Sekadar Memuaskan Keingintahuan, Melakoni Meditasi atau Merasakan Guyuran DMT?

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Om, May we all be protected; May we all be nourished; May we work together with great energy; May our intelect be sharpened; Let there be no Animosity amongst us; Peace to One and All.

buku kearifan mistisisme

Cover Buku Kearifan Mistisisme

Terbersit pertanyaan dalam diri, apakah berbagi kutipan-kutipan buku berharga akan bermanfaat bagi para pembaca? Apakah pembaca hanya akan bertambah pengetahuan dan meningkat intelektualitasnya saja? Apakah cukup “memuaskan” para pembaca dengan mengetahui apa itu meditasi atau berupaya agar mereka tergerak melakoni apa meditasi itu? Apakah cukup menjelaskan apa itu DMT seperti dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Kearifan Mistisisme, Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) ataukah membuat para pembaca berkeinginan melakoni bagaimana caranya mengalami guyuran DMT sehingga keadaraan kita meningkat dan bukan hanya intelektualitasnya saja yang meningkat?

Pertanyaan itu mencuat saat mengikuti Program Yoga Sadhana. Dan ternyata sebelas tahun yang lalu pada tahun 2005, hal tersebut sudah dijelaskan dengan sangat jelas pada kutipan berikut:

 

Melakoni, mengalami bukan hanya sekadar memuaskan keingintahuan

Sekian banyak orang yang datang dan bertanya, “Apa itu meditasi?” Sang Guru membisu: ia tidak mau jawab.

Seorang murid bertanya, “Kenapa Guru, kenapa kau membisu? Apa salahnya menjelaskan apa itu meditasi?

Sang Bhagavan menjawab, “Apa gunanya menjelaskan apa itu cahaya, kepada orang-orang buta?

Menjelaskan cahaya kepada orang buta justru dapat menyesatkan mereka. Sekadar pengetahuan sering kali membuat kita merasa sudah tahu, sudah melihat, padahal bagaimana seorang buta dapat melihat?

Kebutaan kita harus diobati dulu. Kemudian penjelasan tentang cahaya tidak penting lagi, tidak dibutuhkan lagi. Kita dapat melihat sendiri.

Saat ini, kita terbebani oleh penjelasan, oleh pengetahuan. Dan, kita berpikir bahwa sekadar pengetahuan sudah cukup. Padahal, bagi seorang buta, pengetahuan tentang cahaya sungguh tidak cukup, bahkan tidak berguna. Pengetahuan tentang meditasi pun tidak berguna, apalagi pengetahuan tentang cinta—tak bermakna. Sang buta harus diobati, kemudian meditasi akan terjadi sendiri, cinta akan bersemi sendiri.

Kemudian, masih bersama Sang Guru, siswa tadi melihat ada seseorang yang datang. Dia adalah seorang pencari, seorang talib, bukan talib-taliban, tetapi Talib Sejati, Talib yang tidak menodai makna Talib, “Aku sulit bermeditasi, teach me how to meditatate. Ajarkan padaku, bagaimana bermeditasi….”

Dan, Sang Guru pun melirik ke siswanya, “Ia siap….” Kemudian ia memanggil orang itu, “Datanglah, dekati aku….”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Ishq Allah, Terlampauinya Batas Kewarasan Duniawi & Lahirnya Cinta Ilahi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku ishq allah

Cover Buku Ishq Allah

 

Pentingnya ikut Program Yoga Sadhana

Itulah pentingnya ikut Yoga Sadhana, bukan hanya ingin tahu apa itu Yoga Sadhana, tetapi bagaimana merasakan, mengalami pengalaman yang tak terjelaskan. Mungkin kita hanya sekadar tahu bahwa guyuran DMT akan terasa saat latihan rutin meditasi Seni Memberdaya Diri ataupun saat mengikuti Pesta Sindhi Sufi Mehfil? Tetapi untuk apa tahu kalau tidak mengalaminya sendiri? Untuk apa tahu kalau kita tidak melakukan meditasi secara rutin setiap hari, tidak mengalaminya sendiri? Membaca buku seyogyanya membuat kita melakoni apa yang diketahui, mempraktekkannya dalam kehidupan nyata sehari-hari.

 

Penjelasan Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja. Dulu, saya mengoleksi novel-novel misteri oleh beberapa penulis asing terkenal di masa 1970-an. Sekarang, belasan buku yang dulu saya anggap sangat baik itu, sudah tidak memiliki daya tarik lagi.

YOGA, MEDITASI, LAKU SPIRITUAL BUKAN SEPERTI ITU – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya. ‘

Hal lain yang penting adalah…..

Kehadiran seorang Sadguru – Walau semuanya dapat dipelajari secara otodidak – istilah yang sedang trend dan trendy, padahal seringkali memberi angin pada ego – sesungguhnya tidak ada, saya ulangi, tidak ada pengganti bagi belajar di bawah bimbingan seorang Pemandu Rohani. Bukan sekadar guru, tetapi Sadguru – Guru Sejati yang tidak berfungsi sebagai guru di sekolah atau ahli kitab – tapi sebagai guide, pemandu.

Selain itu, juga dibutuhkan suasana asram (ashram), padepokan tempat kita bisa berinteraksi dengan support group yang terdiri dari orang-orang sehati, para pencari kebenaran.

Ashram adalah transit point antara alam ini, dunia ini dan alam roh, spirit, dunia sana. Namun, ada dunia lain di luar ashram, yang sisa-sianya ada juga di ashram, sebagaai residu; kotoran, debu dan pasir di bawah sandal kita sendiri yang terbawa ke ashram. Ego kita, kepicikan kita, iri hati dan kecemburuan kita, pun cinta monyet, ketertarikan semu, keterikatan, dan sebagainya – inilah debu dan kotoran yang dimaksud. Sebab itu, idealnya ketika memasuki ashram, kita melepaskan als kaki ego, mind, dan meninggalkan sampah-sampah itu diluar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

 

Penjelasan Sang Hyang Mahajnana 20

SEORANG MASTER YANG LAYAK membuat hidup muridnya gampang. Sādhana atau laku spiritual di bawah pengawasan dan bimbingan seorang guru spiritual yang layak menjadi begitu mudah – sahaja.

Seorang master yang layak adalah ia yang memiliki pengalaman pribadi langsung tentang sadhana dan pencapaian kesadaran. Ia telah melalui semua tahap yang perlu dilalui. Dan, ia tahu bahwa perjalanan ke dalam diri tidaklah sesulit apa yang awalnya terlihat.

Perjalanan tersebut terlihat sulit bagi mereka yang belum melakukannya, bagi mereka yang masih merencanakan, atau bahkan masih sibuk berbelanja, masih tidak yakin tentang model mana yang akan diinternalisasi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

2 thoughts on “Sekadar Memuaskan Keingintahuan, Melakoni Meditasi atau Merasakan Guyuran DMT?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s