Pentingnya Membuka Diri bagi Manusia Indonesia yang Lahir Setelah Tahun 1970

buku ishq ibaadat

Cover Buku Ishq Ibaadat

Merenungkan perjalanan hidup masa lalu

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Om, May we all be protected; May we all be nourished; May we work together with great energy; May our intelect be sharpened; Let there be no Animosity amongst us; Peace to One and All.

 

Merenungkan perjalanan hidup

Saat bepergian dengan istri menengok anak di Boston, saya merenung ulang, mengapa telah terjadi perubahan pandangan hidup yang sangat besar dalam diri saya? Mungkin tugas belajar di University of Manitoba, Canada 1985-1987 telah mempengaruhi diri saya. Apakah tugas belajar yang hampir serupa juga akan mempengaruhi diri anak saya 30 tahun sesudahnya, yang saat ini sedang tugas belajar di Boston University? Who knows? Itu sejarah pribadi dirinya…..

Pertemuan dengan para mahasiswa dari berbagai negara di Canada waktu itu membuat saya merenung. Kalau saya lahir di Amerika, India atau China apakah agama yang saya anut masih sama? Kalau untuk masuk surga harus dengan kriteria yang sama, apakah adil? Ada orang yang berkeyakinan agama tertentu sejak kecil, dan  ada yang sampai tua bahkan mengenal agama yang dapat menyelamatkan pun tidak, mengapa mereka ada yang akan masuk surga yang abadi, dan ada yang akan merasakan neraka selama-lamanya?

Sepulang dari tugas belajar, saya juga pernah bertanya pada beberapa teman yang dekat, yang bisa diajak berbicara dari hati ke hati. Ada anak dari keluarga berada, lahir di keluarga yang harmonis, paham bahasa kitab suci; di lain pihak ada anak lain yang lahir di tempat lokalisasi dan tidak tahu siapa ayahnya dan tidak mengenal pendidikan agama. Mengapa anak yang satu akhirnya masuk surga, sedangkan anak yang lain, yang takdirnya berlainan harus masuk neraka? Bukan salah si anak untuk lahir di keluarga harmonis atau keluarga nggak jelas, tetapi mengapa yang satu akan abadi di surga sedang yang lain abadi di neraka?

Pengalaman tersebut pernah saya tulis dalam: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2014/10/05/interfaith-perkawinan-bagian-6-perjalanan-dari-aku-menjadi-kita-dari-pasangan-hidup-menjadi-sahabat-dalam-tugas-suci/

 

Kemungkinan besar pertanyaan-pertanyaan dalam diri tersebut, membuat saya membuka diri untuk membaca buku-buku tentang spiritual, bagaimana menghormati semua agama dan kepercayaan serta membuat menyimak banyak artikel tentang adanya reinkarnasi. Tanpa saya sadari saya telah berani membuka diri, yang tadinya saya batasi sendiri, bahwa saya tidak perlu memahami hal-hal yang tidak sesuai dengan kepercayaan saya. Bukankah saya sejatinya adalah manusia yang berhak berpikir bebas dan tidak perlu mengungkung diri dalam pandangan-pandangan lama?

 

Perlunya membuka diri

Pada tahun 2004 saya mulai datang ke latihan meditasi Anand Ashram di Anand Krishna Center Semarang dan selanjutnya banyak membaca buku-buku karya Bapak Anand Krishna.

Setahun kemudian, saya membaca buku Ishq Ibaadat yang menjelaskan pentingnya membuka diri. Setelah itu saya semakin meyakini kebenaran buku-buku Tulisan Bapak Anand Krishna dan buku-buku tersebut saya jadikan panduan hidup saya.

…….

“Tanpa membuka diri, kita tidak dapat belajar. Mau kita tampung di mana pelajaran yang kita peroleh? Membuka diri tidak berarti membuka otak. Tanpa dibuka pun sesungguhnya otak kita sudah terbuka. Keterbukaan otak terhadap apa saja tidak menjamin penerimaan. Otak bisa terbuka, dan bisa tidak menerima. Kemudian, ia pun dapat membenarkan tindakannya sebagai hasil ketajaman atau kecerdasannya yang membuat dia makin kritis.

“Karena menganggap kurang logis dan tidak masuk akal, otak kita bisa menolak apa saja, termasuk apa yang sesungguhnya amat penting bagi ‘diri’ kita-kita, bagi perkembangan jiwa kita, bagi evolusi batin kita.

“Membuka diri berarti membuka jiwa. Bila jiwa terbuka, otak, hati, semuanya serentak ikut terbuka. Tidak perlu membuka satu per satu.

“Kita bisa membuka jiwa cukup dengan niat: Aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru, ulangi niat itu dalam hati: Aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku….. dan lihat akibatnya.

Saat melihat, atau menemukan sesuatu yang baru, ulangi niat itu. Dengan hanya berniat untuk mengulangi niat saja, sesungguhnya kita sudah melangkah ke dalam keterbukaan diri….. cobalah!” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Ishq Ibaadat, Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bukan hanya buku-buku, terhadap nasihat orang pun kita harus membuka diri.

“Orang bijak mendengarkan pendapat orang lain. Jangan sombong, bukalah dirimu, terimalah nasihat yang benar. Untuk mendengarkan pendapat orang lain, nasihat orang lain, anda harus membuka diri—dan membuka diri sepenuhnya. Tidak bisa setengah-setengah.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku i ching

Cover Buku I Ching

 

Belajar Spiritualitas

“Spiritualitas adalah Hal Baru Baik bagi Manusia Barat, maupun bagi……

“Manusia Indonesia Modern. Ketika saya mengatakan ‘Manusia Indonesia Modern’, khususnya dalam konteks ini, maksud saya adalah manusia-manusia Indonesia kelahiran setelah tahun 1970-an. (Berarti semua anak-anak saya termasuk kategori Manusia Indonesia Modern, penulis). Manusia-manusia modern ini tidak memperoleh pendidikan spiritual, bahkan pendidikan budi pekerti atau universal human values pun tidak.

“Mereka memperoleh ajaran agama sesuai dengan agama yang dianut orangtuanya. Dan, pelajaran agama, seperti yang kita semua ketahui, hanya menyentuh akidah, sejarah, Dan segala-sesuatu yang terkait dengan salah satu agama saja. Baik, saya tidak mengatakan tidak baik. Tetapi hal itu berakibat Manusia Indonesia Modern sulit mengapresiasi ajaran dari agama-agama lain, karena ia memang tidak tahu.

buku sanyas dharma

Cover Buku Sanyas Dharma

“Pendidikan spiritual justru memperkaya pendidikan agama. Selain menjalani agamanya, jika seseorang memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran-ajaran agama lain, ia menjadi seorang spiritualis. Ia bisa melihat esensi setiap agama, yang sesungguhnya sama. Setiap agama menjunjung tinggi nilai-nilai universal, nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.

“Tidak ada upaya mencampuradukkan agama. Agama tidak bisa dicampur aduk. Pendidikan spiritual bukanlah pendidikan tentang akidah dan ritual keagamaan yang adalah porsi pendidikan agama. Pendidikan spiritual adalah pendidikan budi pekerti, sebagaimana dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara. Sayangnya cetusan Beliau itu terlupakan selama beberapa dasawarsa terakhir.

“Nah, untuk Pendidikan Budi Pekerti pun kita membutuhkan guru, lalu? Apa salahnya dengan Guru Spiritual?” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous, happy and ever free from illness. May all experiences spiritual upliftment, and never ever suffer. Peace to One and All.

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s