Renungan Diri: Diperbudak Indra Hidup Kehilangan Makna, Indra Hanya Peduli Kenikmatan Ragawi

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

|| Mahajnana 3 ||

dasendriyaṇi suptani vayurganisca jagṛtaḥ

mano dasadisi gatam pṛthivyambuni jiryyataḥ

 

Thus, requested by Sri Kumara, and pleased with his sincerity, Batara Guru speaks:

“Know the Ten Senses – Five Sense Organs (Eyes, Ears, Nose, Mouth, and Skin) and

Five Senses of Perception (Seeing, Hearing, Smelling, Tasting, and Touching) – to be the agents of sleep.

 

“The State of Wakefulness is caused by Vayu, Air or Wind, and Agni or Fire Element.

It is the Air or Wind Element that enables human beings to breath.

This element resides in human beings as Praṇa or Life-Force.

 

“The Fire Element also helps the body digest the foods and other nutrients.

 

“The wandering in all ten directions – repetitive births and deaths –

is caused by Mana or the Mental/Emotional Composite, the Mind Domain.

Dreams are also created by this very mind.

 

“O Kumāra, know this body essentially made of earth and water elements to be perishable.

Even sweating is caused by the same elements.”

 

 

Demikian, diminta oleh Sri Kumara, dan senang dengan ketulusannya, Batara Guru berkata:

“Ketahuilah Sepuluh Indra – Panca Indra (Mata, Telinga, Hidung, Mulut, dan Kulit) dan Lima Indra Persepsi (Penglihatan, Pendengaran, Penciuman, Pencecapan, dan Perabaan) – sebagai penyebab tidur.

 

“Keadaan Jaga disebabkan oleh Vāyu, Udara atau Angin, dan Agni atau Elemen Api.

Adalah Udara atau Elemen Angin pula yang memungkinkan manusia bernapas.

Elemen ini berada dalam manusia sebagai Praṇa atau Life-Force atau Daya Hidup.

 

“Elemen Api juga membantu tubuh mencerna makanan dan gizi-gizi lain.

 

“Pengembaraan di sepuluh penjuru – kelahiran dan kematian yang berulang-ulang –

disebabkan oleh Mana, Gugusan Mental/Emosional atau Mind.

Mimpi juga diciptakan oleh mind yang sama.

 

“O Kumara, ketahuilah bahwa tubuh yang terbuat dari elemen tanah dan air ini dapat musnah.

Bahkan berkeringat pun disebabkan oleh elemen-elemen yang sama.”

 

DENGAN MENGIDENTIFIKASIKAN INDRA SEBAGAI PENYEBAB TIDUR, sang Master Agung memperingatkan sang murid, “Keadaan Tidur — Tidur Kebodohan – disebabkan oleh indra-indra tersebut.

“Ketika engkau membiarkan mereka terlepas tanpa kendali, walaupun engkau mungkin terlihat terjaga, sesungguhnya engkau tidak teljaga. Diperbudak oleh indra, manusia menjalani hidup yang tidak penuh dan tak bermakna, karena indra hanya peduli dengan kenyamanan dan kenikmatan ragawi, sementara tubuh ini terbuat dari lima elemen, dengan dua diantaranya – Tanah dan Air – sebagai mayoritas, adalah dapat musnah.”

 

TUBUH FISIK SUDAH MENUJU KEMATIAN SEJAK DALAM KANDUNGAN. Prosesnya tidak bisa dibalik. Tidak ada jalan untuk menghentikannya. Bahkan sebagai janin, bayi yang belum terlahirkan sesungguhnya telah memulai perjalanannya menuju kematian.

Di sini berkeringat dijelaskan sebagai bagian dari proses pembusukan. Lagi-lagi berkeringat bisa saja menyehatkan — setidaknya setelah berolahraga — namun, seseorang tidak bisa melarikan diri dari kematian, seseorang tidak bisa menghindari proses pembusukan. Tubuh fisik kita senantiasa berada dalam proses menuju kematian. Dengan kata lain, hidup dan mati bukanlah dua proses yang berbeda. Mereka adalah proses yang satu dan sama.

 

SANG MASTER, BATARA GURU JUGA MENJELASKAN MAKNA DARI ELEMEN API DAN UDARA ATAU ANGIN — adalah Elemen Api, Agni, yang membantu kita mencerna makanan.

Elemen Angin atau Udara — Vayu — membantu kita bernapas dan mengalirkan Daya Kehidupan, Prana, di dalam diri kita.

Ini semua terkait dengan fungsi Tubuh Fisik, dan Keadaan Jaga, Jaga secara Fisik. Ini bukanlah Keadaan Sadar, Sebagaimana dipahami oleh para psikolog konvensional.

Seseorang bisa saja dalam keadaan jaga, tetapi bertindak tanpa kesadaran.

Keadaan jaga tidak menjamin kesadaran atau tindakan berkesadaran. Ketika kita mencelakakan orang lain, ketika kita merusak alam, ketika kita menyalahgunakan sumber daya alam — kita bertindak tanpa kesadaran. Kita dalam keadaan jaga sepenuhnya — namun, tindakan kita bukanlah tindakan berkesadaran. Bertindak dengan kesadaran adalah bertindak dengan pengetahuan yang yang utuh, dengan kesadaran penuh akan konsekuensi dari setiap tindakan kita.

 

BERIKUTNYA, SANG MASTER MENJELASKAN TENTANG CARA KERJA MIND — adalah Mind, Mana atau Manasa, Gugusan Mental/Emosional yang membuat Jiwa berkelana ke sepuluh penjuru.

Adalah Mind yang menciptakan keterikatan dan mengikat Jiwa yang sesungguhnya bebas, dalam tubuh fisik, dengan ranah fisik. Demikian, ketika sebuah tubuh musnah, Jiwa mencari tubuh lain dan mengikatkan dirinya pada tubuh tersebut.

Dengan kata lain, Mind atau Lapisan Mental/Emosional menutupi Jiwa Individu atau Jivatma dengan hijab kebodohan; dengan keterikatan yang muncul akibat kebodohan tersebut.

Adalah Mind yang menyebabkan kelahiran kembali, Sehingga adalah alami ia pula yang menyebabkan kematian. Demikian siklusnya terus berlangsung selama Jiwa Individu tetap terikat dan terdelusi tentang Identitas Sejati-Nya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Jiwa Agung Hyang Ilahi.

 

KETAHUILAH, MIND SEBAGAI SEBAB DARI SEMUA MIMPI, Keadaan Mimpi.

Nah, ini bukan sekadar bermimpi “saat tidur”; ini juga tentang bermimpi “selagi terjaga”, melamun, membayangkan berbagai hal, berhalusinasi, dan lain-lain.

Semua yang disebutkan di atas, termasuk obsesi kita, dan kesan yang disebabkan oleh keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi di masa lalu serta segala harapan dan ekspektasi di masa depan — semuanya berasal dari Mind. Semuanya dipelihara oleh Mind.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

 

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s