja niat kalian haruslah jemih dan murni. Kalian tidak mendisiplinkan seseorang dengan benci. Hendaknya kalian melakukannya dengan cinta.”

Terakhir dan sama pentingnya,

 

TUNGGANGAN VISNU, YAITU GARUDA—melambangkan kegesitan dan kecermatan. Kelambanan dan kemalasan bukanlah karakteristik Visnu. Visnu senantiasa terlibat dalam dan dengan urusan dunia, dalam urusan semesta. Ialah sang Pemelihara, sang Pelindung, sang Penjaga.

Garuda mengenali Tuannya.

Ia tidak menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Ia adalah contoh eksekutif teladan. Kita harus belajar darinya, dari teladan yang ditunjukkannya.

Sekali lagi, Kegesitan dan Kecermatan — ini adalah dua kualitas penting dari Garuda.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Dalam FB:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s